
"Dari mana anda mendapatkan gelang itu?" tanya Maggie dengan mata memerah, nafas wanita tua itu memburu begitu melihat benda yang melingkar di tangan Katherine.
"Ah ini, ini milik seseorang yang menyelamatkan hidup saya," jawab Katherine seraya menyentuh gelang dengan liontin berbentuk daun semanggi.
"Saya rasa itu sebuah kalung?" Maggie mencoba bersikap tenang, wanita itu lalu menyentuh liontin yang sebenarnya berbahan dasar batu giok berwarna hijau dan di lapisi emas.
"Ya, ini memang kulung," Katherine membenarkan ucapan Maggie, dia membiarkan Maggie menyentuh kelung tersebut karena sepertinya wanita itu tertarik.
Maggie menahan nafasnya, wanita tua itu membalik liontin tersebut, betapa terkejutnya dia saat dia melihat ukiran huruf FZ di balik liontin tersebut. "Fedrik," gumamnya dengan mata berkaca-kaca, tangan tuanya bergetar seiring ingatan masa lalunya yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Tubuh Maggie limbung, untung saja Josh sigap menahan tubuh tua.
"Nyonya anda baik-baik saja?'" tanyq Josh khawatir.
"Saya baik-baik saja tuan Josh. Bisa antar saya ke mobil, saya harus pergi sekarang!"
Josh mengangguk, dia lalu memapah Maggie hingga wanita tua itu masuk ke dalam mobilnya. "Terima kasih tuan Josh," ucapnya sebelum meninggalkan kediaman Josh.
"Andrew, cari tau bagaimana kalung Fedrik ada di tangan wanita itu!"
.
.
Katherine menatap kalung yang sudah sejak lama melingkar di pergelangan tangannya, sekilas wajahnya berubah sendu dengan mata kemerahan.
"Momy baik-baik saja?" tanya Frey yang sejak tadi mengamati perubahan sikap Katherine.
"Hem, mom baik-baik saja," jawabnya dengan senyum palsu.
Josh datang menghampiri kedua wanita itu, dia memberikan segelas air putih untuk momy nya. "Sebenarnya ada apa mom?" tanya Josh yang sejak tadi penasaran mengapa Katherine meminta tinggal di rumahnya.
Katherine menghabiskan air putih tersebut dan menaruh gelas kosong di atas meja. Wanita itu lalu menunduk seraya memutar cincin kawin yang masih terpasang di jari manisnya. "Setiap melihat Jimmy, momy sangat muak, momy merasa jijik Josh," ucap Katherine setelah cukup lama diam. "Momy merasa sangat bodoh karena selama ini tertipu oleh Jimmy."
Frey meraih tangan Katherine dan menggenggamnya erat. "Momy boleh kok tinggal di sini, Frey malah senang karena punya teman di rumah ini."
Josh menoleh ke arah istrinya, sebenarnya dia kurang setuju Katherine tinggal di rumahnya karena artinya dia tidak bisa bermesraan dengan leluasa. Namun karena istrinya sudah mengizinkan, Josh hanya bisa pasrah dan setuju.
__ADS_1
"Apa Lynda tau momy pergi dari rumah?"
"Tau Josh."
"Syukurlah. Setidaknya Lynda tidak akan panik mencari momy. Momy pasti lelah, lebih baik momy istirahat. Mbok Endang sudah merapikan kamar momy."
"Terima kasih Josh, terima kasih Frey karena mengizinkan momy tinggal di sini."
"Jangan sungkan mom, rumah ini juga rumah momy," Frey lalu mengajak Katherine naik ke lantai dua, sementara Josh mengekor dengan membawa dua koper besar milik sang momy.
"Panggil Frey kalau momy butuh sesuatu ya!" kata Frey setelah masuk ke dalam kamar yang akan di tempati Katherine. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk dan membiarkan Frey keluar dari kamarnya.
Frey menghampiri Josh yang berada di kamarnya, pria itu berbaring di atas ranjang dan Frey segera menyusulnya. Tangannya melingkar di perut Josh dan kepalanya bersembunyi di ketiak Josh.
"Aku suka bau ketekmu," ujar Frey dengan kekehan kecil di mulutnya.
"Hanya suka bau ketekku, tidak suka yang lain?" jawab Josh dengan senyuman nakal.
