
Setelah perdebatan panjang mengenai seragam sekolah, Frey akhirnya mengalah dan membeli seragam baru dengan baju yang besar dan rok panjang di bawah lutut. Sebenarnya dia tak ingin mengalah, hanya saja saat Josh mengaku hanya Josh yang boleh melihat pahanya membuat wajah Freesia bersemu merah, gadis itu senang saat Josh posesif padanya, bukankah artinya sebentar lagi Josh akan mencintainya?
Kini sepasang suami istri kontrak itu tengah berada di bioskop setelah sebelumnya mereka makan siang dan mengitari pusat perbelanjaan.
"Frey, film apa yang ingin kau tonton?" tanya Josh seraya menunjuk ponster film yang sedang di putar di bioskop tersebut.
"Sepertinya yang itu bagus," Frey menunjuk sebuah film romantis.
"Hem. Tunggu di sini," Josh pergi membeli tiket dan popcorn, pria itu juga membeli dua botol air mineral. "Ayo masuk, sebentar lagi filmnya di mulai," Frey hanya mengangguk, gadis itu meraih popcorn dari tangan Josh dan membawanya masuk ke dalam studio. Frey dan Josh menikmati film mereka sambil memakan popcorn, namun di pertengahan film Frey mulai gelisah saat banyak adegan dewasa, sesekali Frey menutup matanya saat pemeran utama tengah melakukan adegan panas.
"Apa kau ingin mencobanya?" bisik Josh dengan suara menggoda, saat Frey menoleh tak sengaja wajah mereka saling bersentuhan karena ternyata Josh begitu dekat dengan Freesia.
"Me-mencoba apa?" jawab Frey gugup.
"Yang seperti di film itu."
"Tidak!" tolak Frey dengan cepat.
Entah sejak kapan Josh telah berhasil menggenggam tangan Freesia, pria itu tersenyum penuh arti. "Tanganmu berkeringat Frey, itu artinya tubuhmu menginginkannya!"
Frey mencoba melepaskan tangan Josh, kini gadis itu tak bisa mengendalikan detak jantungnya yang memompa dengan kecepatan tinggi. "Aku bilang tidak," tanpa sadar Frey berteriak dan mengganggu pengunjung yang lain. Frey melirik Josh kesal karena pria itu justru mentertawakannya saat frey harus minta maaf pada pengunjung yang lain.
Film akhirnya selesai di putar, Frey bergegas keluar dari bioskop karena dia begitu malu, gadis itu bahkan meninggalkan Josh.
"Frey tunggu!" Josh berlari mengejar Freesia, pria itu kembali tertawa melihat Frey berlari begitu cepat. Josh menghentikan langkah kakinya, pria itu berdiri tepat di belakang Freesia yang tiba-tiba berhenti. Josh mengikuti arah pandang Freesia, gadis kecil itu tengah menatap sebuah kalung yang terpajang di etalase toko perhiasan.
"Kau ingin membelinya?" tanya Josh, melihat Frey tak berkedip membuat Josh yakin jika gadis itu menginginkannya.
"Tidak Josh, aku hanya melihatnya saja," bohong Freesia, gadis itu lalu meraih tangan Josh dan menggandengnya. "Ayo kita pulang," ajak Freesia dan Josh hanya menurut.
"Kalau kau tak menginginkannya kenapa kau menatap kalung itu terus?" tanya Josh lagi saat mereka hampir tiba di basement.
"Ah, itu karena kalungnya unik Josh. Liontinnya berbentuk daun Semanggi dan memiliki empat daun, Semanggi berdaun empat sangatlah langka di temukan," jelas Freesia.
__ADS_1
"Apa istimewanya Semanggi berdaun empat?" Josh menahan tangan Frey hingga keduanya berhenti dan saling berhadapan.
"Daun Semanggi empat ini menjadi lambang khas Irlandia yang disebut dengan Shamrock dan dipercaya akan membawa keberuntungan serta kebahagiaan. Setiap helai daun dari Four Leaf Clover ini melambangkan Faith (Kepercayaan), Hope (Harapan), Love (cinta), dan Luck (keberuntungan)."
"Dari mana kau tau tentang itu semua Frey?"
"Kau lupa kalau aku penjual bunga, tentu saja aku tau," Frey tersenyum, dua cengungan di wajahnya membuat gadis itu sangat mempesona.
"Sangat cantik," gumam Josh tanpa sadar.
"Ya, kalungnya memang sangat cantik. Ayo kita pulang Josh!" Frey kembali menarik tangan Josh, namun pria itu menahannya. "Ada apa?" tanya Freesia penasaran.
