
Setelah makan malam, Frey dan Anne duduk di ruang keluarga sambil menikmati buah-buahan. Frey terlihat begitu lahap padahal dia baru saja makan malam. Sementara itu Jo dan Josh berada di ruang kerja Maggie untuk membahas masalah pekerjaan. Maggie tau jika Josh sedang mengambil cuti terbang wanita tua itu ingin mengajak Josh bergabung dengan Jo untuk meneruskan perusahaan Zantman Group.
"Bagaimana Josh, apa kau mau membantu Jo mengurus perusahaanku?" tanya Maggie dengan wajah serius.
"Maaf oma, tapi saya tidak pandai berbisnis. Lagi pula saya berencana mengajak Frey keliling dunia setelah bayi kami lahir," tolak Josh secara halus, seandainya dia harus berhenti menjadi pilot dia akan memilih meneruskan perusahaan keluarganya untuk menjaga perasaan Lynda dan Jimmy karena setelah Jo memutuskan untuk bergabung dengan Zantman Group, J&J Company kehilangan penerus perusahaan, satu satunya harapan keluarga tinggal Jovanka, namun mereka sadar betul bagaimana peringai Jovanka, gadis nakal itu tidak bisa di andalkan.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi Zantman Group selalu terbuka untukmu!" Maggie sedikit kecewa dengan keputusan Josh, apalagi tentang rencana Josh mengajak Frey dan anak mereka keliling dunia, bukankah artinya Maggie akan jarang bertemu Frey dan cicitnya kelak.
"Terima kasih oma, kalau begitu saya permisi!"
Josh dan Jo lalu keluar dari ruang kerja Maggie, mereka menghampiri istri-istri mereka yang sedang berbincang.
"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali?" tanya Jo seraya merangkul pundak istrinya, namun tangannya segera di tepis Anne dan membuat Frey serta Josh tertawa.
"Kami sedang membicarakanmu Jo," jawab Frey dengan senyuman jahil.
"Me?" Jo menunjuk wajahnya sendiri. "Ada apa dengan diriku?" tanyanya penasaran.
"Soal kau pingsan saat kita di Afrika!" sahut Anne tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Jo menelan ludahnya dengan kasar, bisa-bisanya mereka membahas hal yang sangat memalukan sepanjang hidupnya. Sementara Josh tertawa terpingkal-pingkal membayangkan kembarannya pingsan gara-gara melihat tubuh Anne yang hampir polos.
"Berhenti kau Josh!" teriak Jo dengan kesal, dia sangat malu dan ingin menghilang saat ini juga.
"Maaf Jo, aku tidak bisa menahan tawaku!"
__ADS_1
"Berhenti atau aku akan membunuhmu Josh!"
Bukannya berhenti, Josh malah semakin terbahak-bahak bahkan dia sampai menangis.
"Cukup Josh, kasian Jo, dia pasti sangat malu. Dia adalah pria yang polos Josh," ucap Frey yang semakin membuat Jo kesal.
"Kalian memang serasi, sama-sama suka mentertawakan penderitaan orang lain!" gerutu Jo dengan wajah masam dan bibir mencebik
"Salah siapa kau pingsan di saat yang penting Jo," kini giliran Anne yang turut menggoda suaminya.
"Semua itu salah mu Ann, kau tiba-tiba datang dan menyerahkan diri. Untung saja aku tidak mati karena terkena serangan jantung waktu itu!"
"Ya ya, semua memang salahku!"
Keempat orang itu lalu kembali tertawa saat membahas hal-hal memalukan yang pernah mereka lewati. Sementara itu Maggie tersenyum melihat keramaian di dalam rumahnya, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dia ingin kehangatan ini selalu menemani masa tuanya.
"Benar nyonya, semoga mereka selalu akur dan hiduo bahagia," sahut Andrew dengan doa dan harapan yang terselip di dalam ucapannya.
Karena sudah malam, Frey dan Josh pamit untuk pulang. Sebenarnya Josh ingin menginap namun Frey menolaknya karena dia ingin tidur di rumah. Akhirnya Maggie merelakan Frey pulang malam ini setelah sebelumnya Frey berjanji akan menginap di lain waktu.
Sepanjang perjalanan pulang Frey tak henti-hentinya tertawa karena mereka membicarakan hal-hal lucu. Sesekali Josh memegangi perut istrinya karena Frey terus mengatakan jika bayinya menendang.
"Oh my God, aku merasakannya Love. Dia menendang, dia pasti ingin menyapa dady nya," ujar Josh dengan semangat, untuk pertama kalinya dia bisa merasakan pergerakan calon anaknya.
"Dia pasti tidak sabar ingin melihat kita Josh!"
__ADS_1
"Tunggu dua bulan lagi my princes!" Josh mengusap perut Frey dengan lembut. Dia begitu senang, kebahagiaannya lengkap sudah. Dia memiliki istri yang sangat dia cintai dan sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang hadir di tengah mereka.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Josh tak bisa melihat jalanan dengan jelas karena ulah pengendara nakal yang menembakan lambu sorot ke arahnya membuat mata Josh silau, dan dalam waktu yang bersamaan sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi dan mengarah ke mobil yang Josh kendarai.
"Josh awas!!" Frey berteriak histeris saat dia menyadari jika truk tersebut mengicar mobil mereka.
Josh mengijak rem dan membanting setir ke kiri, namun truk tersebut sama sekali tak berhenti dan semakin bergerak tak terkendali sampai akhirnya tabrakan pun tak terhindarakan. Truk tersebut menghantam mobil Josh dengan keras dan mengakibatkan mobil Josh terbalik.
Josh yang masih sedikit sadar segera mencari keberadaan Frey, pria itu seakan berhenti bernafas saat melihat Frey tak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah. Josh berusaha membuka sabuk pengamannya, dengan sisa tenaga yang dia miliki dia keluar dari mobil meski sekujur tubuhnya terluka parah.
Josh berjalan terseok-seok mengitari mobilnya dan berusaha membuka pintu untuk Frey.
"Aku mohon bertahanlah Love," Josh masih berusaha membuka pintu tersebut, hingga akhirnya dia berhasil membuka pintu dan mengeluarkan tubuh istrinya.
Josh membawa tubuh Frey ke tepi jalan, pria itu memeluk tubuh istrinya dengan tangis histeris. sekujur tubuh Josh bergetar menyaksikan darah terus mengalir dari sela kaki istrinya, untuk pertama kalinya dia merasakan ketakutan yang teramat sangat.
"Arrh, sayang aku mohon buka matamu, bertahanlah aku mohon," ucap Josh dengam wajah berlinang air mata bercampur darah, tubuhnya mulai menggigil dan pandangannya mulai samar. "Ah, tolong selamatkan istri dan anakku," teriaknya dengan suara bergetar, Josh semakin mempererat pelukannya. Dia seolah telah pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Aku mencintaimu Frey, sangat mencintaimu!"
Detik berikutnya Josh semakin merasa lemah, sebelum matanya benar-benar tertutup dia bisa melihat buliran bening di sudut mata Frey. Jika memang ini akhirnya, Josh hanya berharap istri dan anaknya bertahan hidup.
"Aku menyayangi kalian."
Dan kalimat itulah yang terakhir kali terucap dari mulut Josh, pria itu jatuh tak sadarkan diri di sebelah tubuh istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...