
Dua hari sebelumnya..
Josh baru saja mendarat di bandara, saat memeriksa ponsel, dia sedikit bingung kerena mendapat begitu banyak pesan dari Axel, tak biasanya pemuda itu mengirim pesan bahkan sampai berkali-kali.
'Josh kau di mana?'
'Angkat telefonku!!!!'
'Hubungi aku setelah landing!'
Josh lalu menghubungi Axel karena dia khawatir terjadi sesuatu di rumah.
"Ada apa Axe?" tanyanya begitu panggilan tersambung.
"Di mana kau?"
"Aku di luar kota, ada apa?"
"Cepat pulang, Frey dalam masalah. Dua hari lagi Granny akan mengadakan rapat dengan pihak sekolah, kalau kau tak datang, Frey akan di keluarkan dari sekolah."
"Frey, apa yang terjadi dengan Frey?" Josh mulai khawatir.
Axel lalu menceritakan tentang kejadiannya, dari awal foto tersebar, Frey yang mengaku hanya mengantarkan bunga ke hotel hingga skors yang di berikan kepada Frey. Malamnya, Josh lalu menghubungi Frey, dia merasa sedikit lebih tenang saat menyadari jika Frey berada di mansion utama, meski keadaan kamar cukup gelap, namun Josh begitu mengenali kamar yang dia pakai bertahun-tahun lamanya. Namun ada satu hal yang membuat Josh sedih, Frey memilih merahasiakan masalah yang sedang menimpanya, padahal Josh berharap Frey akan mencarinya dan meminta bantuan.
Demi mendapatkan izin mendadak, Josh sampai membongkar identitasnya, ipadahal selama bekerja menjadi pilot di J&J Airways, tidak ada satupun yang mengetahui jika Josh adalah putra tertua keluarga Janzsen. Itupun tak mudah, karena Josh tak bisa langsung pulang dan harus menunggu pilot yang akan menggantikannya. Kini Josh tak lagi memikirkan dirinya, dia hanya ingin segera pulang dan menemui Frey.
Setelah pilot penggantinya datang, harapan Josh kembali di patahkan, penerbangannya di batalkan akibat badai, mau tidak mau Josh harus menunggu penerbangan selanjutnya setelah cuaca kembali normal. Setelah menunggu lebih dari 15 jam, akhirnya Josh bisa kembali ke Jakarta. Josh tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pukul enam pagi, dia segera pergi ke sekolah dan berharap tidak terlambat.
Setibanya di SMA Angkasa, Josh berlari menuju ruang rapat, berkali-kali dia mengumpat kesal karena sempat tejebak macet dan akhirnya datang terlambat. Josh merapikan jasnya, pria itu lalu mengatur nafasnya yang memburu, setelah sedikit tenang, dia lalu membuka pintu dan segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Di ambang pintu dia dapat melihat dengan jelas wajah Frey yang sangat tertekan, Josh juga melihat genangan air di mata gadis kecilnya.
"Siapa anda?" tanya kepala sekolah seraya menatap Josh.
"Saya Joshua Janzsen, saya pria yang berada di dalam foto itu, dan saya adalah suami Freesia Lovina."
__ADS_1
"Joshua Janzsen," gumam semua orang yang ada di ruang rapat.
Deg...
Freesia terlonjak kaget, gadis itu segera berdiri dan menghampiri Josh di masih berdiri di hadapan semua orang. "Tidak pak, jangan dengarkan pria ini," elak Frey, dia sangat takut jika status pernikahan mereka akan mengancurkan masa depan Josh.
"Apa yang kau lakukan, kau sudah gila. Cepat pergi dari sini!" Frey berbisik dengan wajah ketakutan, namun bukannya mendengarkannya, Josh justru meraih tangan Freesia dan menggenggamnya.
"Yang saya katakan adalah sebuah kebenaran, saya memang suaminya. Jika anda semua tidak percaya, anda bisa bertanya dengan Lynda Janzsen ataupun Jimmy Janzsen!"
"Apakah artinya anda Joshua Janzsen, putra tertua Jimmy Janzsen?" tanya salah seorang anggota rapat dan hanya di angguki oleh Josh. Sejauh ini, Josh tidak terlalu di kenali banyak orang karena dia memilih menjadi pilot, dia hanya sesekali datang ke perusahaat itupun saat menghadiri rapat para pemegang saham karena meskipun Josh tidak terlibat secara langsung di dalam perusahaa, pria itu memiliki 20 persen saham J&J Company.
"Bagaimana bisa?"
"Apa yang terjadi?"
"Bukannya tuan muda menikah dengan seorang model, kenapa sekarang mengaku menikahi gadis SMA?"
