
Sudah tiga hari sejak Freesia mengungkapkan perasaannya kepada Josh, sejak saat itu pula Freesia belum bertemu dengan Josh karena pria itu mengurung diri di kamarnya. Setelah menghabiskan sarapannya, Freesia berencana untuk menemui Josh, gadis kecil itu merasa tak enak hati, dia merasa Josh sedang menghindarinya gara-gara mitos salju pertama.
Dengan sedikit ragu Freesia menekan bel kamar hotel Josh, namun sudah berkali-kali Freesia menekannya dan tak ada respon dari Josh. Freesia merasa khawatir, takut jika terjadi sesuatu dengan Josh di dalam sana. Tepat di saat yang sama seorang karyawan hotel melintas di sekitarnya.
"Excuse me," ucap Freesia dalam bahasa Inggris, dia berharap karyawan tersebut bisa berbahasa Inggris.
"Yes ma'am, how can i help you?" tanya karyawan itu membuat Freesia bernafas lega.
"Sudah dua hari teman saya tidak keluar dari kamarnya. Saya sangat khawatir, bisakah anda membukakan pintu untuk saya?"
"Benarkah. Anda yakin ini kamar teman anda?" selidik karyawan itu karena tak mau percaya begitu saja dengan Freesia.
Freesia mengangguk dengan cepat. "Ya, kami datang dari Indonesia dan menginap di sini sejak empat hari yang lalu. Namanya Joshua Janzsen, anda bisa memeriksanya jika anda tidak percaya," ucap Freesia meyakinkan karyawan tersebut.
"Tunggu sebentar, saya akan memastikannya terlebih dahulu," karyawan itu lalu meraih walkie talkie dan mulai berbicara dengan seseorang. Setelah beberapa saat karyawan itu mengeluarkan sebuah kartu akses dari saku jasnya. "Maaf membuat anda menunggu, saya akan membuka pintunya sekarang," ucapnya sambil tersenyum lalu membuka pintu kamar hotel di mana Joshua berada.
"Thanks," Freesia segera masuk ke dalam kamar Joshua setelah mengucapkan terima kasih, gadis kecil itu mencari keberadaan Josh namun tak menemukan pria itu di manapun.
"Dia tidak mungkin meninggalkanku kan?" gumam Freesia dengan wajah panik, bahkan kini matanya mulai berkaca-kaca.
Ceklek...
Freesia menoleh ke arah suara pintu terbuka, seketika Freesia merasa lega saat mendapati Josh keluar dari kamar mandi. Tanpa berpikir panjang Freesia berlari ke arah Josh dan segera memeluk pria itu tanpa menyadari jika Josh hanya mengenakan bathrobe.
"Hiks, aku pikir kau meninggalkanku di sini," ucap Freeaia seraya menangis, nyatanya Freesia begitu takut di tinggalkan karena sejak kecil kedua orangtuanya telah pergi meninggalkannya.
"Kenapa kau menangis Frey?" tanya Josh kebingungan, pria itu memegang kedua bahu Freesia dan mendorongnya dengan pelan. "Apa ada yang menyakitimu?"
Freesia menggeleng dengan cepat, dia lalu menyeka air matanya dengan kasar. "Ak-aku pikir kau marah padaku dan meninggalkanku," jawab Freesia sesegukan.
"Kenapa aku harus marah dan meninggalkanmu?" tanya Josh basa-basi, sebenarnya dia tau maksud perkataan Freesia karena selama tiga hari Josh tak menemui Freesia dan hanya memesankan makanan untuk gadis kecil itu. Josh sebenarnya tidak marah, hanya saja pengakuan Freesia membuatnya teringat akan kebodohannya di masa lalu.
__ADS_1
"Josh, aku minta maaf soal mitos salju pertama," ucap freesia seraya menunduk, dia tak ingin Josh menghindarinya lebih lama.
"It's okay Frey, aku tau kau hanya bercanda," jawab Josh seraya tersenyum, entah apa yang di pikirkan pria itu, hanya saja dia tidak ingin ada kecanggungan di antara mereka.
"Aku tidak bercanda kok," lirih Freesia.
"Apa yang kau katakan?" tanya Josh karena tak mendengar dengan jelas ucapan Freesia.
"Eh, tidak kok. Jadi kau tidak marah padaku kan?"
"Tidak. Lebih baik kau bersiap-siap karena kita akan melanjutkan liburan kita."
"Benarkah? Kemana kita akan pergi?" Freesia sangat berantusias, bahkan wajah yang tadinya murung kini terlihat berbinar.
"Kau akan tau nanti."
.
.
.
Jennifer meraih ponselnya yang berbunyi, dia berharap Josh yang menghubunginya. Namun harapannya sirna karena bukan Josh yang menelfonnya melainkan Katherine.
"Apa dia sudah tau semuanya?" tanya Jennifer pada dirinya sendiri, dia ragu untuk menjawab panggilan dari wanita yang seharusnya menjadi ibu mertuanya itu. Namun karena Katherine terus menghubunginya, akhirnya Jennifer mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo," sapa Jennifer, dia tak ingin banyak bicara karena ingin tau apakah Katherine sudah mengetahui tentangnya dan Jimmy atau belum.
"Jenn, ada yang ingin aku tanyakan padamu!" ucap Katherine dan berhasil membuat Jennifer merasa takut.
"Ya katakan!"
__ADS_1
"Apa benar kau meninggalkan Josh dan berselingkuh dengan pria tua?"
"Siapa yang mengatakan itu Kathe?" tanya Jennifer dengan seringai di wajah cantiknya,mendengar pertanyaan Katherine membuat Jennifer yakin jika wanita itu tidak tau apapun.
"Lynda dan Josh. Mereka bilang kau meninggalkan Josh karena memilih pria kaya."
Jennifer tersenyum lebar, sepertinya dia menemukan jalan untuk mendapatkan Josh kembali. "Hiks, itu tidak benar mom," suara Jennifer seketika berubah sendu, wanita itu bahkan berpura-pura menangis agar Katherine percaya kepadanya.
"Lalu apa yang terjadi Jenn? Kenapa Josh malah menikahi gadis kecil yang tidak jelas asal usulnya?"
"Josh salah paham kepadaku mom, dia melihatku bersama pemilik agency modelku yang kebetulan datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahanku. Josh melihat kami sedang berpelukan, padahal itu hanya pelukan selamat dari atasanku mom," jelasnya penuh dusta, dalam seperkian detik Jennifer berhasil mengarang cerita demi mendapatkan Josh kembali.
"Kau tidak membohongiku kan?" tanya Katherine ragu.
"Untuk apa aku berbohong mom, kau tau sendiri aku sangat mencintai Josh. Aku tidak menyangka Josh tidak mempercayaiku dan malah meninggalkanku, hiks hiks."
"Jangan menangis Jenn, aku percaya padamu."
"Benarkah mom?" Jennifer tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membodohi Katherine.
"Ya. Dan kau harus membuat Josh kembali padamu Jenn!"
"Tapi apa yang harus aku lakukan mom, aku saja tidak tau dimana Josh sekarang?"
"Josh ada di Eropa sekarang!"
"Baik mom, aku akan menyusulnya dan membawanya pulang bersamaku."
Jennifer mengakhiri panggilan tersebut, lagi-lagi seringai licik menghiasi wajah cantiknya. "Dasar wanitq bodoh!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1