Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Menguras kolam renang


__ADS_3

"Berani loe nyentuh Freesia, gue pastiin jari-jari loe patah satu per satu!" ancam Kayli seraya meremas pergelangan tangan Frily dan berhasil membuat gadis itu ketakutan. Namun hal tak terduga terjadi saat ke tiga teman Frily tiba-tiba menyerang Kayli, salah satunya bahkan menyiram tubuh gempal Kayli dengan ice lemon tea yang ada di meja. Kayli menggeram kesal, begitupun Cia dan Freesia yang tak terima melihat sahabatnya di perlakukan seperti itu. Freesia lantas membalas ke tiga teman Frily dengan cara yang sama, menuangkan spageti miliknya yang tak termakan ke atas kepala salah satu teman Frily dan dua yang lainnya kebagian ice lemon tea dari Cia.


Keributan tak bisa di hindarkan, ke tujuh gadis remaja itu terlibat perkelahian ala wanita pada umumnya, saling menjambak dan menarik baju masing-masing, suasana kantin mendadak menjadi ramai, ke tujuh gadis itu menjadi tontonan teman-teman mereka. Hingga petugas keamanan sekolah datang dan memisahkan mereka. Ke tujuh gadis remaja itu pun akhirnya berakhir di ruang BK.


"Kenapa kalian bertengkar?" tanya guru BK namun ke tujuh gadis itu hanya menunduk dan meremas jari masing-masing.


"Jawab!" bentak sang guru.


"Frily yang memulainya bu," jawab Freesia pada akhirnya.


"Bohong bu, Freesia yang memulainya. Dia yang menjambak rambut saya lebih dulu," elak Frily, gadis itu tak segan-segan memutar balikan fakta.


"Benar Frey?" tanya guru BK seraya menatap nyalang ke arah Freesia.


"Bohong bu. Kami sedang makan, tiba-tiba saja mereka datang dan membuat keributan. Kami ingin pergi tapi Frily menjambak rambut saya dan saat Frily hendak memukul saya Kayli menahan tangan Frily tapi ketiga orang itu malah menyerang Kayli bu," jelas Freesia, gadis itu menceritakan hal yang sebenarnya meski dia tau guru BK itu tak mungkin mempercayainya mengingat statusnya sebagai siswa miskin peraih beasiswa.


"Bohong bu, gadis miskin memang suka sekali berbohong demi meraih belas kasih dari orang lain," ejek Frily dengan senyum penuh samar di bibirnya.


"Frey tidak bohong bu. Kalau ibu tidak percaya ibu bisa memeriksa CCTV di kantin!" ujar Cia dengan tegas, gadia tomboy itu tak terima saat Freesia kembali di hina.


Frily dan ke tiga temannya mulai panik saat Cia menyebutkan CCTV, wajah mereka memucat seketika, bayangan akan di skors dari sekokah membuat mereka kembali menunduk ketakutan.


"Bagi ibu kalian semua bersalah, sekarang kalian pergi ke area kolam renang sekolah, kuras kolam itu dan sikat lantainya hingga bersih!"


"Apa?" ujar ke tujuh siswi itu secara bersamaan. mereka tak percaya jika hukuman mereka begitu berat, menguras dan menyikat kolam renang bukankah itu sangat tidak masuk akal.


"Cepat pergi atau ibu akan menghubungi orang tua kalian!"


Tidak ada pilihan selain patuh, ke tujuh siswi itu pergi ke gedung olahraga dan menuju kolam renang. Di sana meraka menatap kolam renang yang begitu luas, ke tujuh gadis itu kompak membuang nafas dengan kasar.


"Ini semua gara-gara loe gadis miskin," ucap Frily yang kembali menabuh genderang perang.


Freesia tak menghiraukan ocehan Frily, gadis itu mencari petugas yang biasa membersihkan kolam renang dan meminta bantuan untuk membuka saluran pembuangan air.


"Kolamnya baru di kuras beberapa hari yang lalu non," kata pria pertugas kebersihan.


