Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Kontrak Pernikahan


__ADS_3

"Annastasya Zantman."


Anne menelan ludahnya dengan kasar, sudah lama sekali tak ada yang memanggil namanya secara lengkap, dan hari ini dia akhirnya kembali mendengar nama yang sudah sepuluh tahun ini dia lupakan.


"Maggie," pekik Anne dengan suara tercekat.


"Kau masih ingat namaku rupanya. Aku pikir kau lupa jika kau masih memiliki seorang ibu," ujar seorang bernama Maggie, seorang wanita tua yang mungkin usianya lebih dari setengah abad. Maggie berjalan mendekati Anne yang masih terpaku di tempatnya.


"Dari mana ibu menemukanku?" tanya Anne dengan bibir bergetar.


"Hahaha, kau pikir mudah bersembunyi dariku Annastasya?" jawab Maggie lengkap dengan seringai di wajahnya yang mulai berkeriput. "Dimana cucuku?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.


"Cucu? ulang Anne. "Cucu mana yang ibu maksud?" imbuhnya seraya tersenyum mengejek, entah apa yang terjadi di antara kedua wanita itu sehingga mereka tak sedikitpun terlihat seperti ibu dan anak.


"Freesia Lovina Zantman," ucap Maggie penuh penekanan.


"Ah maksud ibu keponakanku yang tidak pernah ibu anggap sebelumnya," Anne mengangguk-anggukan kepalanya, dari nada bicaranya terlihat jelas Anne sedang menyindir Maggie.


"Katakan dimana dia Anne?" Tegas Maggie.


"Aku juga tidak tau," jawab Anne seraya mengangkat kedua bahunya.


"Jangan membohongiku, jelas-jelas dia ada bersamamu!"


Anne memberanikan diri menatap wanita tua yang berdiri di hadapannya. "Sejak kapan ibu mengakuinya sebagai cucu? Apa ibu lupa, saat kedua orang tuanya meninggal, saat itu usianya masih delapan tahun dan ibu tidak mengakuinya. Ibu mengusir serta mengancam akan melenyapkannya saat aku membawanya pulang. Sebagai seorang bibi, aku bahkan rela meninggalkan pendidikanku dan merawatnya seperti putriku sendiri. Dan sekarang, setelah sepuluh tahun lamanya beraninya kau datang dan mengakuinya sebagai cucu," ucap Anne dengan suara meninggi, tatapanya begitu tajam dan penuh kemarahan.


"Silakan pergi dari sini bu karena Freesia tidak ada di sini!" usir Anne seraya menunjuk pintu, meski dia sangat merindukan Maggie, namun kekecewaannya kepada sang ibu membuat Anne enggan untuk berbicara lebih lama lagi.


"Aku akan mencarinya dan membawanya pergi dari mu Anne!"

__ADS_1


Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar seperti ancaman, Maggie lalu keluar dari toko bunga milik Anne. Wanita tua itu meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Cari tau dimana Freesia berada!"


Sementara itu, Anne terduduk di lantai dengan perasaan takut dan khawatir yang bercampur menjadi satu. Dia sangat mengenal Maggie, cepat atau lambat dia pasti akan menemukan Freesia.


"Bagaimana kalau ibu menemukan Freesia dan menyakitinya," gumam Anne, seluruh tubuhnya bahkan mulai bergetar mengingat orang seperti apa ibunya itu. Seorang wanita tua yang akan melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. Anne kembali teringat, bagaimana Maggie mengusir Zedrik Zantman, anak laki-lakinya yang lebih memilih menikahi wanita asal Indonesia dari pada wanita yang Maggie pilihkan untuknya. Tak sampai di situ, Maggie bahkan tega membuat Zedrik kehilangan pekerjaan segingga tak mampu menafkai kelurganya. Maggie berharap Zedrik akan memohon dan kembali kepadanya, namun sayangnya rencana Maggie tak berhasil, Zedrik yang sangat mencingai istrinya berjuang demi bisa mencukupi kebutuhan kelurganya. Hinga suatu saat tiba-tiba Zedrik dan istriya meninggal dalam sebuah kecelakaan, hal tersebut tentu saja membuat Anne mencurigai Maggie karena sejak awal Maggie tak pernah menerima Seruni menjadi menantunya.