"Aku menyukai semuanya Josh," aku Frey, gadis kecil itu menatap wajah Josh dan dengan nakalnya mencium bibir sang suami dengan lembut.
"Jangan menggodaku love," Josh menangkup wajah cantik Frey setelah gadis itu melepas pagutannya.
"Tapi aku jadi tergoda karena ciuman itu!"
"Salah siapa selalu berpikiran mesyum," Frey tertawa begitu lebar, namun seketika tawanya redup saat Josh membungkam mulutnya dengan ciuman lembut namun memabukan.
"Eumph..." Frey mencoba melepaskan diri, namun Josh menahan tengkuknya dengan kuat. Karena tak bisa lari, Frey memilih membalas ciuman Josh. Keduanya larut dalam keintiman, suara decapan menggema di kamar mereka.
"Bibirmu sangat manis, aku menyukainya," ucap Josh seraya menyeka sisa saliva di bibir Frey.
"Karena aku sudah memberi ciuman, apa sekarang aku boleh bertanya sesuatu?" Frey kini berbaring di sebelah Josh dengan berbantal lengan kekar suaminya.
"Apa yang ingin kau tau?"
"Mm, soal kalung itu," Frey ragu untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau banyak Love. Momy tidak pernah cerita, dia hanya bilang kalung itu milik seseorang yang menyelamatkan hidupnya," jelas Josh seadanya, semenjak kecelakaan pesawat sepuluh tahun silam Katherine memang lebih tertutup.
"Mm. Josh, apa kau merasa aneh dengan nyonya Maggie? Saat melihat kalung itu sepertinya dia mengenalinya."
"Entahlah Love," Josh merubah posisi tidurnya, pria itu menyamping sehingga bisa melihat wajah Freesia. "Jangan terlalu dekat dengan orang itu. Saat dia menatapmu aku merasa tidak nyaman. Tatapannya begitu tajam. Lebih baik kita menjaga jarak."
"Iya Josh, aku juga merasa dia sedikit aneh. Aku akan menghindar jika bertemu dengannya lagi."
"Good girl," Josh membelai wajah Frey lalu mengecup keningnya.
.
.
Anne kembali ke villa yang di tempati oleh Maggie selama mereka berada di Indonesia. Sebelumnya Anne pergi ke rumah lamanya, dia berharap bisa melihat Frey di sana Anne juga pergi ke toko bunganya, namun dia tak menemukan apapun selain kerinduan kepada keponakannya. Ingin rasanya Anne menemui Frey di rumah Josh, namun keberaniannya hilang begitu dia berada di depan gerbang rumah yang di tempati Freesia. Anne belum siap, Anne belum menemukan jawaban yang pas saat Frey bertanya mengapa Anne mengusirnya dan menghilang dalam beberapa pekan.
Anne bersembunyi di balik tembok saat tak sengaja mendengar percakapan Maggie dengan Asistennya.
"Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Maggie.
"Nyonya Katherine juga berada di dalam pesawat itu nyonya. Kemungkinan dia bertemu tuan Fedrik di pesawat."
"Lalu bagaimana kalung Fedrik ada bersamanya?"
"Maafkan saya nyonya. Saya tidak menemukan informasi apapun mengenai hal itu!"
Maggie mengepalkan kedua tangannya. Wanita itu menoleh ke samping dengan wajah penuh amarah. "Lakukan dengan capat. Hancurkan keluarga Janzsen sampai habis tak tersisa. Mereka tak pantas hidup setelah putraku mati!"
"Tapi nyonya, bagaimana dengan nona muda. Dia berada di tengah keluarga Janzsen sekarang!"
"Aku yang akan mengurusnya. Jika dia memihak suaminya maka aku tak akan segan-segan untuk menghancurkannya juga. Melihat wajahnya mengingatkanku pada wanita sial itu!"
"Baik nyonya."
Anne menelan ludahnya dengan kasar. Rupanya Maggie tetaplah Maggie. Wanita tua yang hatinya di penuhi oleh kebencian. Anne pikir Maggie akan menerima Frey, nyatanya Frey hanya akan di jadikan alat untuk balas dendam.
__ADS_1
"Aku harus menyelamatkan Freesia!"
BERSAMBUNG...