
Setelah puas bercengkerama dengan keluarga besar suaminya, Frey kembali ke kamar karena merasa lelah, rasa laparnya pun hilang sudah dan berganti rasa kantuk. Josh yang baru selesai membuat pasta segera menyusul istrinya ke kamar sebelum pastanya menjadi dingiin.
"Love, ini pastanya. Ayo makan dulu," ucap Josh, pria itu menghampiri istrinya yang meringkuk di atas tempat tidur.
Josh meletakan piring berisi pasta di atas nakas, dia lalu duduk di tepi tampat tidur dan menatap Frey yang sudah terlelap. Josh menggoyangkan tubuh Frey bermaksud membangunkannya karena sejak pagi wanita hamil itu tidak makan apapun.
"Love, bangun. Kau belum makan dari pagi."
Frey membuka matanya yang terasa sangat berat. "Aku ngantuk Josh," jawabnya pelan.
"Tapi perutmu harus di isi, kasian bayi kita. Dia pasti kelaparan di dalam sana," bujuk Josh, dia sangat khawatir melihat istrinya yang terlihat lebih kurus.
Mendengar kata bayi, mau tidak mau akhirnya Frey bangun, dia harus tetap makan meski dia tak menginginkannya mengingat ada makhluk lain yang membutuhkan asupan makan darinya. Frey duduk bersandar di head board, dia lalu minum air putih hangat yang di berikan oleh Josh. Dengan telaten Josh menyuapi istrinya sampai pasta tersebut habis. Untung saja tidak ada drama mual dan muntah sehingga Josh bisa merasa tenang.
"Minum vitamin dulu ya," Frey mengangguk ,dia lalu meminum vitamin yang di berikan suaminya.
"Aku ingin tidur lagi," ucapnya pelan.
"Hem," Josh membantu Frey berbaring, pria itu juga menyelimuti tubuh istrinya. Tak lupa sebuah kecupan singkat di kening Frey. "Nice dream honey," ucap Josh penuh perhatian.
Setelah Frey kembali terlelap, Josh keluar dari kamarnya karena keluarga nya belum pulang. Josh duduk di samping Katherine dengan wajah lesu.
"Bagaimana, Frey mau makan kan?" tanya Katherine yang juga merasa khawatir dengan menantunya.
"Mau mom. Tapi aku khawatir, tubuh Frey sekarang sedikit kurus," jawab Josh.
"Wajar Josh, pada awal kehamilan memang begitu. Nanti setelah kandungannya memasuki trimester kedua biasanya nafsu makan nya akan kembali lagi," ucap Katherine berusaha menenangkan anaknya.
"Sepertinya aku akan mengambil cuti selama Frey hamil mom, aku tidak tega meninghalkannya!" ujar Josh, sejak di rumah sakit dia memang sudah memikirkan cuti panjang selama Frey hamil.
"Kau yakin Josh?" sahut Jonathan.
__ADS_1
"Aku sudah memikirkannya. Aku akan ke kantor besok untuk mengajukan cuti!"
"Ya sepertinya itu keputusan yang bijak Josh, kasian istrimu, selama ini dia menderita sendirian. Kau harus menebusnya dengan menemaninya selama dia hamil," Lynda setuju dengan keputusan Josh, toh meski Josh tidak bekerja, pria itu masih memiliki penghasilan dari tempat lain, karena selama ini selain menjadi pilot Josh juga suka berinvestasi saham.
.
.
Sementara di rumah sakit, Anne dan Andrew masih menunggu Maggie sadar. Keduanya duduk di kursi tunggu karena Maggie masih berada di dalam ICU. Meski Maggie sangat keras kepada Anne, namun wanita itu tetap tidak tega melihat kondisi ibu nya, wanita yang biasanya aktiv bekerja kini terbaring lemah tak berdaya.
"Andrew, terima kasih banyak karena kau telah membantu Freesia," ucap Anne seraya menatap asisten pribadi ibu nya.
"Saya hanya tidak ingin nyonya menyesal karena kehilangan cucu nya lagi," jawab Andrew sambil tersenyum.