"Dompetku sepertinya jatuh di bioskop, kau tunggu di mobil, ini kunci mobilnya," Josh memberikan kunci mobilnya kepada Frey lalu pria itu kembali masuk ke dalam pusat perbelanjaan.
"Dasar ceroboh," desis Frey, gadis itu lalu menuju tempat dimana mobil Josh di parkirkan. Frey tak menunggu di dalam karena jujur saja dia tak tau cara membukanya dan dia takut merusak mobil mewah itu, jadi dia memutuskan menunggu di samping mobil, gadis itu duduk berjongkok seraya memainkan ponsel.
Frey menoleh ke kanan dan ke kiri saat gadis itu mendengar suara aneh, suara seorang wanita yang sedang merintih lalu mende**sah. "Masa ada setan mende**sah?" batin Frey seraya mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Karena penasaran, Frey berjalan sambil jongkok, ketika dia berada di belakang mobil Josh, dia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara tersebut.
Freesia mendelik saat melihat sebuah mobil bergoyang yang tak jauh dari mobil Josh, gadis itu diam-diam mendekati mobil tersebut dan suara desa**han semakin jelas. "Astaga naga, apa mereka sedang melakukan proses perkembangbiakan di dalam mobil?" Frey berniat pergi, namun urung saat mendengar suara yang tak asing baginya, suara wanita yang sangat dia kenali, suara nenek sihir yang menjadi musuh bebuyutannya. Frey bersembunyi di belakang mobil, gadis itu mengintip dan melihat Jennifer keluar dari mobil bersama seorang pria, Jennifer merapikan bajunya yang berantakan, wanita itu lalu memeluk dan mencium pria yang keluar dari mobil bersamanya.
"Dasar tidak tau malu," batin Freesia, gadis itu lalu kembali ke mobil Josh setelah melihat adegan tidak senonoh itu.
Tak lama kemudian Josh kembali, pria itu terheran-heran melihat Freesia yang tengah berjongkok dan tersenyum sendiri sambil manatap ponselnya. ""Kau kenapa Frey?"
"Eh," Frey segera menyembunyikan ponselnya, gadis itu mendungak dan tersenyum kikuk saat melihat Josh sudah berada di depannya. Frey lalu berdiri mensejajari Josh. "Ketemu dompetnya?" tanya Freesia dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Josh.
"Ayo kita pulang!"
"Ayo."
.
.
__ADS_1
.
Jam tujuh malam, hujan kembali mengguyur dengan sangat deras, bahkan di sertai kilat dan guruh yang menggelegar. Freesia duduk di atas tempat tidur, tubuhnya terbungkus selimut tebal, gadis itu ketakutan saat petir menyambar, ingin rasanya dia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Josh, namun Frey takut Josh akan menganggapnya aneh karena takut dengan kilat dan guruh.
Duaarr....
Petir kembali menyambar bersamaan dengan lampu yang tiba-tiba padam. Frey menjerit ketakutan, gadis itu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, dengan bibir bergetar gadis itu merapalkan doa agar lampu segera menyala.
Tok...tok...tok...
"Frey kau baik-baik saja?" teriak Josh dari balik pintu. "Frey, aku masuk ya!" Karena tak mendapatkan respon dari Frey, akhirnya Josh masuk ke dalam kamar Freesia, dengan bantuan senter di ponselnya, pria itu dapat melihat Freesia berada di atas ranjangnya. Dengan cepat Josh menghampiri Freesia dan duduk di tepi ranjang. "Frey, ini aku."
Freesia membuka selimutnya, gadis itu merasa lega saat melihat Josh di kamarnya, dengan cepat Frey memeluk tubuh Josh. "Aku takut," ucapnya dengan tubuh yang bergetar.
Josh membalas pelukan Freesia, pria itu merasakan keringat dingin di tubuh gadis kecilnya itu. "Tenanglah, ada aku di sini," Josh mengusap lembut kepala belakang Freesia, sesekali dia mengecup pucuk kepala gadis itu.
Frey melepaskan pelukanbya saat merasa lebih tenang. "Maaf Josh," sesalnya karena memeluk Josh tanpa izin.
"Untuk?" tanya Josh penasaran, kenapa tiba-tiba Frey meminta maaf.
"Maaf karena memelukmu tanpa izin."
"it's okay," Josh kembali mengusap kepala Freesia, pria itu lalu berdiri dan membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidur, Josh mengambil sebuah lilin dan pemantik lalu menyalakan lilin tersebut.
"Tidurlah, lampunya sebentar lagi pasti akan menyala," ujar Josh setelah menyalakan lilin, pria itu akan pergi namun Frey menahannya.
"Josh."
Josh menoleh. "Kau butuh sesuatu?"
"Temani aku tidur!
BERSAMBUNG...
__ADS_1