Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Sebuah mimpi


__ADS_3

"Ibu, kita mau kemana?" tanya seorang gadis kecil pada seorang wanita yang tengah memakaikan ikat rambut di kepalanya.


"Kita akan pergi menemui oma," jawab wanita itu sambil tersenyum.


"Oma, apa aku punya oma?" tanya si kecil dengan antusias.


"Tentu saja Love, kau punya seorang oma yang sangat hebat," terang wanita itu.


"Apa kalian sudah siap?" seorang pria bertanya dari balik pintu.


"Sudah yah," sahut sang wanita itu, dia lalu membenahi kalung putrinya karena liontinnya terbalik. "Jangan pernah lepas kalung ini Love, ini adalah kalung ayah yang sangat berharga," pesan wanita itu pada gadis kecilnya, sang gadis hanya mengangguk patuh, dia lalu menuntun gadis kecilnya keluar kamar.


"Wah anak ayah sangat cantik," puji pria itu seraya mengusap kepala si gadis kecil.


"Ayah, aku memang selalu cantik seperti ibu," sahut sang gadis kecil dengan penuh percaya diri.


"Ya sudah ayo kita ke bandara," ajak sang pria namun wanita itu menahan tangannya. "Ada apa Seruni?" tanyanya sambil menatap wajah istrinya.


"Fedrik, kau yakin ibu akan menerima ku dan juga Freesia?" tanya Seruni dengan cemas.


"Jangan khawatir. Dia pasti akan menerima kalian, sudah saatnya keluarga kita bertemu dan saling menerima satu sama lain!"


"Ya semoga saja begitu."


Ketiganya lalu berangkat menuju bandara. Setibanya di bandara mereka di sambut baik oleh pihak maskapi dari J&J Airlines. Maskapi anyar yang akan melakukan penerbangan perdananya siang ini. Fedrik sengaja memesan tiket first class untuk keluarga kecilnya, dia ingin anak dan istrinya merasa nyaman dalam perjalanan.


"Fed, apa tidak boros, kau memesan tiket first class?" tanya Seruni setibanya mereka di dalam pesawat.


"Sayang, aku ingin anak kita merasa nyaman, ini pertama kali Love naik pesawat kan?"


Seruni hanya tersenyum, dia lalu duduk bersebelahan dengan Freesia sementara Fedrik berada di kursi lain. Lima menit sebelum pesawat lepas landas, seorang wanita cantik datang dengan tergesa-gesa, sepertinya wanita cantik itu hampir tertinggal.


Mata Freesia tak berkedip sama sekali, gadis kecil itu menatap lekat wanita asing yang duduk tak jauh darinya. Wanita cantik itu menyadari jika seorang gadis kecil tengah menatapnya.


"Hye baby girl," sapa wanita cantik itu.


"Hye aunty, you're so beautifull," puji Freesia dengan wajah polosnya.


"Oh, teriman kasih. Kau juga sangat cantik sweet heart."


"Saat besar nanti, aku ingin menjadi wanita cantik seperti aunty," ucap Frey.

__ADS_1


"Tentu saja, saat besar nanti kau akan lebih cantik dari aunty."


Keduanya saling melempar senyum, sampai pesawat mengudara, Frey kerap mencuri pandang pada wanita yang duduk tak jauh darinya. Dalam hatinya terus berkata bahwa dia akan tumbuh menjadi gadis cantik seperti wanita asing itu.


Penerbangan berjalan dengan normal, hingga tiga puluh menit kemudian pesawat mulai terbang tak terkendali. Kru pesawat mengintruksikan semua penumpang untuk memakai jaket pelampung.


"Seruni, cepat pakai jaket pelampungnya," teriak Fedrik dari arah belakang.


"Ya Fed, aku sedang memakaikan untuk Frey," sahut Seruni, Semua penumpang nampak panik, Seruni lalu memakaikan jaket pelampung untuk Freesia.


"Love, kau tau cara menggembungkannya kan?" tanya Seruni dengan wajah panik.


"Ya bu, aku tau. Kakak cantik tadi sudah menjelaskan cara menggembungkannya. Kakak cantik juga melarang menggembungkan jaket ini di dalam pesawat," jawab Frey dengan wajah polos, dia sama sekali tidak tau jika pesawat yang dia naiki sedang mengalami masalah.


"Anak pintar," Seruni lalu kembali ke tempat duduknya, dia berniat memakai jaket pelampung, namun sebelum itu terjadi, pesawat terus menukik dengan kecepatan tinggi. Tubuh Seruni terpental. Fedrik hanya bisa berteriak histeris melihat tubuh istrinya seolah melayang-layang di dalam pesawat.


"Ibu," Freesia menangis, detik selanjutnya terdengar suara dentuman yang cukup keras. Tak lama kemudian badan pesawat mulai di penuhi air. Pesawat yang mereka tumpangi jatuh di lautan lepas.