Freesia kembali menghampiri teman-temannya dan mengajak Cia serta Kayli pergi dari tempat itu. "Gays, cabut!"

__ADS_1


"Kolamnya gimana Frey?" tanya Cia dan Kayli bersamaan.


"Baru di kuras beberapa hari yang lalu!" jelas Freesia seraya melangkahkan kakinya keluar dari gedung olah raga dan di ikuti oleh kedua temannya.


.


.


.


Setelah jam sekolah selesai, Freesia kembali berjalan pulang ke rumah Josh karena dia tak memiliki uang lebih untuk sekedar naik ojek online, tabungan Freesia mulai menipis sementara Josh lupa memberikan uang jajan untuknya. Di perjalanan pulang, Freesia memutar bola matanya malas saat mendapati Axel menepikan motor di dekatnya.


"Apa?" tanya Freesia dengan ketus, gara-gara tadi pagi berangkat bersama Axel, dia harus menjadi bulan-bulanan penggemar pemuda itu.


"Gue anter pulang!" ajak Axel to the poit.


"Ogah, gue nggak mau cari musuh!"


"Musuh?' tanya Axel dengan kening mengkerut.


"Gara-gara loe, gue di labrak sama ciwi-ciwi yang ngefans sama loe!"


"Gue gak papa!" tegas Freesia.


"Sebagai permintaan maaf gue, gue bakal nganterin loe pulang!"


"Big no Axe, gue gak mau!"


"Loe nggak mau? Okey, gue bakal bongkar rahasia besar loe!" ancam Axel agar Freesia tak menolaknya.


"Banci loe Axe!" gerutu Freesia kesal, namun detik berikutnya dia sudah berada di atas motor Axel. "Buruan!"


"Siap queen!" Axel tersenyum penuh kemenangan, sepertinya kini dia memiliki cara agar Freesia patuh kepadanya. Axel lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang agar dia bisa lebih lama bersama Freesia.


Perjalanan yang seharusnya hanya di tempuh lima menit, molor menjadi lima belas menit karena Axel sengaja melambatkan laju motornya. Kini pemuda itu menghentikan motornya di depan rumah Josh dan juga Freesia.


"Dari mana loe tau gue tinggal di sini?" tanya Freesia penasaran, seingatnya tadi dia tak memberikan petunjuk arah kepada Axel.

__ADS_1


"Loe lupa siapa gue?" ucap Axel dengan nada sombongnya.


"Ya ya tuan muda Janzsen!" Fresia lalu turun dari motor Axel dan memberikan helm yang tadi dia pakai.


"Besok gue jemput ya!"


"Ogah!"


"Ini perintah, bukan penawaran!"


"Terserah loe," Freesia hanya bisa patuh agar rahasia pernikahannya tetap aman.


Rupanya kedatangan Freesia dan Axel menarik perhatian seseorang yang berada di dalam rumah itu. Interaksi Axel dan Freesia juga mampu membangkitkan rasa penasaran pada orang itu dan akhirnya memutuskan keluar dari rumah.


"Josh," ucap Axel seraya menatap kedatangan saudara sepupunya.


Freesia menoleh, gadis itu merasa bahagia karena akhirnya Josh pulang ke rumah.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Josh tak bersahabat.


"Nganter Frey pulang!"


Josh menoleh dan menatap Frey dengan tatapan aneh. "Benar Frey?" tanyanya dan hanya di angguki oleh Freesia. "Kenapa Axel mengangarmu pulang?"


"Dia jalan kaki dan gue nggak tega," sahut Axel.


"Jalan kaki? Ulang Josh tak percaya, namun detik selanjutnya dia baru mengingat jika dia belum memberikan uang kepada Freesia.


"Pulang sana. Terima kasih tumpangannya," usir Josh tanpa perasaan.


"Gue cabut Frey," pamit Axel.


"Ati-ati Axe, makasih ya!"


Axel hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari mulut Freesia, pemuda itu lalu meninggalkan rumah Josh dengan perasaan berbunga-bunga.


"Masuk Frey, ada yang ingin aku bicarakan!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2