"Bagaimana kalau ibu sadar dan memecatmu?" tanya Anne merasa tak enak hati, karena membantu nya dan juga Frey kemungkinan besar Andrew akan kehilangan pekerjaan nya.
"Anda tidak perlu khawatir nona, saya sudah memikirkan resikonya sebelum saya memutuskan untuk membantu nona muda. Saya akan kembali ke Belanda dan mencari pekerjaan baru di sana, lagi pula saya sudah lelah harus berjauhan dengan istri saya," jelas Andrew panjang lebar.
"Sudah nona, sebentar lagi anak kami lahir!"
"Selamat Ndrew, aku berdoa untuk kebahagiaan keluarga kecilmu," ucap Anne tulus.
"Terima kasih banyak nona, saya juga berdoa untuk kebahagiaan anda. Tapi sebelumnya saya ingin anda lebih berani seperti nona Freesia, ikuti apa kata hati anda!" pesan Andrew dengan bijak.
Anne hanya tersenyum, dia memang tak seberani keponakannya. Selama ini dia menyukai Jonathan, namun dia terlalu takut untuk bersama pria itu. Dia khawatir tentang pendapat orang lain, selain karena masa lalu keluarga mereka, Anne merasa tidak percaya diri karena Jonathan jauh lebih muda darinya. Anne selalu menahan diri dan lebih memilih menyerah sebelum berperang.
Seolah Tuhan mendengar keluh kesahnya, baru saja dia memikirkan Jonathan dan pria itu sudah berada di sampingnya, entah sejak kapan pria itu duduk di sebelahnya, seingatnya tadi dia masih duduk bersama Andrew.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jonathan seraya menatap Anne.
Anne yang terkejut hanya bisa menganggukan kepalanya, dia tak mengerti kenapa tiba-tiba Jonathan ada di sini.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Anne tanpa menoleh sedikitpun karena setiap kali dia bertatapan dengan Jonathan maka jantungnya akan berdebar-debar.
"Aku mengkhawatirkanmu. Kau pasti belum makan kan? Ayo kita makan dulu, biar Andrew yang berjaga di sini," ajak Jonathan, karena sebelum Josh mengatakan padanya jika Anne belum makan sejak Maggie masuk ICU.
"Aku tidak lapar Jo!" tolak Anne secara halus.
"Pikirkan kesehatanmu Ann. Kau harus tetap sehat agar bisa merawat ibumu!"
Anne menghembuskan nafas dengan kasar, dia tak bisa menolak dan akhirnya mengikuti Jonathan di salah satu restoran yang dekat dengan rumah sakit. Jonathan memesankan beberapa menu untuk Anne, pria itu juga ikut makan demi menemani sang pujaan hati meski sebelumnya dia sudah makan di rumah.
"Makan yang banyak Ann," ucap Jonathan seraya mengambilkan lauk untuk Anne.
Anne hanya melirik Jo dan melanjutkan makan. Tadi dia merasa tak lapar sama sekali, tapi kenapa sekarang dia merasa sangat lapar dan makanannya sangat enak, apa mungkin karena Anne memakannya bersama orang yang spesial di hatinya?
Setelah selesai makan, Jo mengajak Anne jalan-jalan agar makanan mereka tercerna dengan baik.
"Ann," panggil Jo dan Anne hanya menoleh sekilas karena saat yang bersamaan Jo juga menoleh sehingga untuk seperkian detik mata mereka saling bertemu.
"Aku sudah memutuskannya," ucap Jo ambigu, apa yang sudah pria itu putuskan.
"Apa?" tanya Anne penasaran.
"Setelah ibu mu sembuh aku akan melamarmu!"
Deg...
Langkah Anne terhenti, dia tak menyangka Jo akan mengatakan hal seperti itu. Melamarnya? Benarkah itu? Apa pria itu hanya main-main?
Jo ikut berhenti, pria itu berdiri menghadap Anne. Jo meraih tangan Anne dan menggenggamnya. "Aku serius Ann, aku sangat mencintaimu dan ingin hidup bersamamu. Aku tidak akan ragu lagi, aku akan memperjuangkanmu sampai kau mau menjadi istriku!"
"Maaf Jo, aku tidak bisa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...