.


.


.


Langit telah gelap, Freesia dan Josh tiba di rumah yang sementara akan mereka tempati bersama. Rumah yang Josh bangun dan siapkan untuk Jennifer, wanita yang sangat di cintainya namum justru wanita yang akhirnya menyakitinya.


Josh lalu mengajak Freesia ke salah satu ruangan di lantai atas, ruangan yang akan di pakai Freesia untuk sementara waktu.


"Ini kamarmu," ucap Josh setelah pintu terbuka, pria itu lalu mengajak Freesia masuk.


"Waow," gumam Freesia dalam hati, lihatlah kamar yang akan di tempatinya bahkan lebih besar dari rumahnya. "Apa tidak ada kamar yang lebih kecil?" tanya Freesia dengan begitu polos.


"Ada di lantai bawah, tapi itu kamar untuk asisten rumah tangga," jawab Josh.


"Kalau begitu aku mau kamar itu saja."


Josh mengeryitkan dahinya, sungguh dia tak mengerti jalan pikiran gadis yang kini menjadi istrinya. Bukankah seharusnya gadis itu merasa senang karena memiliki kamar yang luas, tapi mengapa dia malah menginginkan kamar pembantu?


"Tidak nona Freesia, kau akan tetap tinggal di sini!" tolak Josh dengan cepat. "Lynda akan menghukumku jika dia tau kau tinggal di kamar pembantu!"

__ADS_1


"Kalau begitu jangan sampai Lynda tau, mudah kan?" ujar Freesia yang masih bersikeras pindah ke kamar yang lebih kecil.


"Kau tidak mengenal Lynda, dia mungkin saja tau apa yang sedang kita bicarakan!" ujar Josh berbohong agar Freesia mau tinggal di kamar yang menurutnya lebih layak untuk gadis itu.


"Benarkah?" Freesia menatap sekeliling, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri.


"Tentu saja!"


"Ya sudah aku akan tinggal di kamar ini. Terima kasih tuan Josh," Freesia akhirnya menurut dan tinggal di kamar besar itu, gadis kecil itu masuk lebih dalam dan mengamati isi kamar yang di dominasi dengan warna putih.


"Nona Freesia, bisa kita bicara sebentar!"


Freesia menoleh, lalu gadis itu menghampiri Josh yang sudah duduk di sofa panjang. Josh menepuk sofa di sebelahnya dan menyuruh Freesia duduk, meski sedikit ragu akhirnya Freesia duduk di sebelah Josh.


"Nona Freesia, kita harus menulis surat perjanjian selama kita menjalani pernikahan ini!" ucap Josh membuka percakapan.


"Maksud anda kontrak pernikahan?" tanya Freesia dan hanya di angguki oleh Josh. Pria itu lalu meraih membuka laci yang berada di dekatnya dan meraih sebuah buku beserta alat tulis.


"Pernikahan ini akan berjalan selama satu tahun, selama kita menikah kau adalah tanggung jawabku, aku akan membiayai sekolahmu sampai kau lalus dan mencukupi semua kebutuhanmu. Setelah kita bercerai, aku akan tetap membiayai kuliahmu sampai kau lulus dan rumah ini akan menjadi milikmu sebagai ganti rugi karena kau telah bersedia membantuku, apa kau keberatan dan ingin menambah persyaratan yang lain?" terang Josh seraya menatap Freesia dan menunggu jawaban gadis kecil itu.


Freesia diam sejenak, mencerna setiap persyaratan yang sangat menguntungkannya. Namun tiba-tiba Freesia memiliki ide gila.


"Soal waktu, saya sedikit keberatan," ucap Freesia.


"Berapa lama waktu yang kau inginkah? Enam bulan atau tiga bulan?" tanya Josh lagi untuk memastikan kontrak pernikahan mereka tak membebani Freesia.


"Lima tahun!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2