Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Gadis tangguh


__ADS_3

Freesia duduk termenung seraya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Gadis itu tengah merutuki kebodohannya sehingga dia harus terjebak dalam pernikahan tak masuk di akal bersama Josh, meski di satu sisi Freesia merasa senang karena semua mimpi dan doanya seolah di kabulkan oleh Tuhan, namun tetap saja pernikahan tersebut membuatnya khawatir.


"Nona Freesia dimana kita harus menemui bibimu? Maksudku kita harus ke toko bunga atau ke rumahmu?" tanya Josh memecah keheningan, Freesia yang masih larut dalam lamunannya tak merespon pertanyaan pria yang duduk di sebelahnya.


"Nona Freesia," ulang Josh seraya menepuk lengan gadis itu.


"Eh, iya, ada apa?" ucap Freesia dengan wajah linglung.


"Kita harus kemana? Ke rumah atau toko bunga?" Josh kembali mengulang pertanyaannya, pria itu merasa bersalah saat sekilas melihat wajah bingung Freesia.


Freesia memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangannya, saat itu juga dia baru menyadari jika sebuah cincin bertahtakan berlian tersemat di jari manisnya. Gadis itu kembali melamun, menatap lekat cincin yang menghiasi jemarinya.


"Nona Freesia," panggil Josh karena tak mendapat jawaban dari Freesia.


"Masih jam lima sore, bibi pasti masih di toko," jawab Freesia setelah mengembalikan kesadarannya, gadis itu lalu kembali menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan sore kota Jakarta.


Tak lama kemudian, Josh menepikan mobilnya di seberang toko bunga milik Anne, pria itu hendak mendiskusikan kembali mengenai pernikahan mereka.


"Nona Freesia, sepertinya kita harus membicarakan ini sebelum bertemu dengan bibimu," ucap Josh seraya menatap gadis yang kini juga tengah menatapnya.


"Sepertinya memang harus," jawab Freesia pelan.


Prang...


Dari kejauhan terdengar suara keributan di sertai pecahan kaca, Freesia dan Josh menoleh dan menatap lurus ke arah sumber keributan tersebut. Freesia membelalakan matanya saat melihat beberapa preman bertubuh sangar keluar dari toko Anne. Tak lama kemudian Anne turut keluar dari toko tersebut dengan penampilan lusuh, wajahnya terlihat memerah seperti bekas terkena pukulan.


"Siapa mereka?" tanya Josh penasaran.


Freesia hanya diam, tak mampu menjawab pertanyaan pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Freesia sangat mengenali para preman tersebut, mereka adalah anak buah dari lintah darat yang beberapa bulan terakhir menjerat Anne. Sebelumnya Anne tak pernah memiliki hutang, sampai satu tahun yang lalu tiba-tiba toko bunganya mengalami rugi besar karena sebuah kebakaran. Beberapa cara telah Anne lakukan untuk kembali membuka toko bunganya, semua tabungannya dia pakai untuk merenovasi toko yang menjadi sumber penghasilannya, namun sayang tabungannya tak cukup banyak hingga mengharuskan Anne mencari uang tambahan. Anne pernah mengajukan pinjaman ke beberapa bank, namun semuanya di tolak karena Anne tak memiliki jaminan,sampai akhirnya Anne nekat meminjam uang pada lintah darat tersebut.


"Tuan Josh, apa yang akan anda berikan jika saya bersedia melanjutkan pernikahan ini?" Freesia menoleh dan menatap Josh dengan mata berkaca-kaca.


"Apa maksudmu?" tanya Josh kebingungan.


"Kata Lynda saya harus melanjutkan pernikahan ini demi menjaga nama baik keluarga anda kan?"

__ADS_1


"Hem," Josh hanya bergumam karena merasa bersalah pada gadis kecil itu.


"Berapa lama kita harus melakukan pernikahan ini?"


Josh cukup terkejut mendengar pertanyaan Freesia, namun Josh merasa ada angin segar karena artinya dia tidak akan mencoreng nama keluarganya untuk saat ini. "Mungkin selama setahun sampai mereka lupa jika kita sudah menikah," jawab Josh terlihat ragu-ragu.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan membantu anda, tapi anda juga harus membantu saya?" ucap Freesia tanpa keraguan sedikitpun, matanya yang berkaca-kaca terpancar sebuah tekad yang amat besar.


"Katakan apa yang harus aku lakukan?" tanya Josh.


