Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Tradisi pamit sekolah


__ADS_3

Seperti janjinya, Josh benar-benar mengantarkan Frey ke sekolah. Sepanjang perjalanan Frey merengek agar Josh menurunkannya jauh dari sekolah, namun pria itu tak menggubris dan tetap menurunkan Frey di depan pintu gerbang sekolahnya.


"Ayo mundur lagi, aku malu Josh," Frey masih merengek tak ingin turun karena kini beberapa siswa berada di depan pintu gerbang.


"Kau malu karena aku yang mengantarmu ke sekolah?" tanya Josh dengan wajah cemberut.


"Bukan begitu. Ah ya sudahlah, aku turun," bibir Frey mencebik, sebelum gadis itu berhasil turun, Josh lebih dulu menahan tangannya. "Apa lagi?" Frey terdengar sewot.


"Begitu caramu pamit?"


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Kau lupa, kau harus mencium tangan dan bibirku!"


"What, sejak kapan cium bibir jadi tradisi pamit sekolah!"


"Sejak saat ini!"


Frey memutar bola matanya malas, namun jauh di lubuk hatinya dia merasa sangat bahagia, gadis itu lalu menyalimi Josh dan mencium bibirnya sekilas. "Aku berangkat suamiku," pamitnya dengan mesra, namun yang di pamiti justru mematung setelah di panggil suamiku oleh istri kecilnya.


"Dia memanggilku apa tadi?" tanyanya pada diri sendiri. "Frey tadi kau..." Josh hendak memastikan namun rupanya Frey sudah keluar dari mobilnya. "Padahal aku ingin mendengarnya lagi," gumamnya dengan sedikit bibir terangkat, dia lalu melajukan mobilnya masuk ke dalam sekolah. Josh berencana menemui kepala sekolah dan mengucapkan terima kasih secara langsung, karena kemarin dia langsung membawa Frey pulang tanpa mengucapkan terima kasih secara layak.


Setelah memarkirkan mobilnya, Josh berjalan menuju ruang kepala sekolah. Namun dia malah tak sengaja melihat Frey bersama kedua temannya. "Dia mau kemana?" tanyanya saat melihat Frey berjalan menuju taman yang berada di belakang sekolah, karena penasaran akhirnya Josh mengikuti ketiga gadis itu dan bersembunyi di balik tembok saat ketiganya sampai di taman.


"Cepet cerita, gimana caranya loe bisa sekolah lagi?" cecar Cia yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari sahabatnya.


"Pas komite sekolah rapat, tiba-tiba Josh datang dan mengaku kalau dia suami gue," jawab Frey setengah berbisik.


"Oh my God, terus kok pihak sekolah nggak marah pas tau loe udah nikah?" sahut Kayli tak kalah penasaran.


"Kalian tau sekolah ini milik siapa?" bukannya menjawab, Frey malah melemparkan pertanyaan kepada dua sahabatnya.


"Taulah, J&J Company. Perusahaan raksasa milik Janzsen familly," jawab Cia.


"Ya dan suami gue putra pertama Janzsen familly, Joshua Janzsen!"

__ADS_1


Cia dan Kayli melongo mendengar ucapan Freesia, kedua gadis itu begitu syok sampai-sampi mereka lupa menutup mulut mereka.


"Sumpah demi apa?" ujar Cia masih tak percaya.


"Demi cintaku padamu," kelakar Frey, dia begitu menyukai ekspresi wajah kedua temannya.


"Wait, wait. Kalau Josh adalah anak pemilik sekolah, berarti Josh sama Axel saudara sepupu?" kini Kayli yang bertanya, tentang Axel yang merupakan keponakan pemilik sekolah bukanlah rahasia umum lagi.


"Yup, mereka saudara."


"Oh my God, loe bener-bener beruntung Frey!"


"Ya, gue memang beruntung, sangat beruntung karena memilikinya!"


Tak berselang lama, bel masuk sekolah berbunyi. Josh segera pergi sebelum ketahuan ketiga gadis itu bahwa dia sedang menguping. Ada perasaan senang saat Frey bilang sangat beruntung karena menikah dengannya, namun Josh juga sedikit merasa sedih karena Frey tak bisa bisa bersikap santai kepadanya sama seperti dia bersikap kepada kedua temannya.


.


.


"Bagaimana?" tanya Jennifer begitu Windy masuk ke dalam mobil.


"Ya, dia sudah kembali sekolah," jawab Windy seraya menutup pintu mobil.


"Kok bisa, pasti nenek peot itu yang membantunya!" Jennifer menggeram kesal karena rencananya sudah di pastikan gagal.