Berbagai komentar terdengar samar-samar di dalam ruangan itu. Lynda yang sejak tadi diam menatap Josh dengan bangga, wanita itu tersenyum samar lalu mengaktifkan pengeras suara yang berada di depannya.
"Karena sudah terjawab siapa pria yang berada di foto itu, apakah artinya kita bisa mengembalikan Frey ke sekolah?" Lynda bertanya seraya menatap wajah ke seluruh anggota rapat.
"Tentu saja bisa nyonya, sekolah ini menyambut nyonya muda dengan senang hati," ujar kepala sekolaj tersebut.
"Nyonya muda," batin Frey dengan wajah kebingungan.
"Terima kasih banyak atas kebaikan anda semua. Saya yakin anda penasaran kenapa saya menikah dengan Frey. Namun yang perlu anda ingat, Frey sudah memiliki KTP dan artinya saya tidak menikahi anak di bawah umur. Dengan segala kerendahan hati, saya memohon bantuan anda semua untuk merahasiakan hal ini dari pihak luar," pinta Josh seraya menundukan kepalanya, hal tersebut tentu saja membuat anggota rapat berdiri dan membungkukan tubuh mereka, bayangkan saja, tuan muda tempat mereka mengais rezeki menundukan kepalanya di depan mereka, bukankah sudah seharusnya mereka membungkuk lebih rendah lagi.
"Baik tuan muda, kami akan menjaga rahasia ini dan menjaga nona muda selama di sekolah!"
Keputusan sudah bulat, besok akhirnya Frey bisa kembali ke sekolah. Setelah rapat selesai Josh membawa Frey pulang ke rumah mereka. Selama perjalanan pulang Frey hanya diam, dia masih terkejut saat Josh mengakuinya sebagai istri.
Setibanya di rumah, Josh langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan kata sepatah pun, padahal Frey ingin menanyakan sesuatu, namun pria itu seolah mengacuhkannya.
__ADS_1
Frey sudah berada di kamarnya, gadis itu tidur meringkuk di atas ranjang sambil mendengarkan musik lewat earphone. Gadis itu terlonjak kaget saat seseorang memeluknya dari belakang. Frey berbalik dan menemukan sepasang mata biru tengah menatapnya dengan lembut.
"Sejak kapan kau masuk?" tanyanya kemudian.
"Baru saja," jawab Josh namun Frey tak mendengarnya karena dia lupa melepaskan earphone yang menutup telinganya.
"Baru saja," ulang Josh seraya melepas earphone Freesia.
Frey menggaruk telinganya yang tidak gatal, pabtas saja dia tak mendengar suara Josh masuk.
"Josh," panggil Frey dengan lembut.
"Hem," Josh hanya bergumam, pria itu masih fokus menatap wajah gadis kecilnya.
"Kenapa kau datang ke sekolah, bukankah seharusnya kau pulang beberapa hari lagi?"
"Karena aku mengkhawatirkanmu," Josh melepaskan tangan yang memeluk pinggang Frey, pria itu lalu merapikan anak rambut gadisnya dan menyelipkannya ke belakang telinga. "Kenapa kau tak memberitahuku masalah ini?"
Freesia menunduk, dia merasa bersalah karena menutupi masalahnya. "Aku tidak ingin membuatmu khawatir, maaf," ucapnya penuh sesal.
"Aku akan memaafkanmu kali ini, tapi kau tidak boleh menutupi apapun dariku lagi. Aku sangat khawatir saat mendengar kabar kau di skors dari sekolah."
"Hem, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Frey bersungguh-sungguh.
"Gadis pintar," Josh membelai lembut wajah Frey, lalu tanpa permisi pria itu mencium bibir Frey dengan lembut. "Aku merindukanmu," ucapnya lembut, dia lalu merengkuh tubuh Frey ke dalam pelukannya, mendekap tubuh gadis kecil itu dengan erat dan menumpahkan rasa rindu yang entah sejak kapan mulai dia rasakan.
Sementara di sekolah, Lynda berada di ruang kepala sekolah bersama Jimmy. Ketiga orang itu tengah membahas masalah lain mengenai sekolah mereka.
"Nyonya, kenapa anda tidak mengatakannya sejak awal kalau Freesia adalah cucu menantu anda?" tanya kepala sekolah penasaran, seandainya Lynda mengatakan siapa Frey sebenarnya, mungkin saja mereka tidak perlu melakukan rapat dengan komite sekolah.
"Aku hanya ingin melihat kesungguhan dari cucuku," jawabnya dengan seutas senyum di wajah tuanya. "Sekarang aku yakin, kalau pernikahan mereka bukan main-main," imbuhnya di dalam hati.
BERSAMBUNG...
__ADS_1