"Ibu, aku takut," ucap Frey, gadis kecil itu menangis sesegukan saat air laut sudah setinggi batas lehernya. Gadis kecil itu lalu mengingat kembali intrusksi dari kru pesawat, dengan tangan mungilnya dia mulai melepas sabuk pengaman dan menggembungkan jaket pelampungnya.


"Ibu, ayah, dimana kalian?" Frey berteriak mencari keberadaan kedua orang tuanya. Sementara itu badan pesawat hampir di penuhi oleh air. Beruntungnya Freesia karena ada salah satu kru pesawat yang masih hidup dan mendengar tangisan Frey. Kru pesawat tersebut membuka pintu darurat dan akhirnya Frey bisa keluar dari tubuh pesawat.


Namun masalah tak sampai di sana, Frey menatap hamparan lautan luas di sisi kanan dan kirinya, gadis kecil itu baru menyadari jika dia tengah terombang-ambing di lautan lepas.


"Aaa," Frey berteriak histeris tepat bersama bunyi ledakan yang berasal dari pesawat. Tepat di depan matanya, pesawat yang mengangkut keluarga kecilnya meledak dan hancur menjadi puing-puing kecil. Beberapa orang yang sempat keluar dari pesawat dan selamat mulai putus asa, percuma saja mereka hidup jika mereka terdampar di tengah lautan.


"Jangan menangis, ayo kita berenang mencari tepi," ajak kru pesawat yang sempat menolongnya.


"Tapi ayah dan ibuku belum datang," tolak Frey.


"Mereka pasti akan datang."


Frey akhirnya menurut, dia mulai berenang mengikuti beberapa korban yang selamat. Untuk yang terakhir kalinya Frey menoleh dan berharap kedua orang tuanya menyusulnya di belakang. Dari kejauhan Frey melihat tangan seseorang menyumbul di antara birunya air laut. Tanpa sepengetahuan orang lain, Frey berengang menghampiri tangan tersebut.


"Tolong," kepala seseorang keluar dari dalam air, nafasnya memburu karena kehabisan oksigen.


"Aunty," ujar Frey setelah menyadari wanita itu adalah wanita cantik yang bertemu dengannya di pesawat.


"Baby girl, tolong aunty. Aunty tidak memakai jaket pelampung."


"Wait aunty," entah keberanian dari mana yang di dapat gadis kecil itu. Dia berenang menuju pecahan tubuh pesawat. Seperti keajaiban, dia menemukan jaket pelampung yang sudah menggembung. Dengan cepat Frey meraih benda itu dan membawanya kepada wanita cantik yang hampir tak bisa berenang lagi.

__ADS_1


"Aunty pegang ini. Ayo kita berenang mengikuti orang-orang di sana," ajak Freesia, siapa yang akan menyangka jika gadis pemberani itu masih berusia 8 tahun. Frey dan wanita itu lalu berenang tanpa arah. Setelah beberapa jam lamanya terombang-ambing di laut lepas, Frey mulai kehilangan tenaga. Begitupun dengan wanita cantik yang berenang bersamanya.


"Aunty, aku lelah," ucap Frey, dia tak sanggup untuk berenang lagi.


"Bertahanlah sweet heart, kita harus selamat!"


"No aunty. Aku tidak sanggup berenang lagi."


Wanita cantik itu menangis seraya mengusap wajah Freesia. Dia mulai putus asa dan juga kelelahan.


"Kenapa aunty menangis," tanya Freesia, sesekali air laut masuk ke dalam mulutnya.


"Aunty sedih. Anak-anak aunty pasti sedang menangis dan menunggu aunty pulang!"


"Aunty, apa aku boleh tau siapa nama aunty?"


"Kathe." jawab wanita itu singkat.


"Aunty pasti akan pulang dan bertemu mereka," ujar Frey dengan nafas yang mulai melemah.


"Baby girl, are you okay?" Wanita bernama Kathe itu panik melihat bibir Frey mulai membiru.


"Love. Namaku Love aunty."


"Love. Kau harus bertahan. Kita akan selamat. Aunty mohon bertahanlah!"


Byurr...


Sapuan ombak memisahkan Frey dan Kathe, dengan sisa tenaga yang Kathe miliki, wanita itu berenang mengejar tubuh mungil Frey. Sepertinya takdir memang ingin mereka bertemu, Kathe berhasil menjangkau tubuh Frey. Dia menarik pelampung di tubuh Frey dan kembali berenang.


Namun Kathe mulai melemah, tenaganya habis setelah berenang berjam-jam lamanya.


Byur...


Ombak kembali menyapu tubuh Kathe dan Frey, keduanya sudah sama-sama kehilangan kesadaran.


.


.


Frey membuka matanya dengan nafas yang memburu. Dia baru saja kembali dari mimpi panjangnya. Gadis itu lalu menangis begitu mengingat mimpi yang baru saja dia alami. Rasanya sangat sesak, seolah mimpi itu adalah sebuah kenyataan.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?"


BERSAMBUNG...


__ADS_2