"Bukan Jenn, dari apa yang aku denger, katanya Josh datang dan mengakui Frey sebagai istrinya!"


"Kau dengar dari siapa?"


"Aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa guru di kamar mandi. Bahkan mereka sampai memanggil gadis itu dengan sebutan nona muda."


Rahang Jennifer mengatup, kedua tangannya terkepal, dia begitu marah karena tak menyangka Josh akan melakukannya. "Kalau begitu, kita sebar saja berita ini ke media."


"Kau yakin Jenn?"

__ADS_1


"Sangat yakin," Jennifer mengangkat sudut bibirnya, menciptakan sebuah seringai licik di wajah cantiknya. Senyum sinis itu segera hilang saat dia melihat mobil Josh keluar dari SMA Angkasa.


"Itu mobil Josh, ikuti dia!"


Mobil yang di tumpangi Jennifer menepi begitu mobil Josh parkir di depan toko bunga. Jennifer mengamati dari jauh saat Josh berada di dalam toko itu. Namun tiba-tiba dia terpikirkan sebuah rencana, Jennifer pun turun dari mobil dan menghampiri Josh.


"Hye dear," sapanya dengan begitu manja.


Josh pun menoleh sekilas, lalu dia mengacuhkan Jennifer dan kembali memilih bunga.


"Josh, kenapa kau mengacuhkanku?" Jennifer tak menyerah, dia kembali menghadang langkah Josh saat pria itu hendak melihat bunga di sisi yang lain.


Josh menghela nafasnya, sungguh dia tidak ingin bertemu dengan Jennifer lagi setelah insiden foto. "Ada apa?" tanyanya begitu dingin.


"I miss you so much dear," ucap Jennifer dengan wajah memelas.


Belum sempat Josh menjawab, seorang karyawan toko menghampiri Josh dan Jennifer. "Selamat siang tuan, nyonya, ada yang bisa saya bantu?"


"Emm, saya menginginkan bunga Freesia, tolong rangkaikan secantik mungkin?" jawab Josh, dia berencana memberikan bunga untuk istri kecilnya sebagai ucapan selamat karena dia sudah kembali ke sekolah.


"Baik tuan," karyawan itu pun segera pergi untuk menyiapkan pesanan Josh.


"Kau membeli bunga untukku?" tanya Jennifer penuh percaya diri.


"Bukan, aku membelinya untuk Frey karena hari ini dia kembali ke sekolah," Josh menjawab seraya menatap Jennifer dengan tatapan yang sulit di artikan, amarah dan kecewa begitu jelas dari sorot matanya. Dia tak menyangka jika selama ini dia tak mengenali Jennifer dengan baik.


"Frey, Frey dan Frey, apa kau mencintainya?" Jennifer menatap Josh dengan mata berkaca-kaca, jujur saja hatinya terasa sakit saat tau Josh telah melupakannya dan mencintai wanita lain. "Kenapa tak kau jawab Josh, kau ragu kan? Dengarkan aku Josh, yang saat ini kau rasakan bukanlah cinta. Frey hanya pelarian, perasaan yang kau rasakan saat ini bukanlah cinta, tapi rasa terima kasih karena Frey telah bersedia menggantikanku di pernikahan kita. Kau hanya kasian pada gadis itu karena dia telah mengorbankan hidupnya untuk membantu keluargamu. Aku sangat yakin kau masih mencintaiku Josh. Jangan bohongi perasaanmu, gadis itu hanya pelarianmu karena kau kecewa padaku!"


"Kau yang harus dengar aku Jenn. Perasaanku sudah lama hilang untukmu, tepat bersamaan saat aku melihat langsung pengkhianatanmu! Dan asal kau tau, entah itu rasa terima kasih atapun rasa kasihan, saat ini aku merasa nyaman bersama Frey, dia membuatku tenang, dan yang paling penting dia begitu tulus mencintaiku!"


"Tulus? Hahah," Jennifer mentertawakan ucapan Josh. "Di dunia ini tidak ada ketulusan Josh, aku yakin dia mau denganmu karena kau kaya raya!"


"Dia tidak sama sepertimu!" Josh mulai geram, pria itu memilih menyingkir sebelum emosinya terpancing. Josh menghampiri seorang karyawan di kasir dan meminta tolong agar bunga pesanannya di kirimkan ke rumah. Setelah membayar pesanan bunganya, Josh segera keluar dari toko bunga itu dengan perasaan tak karuan, sedikit banyak ucapan Jennifer mempengaruhinya.


"Benarkan ini hanya rasa terima kasih?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2