
"Anak muda, penginapan di sekitar sini hampir semuanya penuh, hari juga hampir gelap, biasanya badai datang saat menjelang gelap, lebih baik ambil kamar ini dan berbagi dengan kekasihmu!"
Josh dan Freesia saling menatap saat pemilik penginapan tersebut menyebut mereka sepasang kekasih. Rasanya Freesia ingin berteriak jika Josh adalah suaminya bukan kekasihnya.
"Kami akan mencari penginapan lain saja!" ucap Josh tanpa ragu, pria itu lalu mengajak Freesia keluar dari penginapan tersebut, namun baru saja mereka menginjakkan kaki di luar dan badai salju tiba-tiba saja datang membuat kedua orang itu kembali masuk ke dalam penginapan.
"Sudah aku bilang kan, ambil kunci ini dan menginaplah di sini, badai salju akan lebih besar saat malam hari!" Wanita pemilik penginapan tersebut memberikan kunci kamar kepada Josh dan pria itu terpaksa menerimanya karena tak ada pilihan lain, dari pada dia harus mati membeku bukankah lebih baik berbagi kamar dengan Freesia?
Dan di sinilah mereka berada, di sebuah kamar yang tak terlalu besar, hanya ada satu tempat tidur yang sebenarnya cukup untuk dua orang. Tersedia pula sebuah perapian di dekat tempat tidur, dan dua buah single sofa yang berada di depan perapian itu.
"Kau tidurlah di ranjang Frey, biar aku tidur di sofa," ucap Josh memecahkan keheningan, keduanya terlihat canggung berada di dalam kamar yang sama.
"Biar aku yang tidur di sofa Josh. Aku sudah terbiasa tidur di manapun," tolak Freesia secara langsung, mengingat postur tubuh Josh yang begitu tinggi membuat Freesia yakin jika Josh tidak akan bisa tidur di atas single sofa.
"Jangan meremehkanku Frey, saat pendidikan dulu aku sudah terbiasa tidur di atas kursi," sahut Josh tak terima.
"Ya baiklah aku akan tidur di kasur!" tak ingin berdebat akhirnya Freesia mengalah dan memutuskan untuk tidur di ranjang.
__ADS_1
Karena suhu yang semakin dingin, akhirnya Josh menyalakan perapian. Keduanya duduk di atas sofa sambil menghangatkan tubuh.
Kriukk...
Freesia memegangi perutnya yang sejak tadi berdemo, sementara Josh terkekeh mendengar bunyi perut Frreesia. "Kau pasti kelaparan. Tunggu di sini sebentar, aku akan meminta sesuatu pada pemilik penginapan ini," Josh beranjak dari duduknya, sebelum keluar dari kamar pria itu menepuk kepala Freesia dengan pelan, hal tersebut tentu saja membuat Freesia berdebar-debar.
"Tolong jangan seperti ini, bisa-bisa aku semakin tergila-gila padamu," batin Freesia seraya memegangi pucuk kepalanya yang baru saja di tepuk oleh Josh. Gadis kecil itu tersenyum layaknya orang bodoh dengan pipi yang merona. "Sepertinya aku membutuhkan saran dari mbah gugel," Freesia lalu meraih ponselnya, gadis kecil itu lalu mengetik di mesin pencarian 'bagaimana cara memikat pria dewasa'.
Deretan tips untuk memikat pria memenuhi beranda di mesin pencarian atau yang kerap di panggil mbah gugel, dengan seksama Freesia membaca tips demi tips tanpa melewatkan sedikitpun.
"Menarik perhatiannya, perhatikan penampilan, tersenyum, melakukan kontak mata," eja Freesia dengan lantang. "Bagaimana cara menarik perhatiannya, apa aku harus berdandan dan memakai baju sexy seperti nenek lampir itu?" ucapnya bermonolog. "Hem, kalau urusan senyum sepertinya bukan hal yang sulit."
"Rosti," jawab Josh seraya memberikan salah satu piring yang di bawanya.
"Rosti?" ulang Freesia saat mendengar nama yang asing di telinganya, dia juga mengamati makanan yang ada di piringnya.
"Rosti ini adalah makanan khas Swiss yang terbuat dari kentang, keju parut kasar, daging, bawang, buah apel yang lalu di campur dan di goreng dengan sedikit minyak, biasanya Rosti di sajikan bersama sosis dan salad," jelas Josh mengulangi perkataan pemilik penginapan saat dia meminta makanan untuknya dan Freesia.
__ADS_1
"Oh begitu," Freesia mengangguk, gadis kecil itu lalu memotong Rosti dan mencicipinya. "Perkedel versi orang Swiss," ucap Freesia setelah mencicipi hidangan khas dari negara terbersih dan terindah di dunia.
"Apakah enak?" tanya Josh yang masih belum mencicipi makanannya.
"Lumayan, rasanya cocok di lidahku. Seharusnya kita bawa mie instan dari Indonesia, cuaca dingin seperti ini sangat cocok makan mie instan kuah dengan taburan cabai dan telor," tiba-tiba Freesia mengidamkan makanan yang menjadi favoritnya itu.
"Mie instan itu tidak sehat Frey," cetus Josh.
Freesia menoleh dan menatap Josh dengan tatapan yang sukar di jelaskan. "Tetap saja mie instan yang terbaik," ucap Freesia.
"Yang terbaik menurutmu belum tentu bagus untuk tubuhmu Frey!" ujar Josh tak mau kalah, kedua orang itu sama-sama memiliki watak keras kepala, namun karena teringat akan tips dari mbah gugel akhirnya Freesia mengalah dan tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka mengenai mie instan
Setelah selesai makan, Freesia sudah berada di atas kasur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya, sementara Josh masih duduk di depan perapian.
Malam semakin larut dan badai semakin besar, Josh membuka matanya saat mendengar suara rintihan seorang gadis. Pria itu lalu bangun dan mendekati tempat tidur Freesia. Josh mengerutkan dahinya saat mendapati bibir Freesia yang menggigil, dengan cepat Josh menyentuh kening Freesia dengan punggung tangannya.
"Kau demam Frey," gumam Josh, pria itu mulai khawatir dan bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
Freesia membuka matanya saat merasakan sentuhan tangan seseorang, gadis kecil itu menatap Josh yang duduk di tepi tempat tidurnya dengan wajah panik. "Josh, aku kedinginan, peluk aku!"
BERSAMBUNG...