"Bisakah anda membayar semua utang bibi saya, totalnya mungkin sekitar seratus juta rupiah!"


Josh kembali di buat terkejut, untuk ukuran gadis remaja, Freesia di nilai terlalu berani dalam bersikap, Josh tak menyangka jika Freesia akan mengorbankan dirinya demi sang bibi.


"Apa preman tadi datang untuk menagih hutang?"


Freesia hanya mengangguk. "Bagaimana, apa anda setuju?"


"Kau tidak akan menyesal?" tanya Josh memastikan sebelum dia menyetujui persyaratan Freesia.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan bahas mengenai kontrak pernikahan ini nanti. Sekarang kita hanya perlu menemui Anne, Lynda juga sudah menunggu di belakang!"


Freesia mengangguk pelan, jantungnya berdegup begitu cepat saat Josh kembali melajukan mobilnya dan kini sudah terparkir di depan Anne Florist, Freesia begitu gugup, gadis itu bahkan sampai meremas tangannya sendiri.


"Kau baik-baik saja?" tanya Josh khawatir, pasalnya wajah Freesia terlihat pucat.


"Ya, saya baik-baik saja," jawab Freesia dengan cepat, gadis itu lalu turun dari mobil dengan wajah menegang.


"Gadis tangguh," gumam Josh, pria itu lalu menyusul Freesia turun dari mobil.


"Kenapa kalian berhenti lama sekali," keluh Lynda yang juga turut turun dari mobilnya. "Pak Budi, kau tunggu saja di mobil," titah Lynda pada sopir pribadinya.


"Ayo masuk Granny!" Freesia masuk ke dalam toko di susul Josh yang mendorong kursi roda Lynda. Ketiga orang itu terkejut mendapati toko bunga yang sangat berantakan.


"Bi," ucap Freesia dengan bibir bergetar, gadis kecil itu menghampiri Anne yang sedang merapikan bunga-bunganya.

__ADS_1


"Frey kenapa kau baru pulang, bibi sangat khawatir," ucap Anne sedih, wanita itu lalu memeluk keponakannya. Dalam hati Anne merasa bersyukur karena Freesia pergi saat para preman itu datang.


"Maaf bi," hanya kata maaf yang mampu Freesia ucapkan.


Anne melepas pelukannya, wanita itu lalu menatap wajah keponakannya yang terlihat berbeda. "Kau memakai riasan?" selidik Anne.


Freesia menyentuh wajahnya, gadis itu baru teringat jika dia lupa menghapus make up yang menghiasi wajah cantiknya.


"Ekhem."


Belum sempat Freesia menjawab pertanyaan sang bibi, kedua wanita itu menoleh saat mendengar deheman Lynda.


"Tuan Josh," sapa Anne yang segera mengenali Josh. "Maaf tuan, toko kami sudah tutup," ucap Anne yang mengira Josh datang untuk membeli bunga.


"Saya datang bukan untuk bunga, saya datang karena ingin meminta Freesia dari anda!"


"Apa maksud anda?" tanya Anne, wanita cantik itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Kami sudah menikah dan kami ingin memberi tahu anda akan hal itu!"


"Apa? Me-menikah? Haha... Tuan Josh, anda lucu sekali. Fresia itu baru berusia 18 tahun, dia bahkan masih sekolah jadi mana mungkin kalian menikah," ujar Anne tak percaya.


"Maaf bi, yang di katakan tuan Josh memang benar, kami sudah menikah!"


Anne kembali menatap keponakannya, wanita itu masih belum percaya dengan ucapan mereka. "Frey jangan bercanda denganku, aku sedang tidak mood untuk bercanda!"


"Tapi Frey serius bi, kami sudah menikah!" tegas Freesia seraya menunjukan cicin di jari manisnya.


Seakan dunianya runtuh, Anne merasa kepalanya tertimpa beban yang sangat berat. Keponakan yang dia jaga dengan segenap hidupnya tiba-tiba mengaku telah menikah dengan pria asing yang baru di temuinya beberapa bulan yang lalu. Harapan besar Anne terhadap Freesia seakan pupus, wanitas itu merasa sesak seolah Freesia telah mengkhianatinya.


"Maaf bi, maaf," batin Freesia pilu, tapi dia harus tetap tegar demi Anne, melihat wajah Anne yang bengkak membuat Freesia semakin yakin jika keputusannya benar.


"Pergi dari sini, aku tak sudi melihatmu lagi!"


BERSABUNG...

__ADS_1


__ADS_2