
Setelah semalaman meratapi kisah cinta monyetnya, pagi hari Freesia bangun dengan tubuh yang terasa begitu lemah dan suhu tubuh yang cukup tinggi. Freesia bahkan menggigil padahal tubuhnya masih terbungkus selimut tebal.
Suara ketukan pintu di susul terikan Anne dari balik pintu membuat Freesia terpaksa bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Frey sudah bangun bi," ucapnya dengan suara serak, wajah pucatnya menyumbul dari balik pintu yang tak terbuka sepenuhnya.
"Frey, kenapa wajahmu pucat sekali," Anne terlihat panik, wanita itu lalu menyentuh kening keponakannya dengan punggung tangan. "Astaga, kau demam," pekiknya khawatir, Anne lalu membawa Freesia kembali masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.
"Tunggu sebentar, bibi akan mengambil obat!"
Anne berlari keluar dari kamar ponakannya, tak lama kemudian Anne kembali membawa kotak obat dan segelas air putih serta sepotong roti.
"Makan rotinya lalu minum obat!" Anne membantu ponakannya untuk duduk, bukan Anne namanya jika tak berhasil membujuk Freesia untuk menghabiskan sepotong roti yang di bawanya, jangan lupakan obat penurun panas yang Anne paksa agar masuk ke dalam mulut Freesia.
"Gadis pintar," ujar Anne seraya menepuk pelan kepala Freesia. "Hari ini lebih baik kau istirahat di rumah, bibi akan minta izin pada wali kelasmu!"
Freesia hanya mengangguk, kepalanya yang berdenyut membuat gadis kecil itu menuruti perkataan bibinya.
"Bibi harus ke toko, segera hubungi bibi jika demammu semakin parah!"
"Iya bi," jawab Freesia lemah.
Sementara di sekolah, Kaily dan Cia merasa kesepian karena Freesia tidak datang ke sekolah. Saat jam istirahat, kedua gadis itu menghabiskan waktu di kantin untuk makan siang.
"Hufh," desah Cia seraya mengaduk-aduk spageti carbonara miliknya.
"Please stop, udah berapa kali loe mendesah kaya gitu," protes Kaily pada sahabatnya.
"Gue kangen Frey," ujar Cia bernada sedih, gadis itu lalu menatap kesal pada Kaily yang masih sibuk menyantap salmon mentai miliknya. "Dan elo masih aja rakus padahal sahabat kita lagi sakit!"
"Freesia cuma demam Cia, dia nggak kritis," jawab Kaily dengan mulut penuh.
"Loe nyumpahin Frey kritis?" Cia melotot tak terima.
"Bukan gitu maksud gue," ujar Kaily membela diri.
Cia memutar bola matanya malas, gadis itu lalu mendorong piringnya ke depan Kaily. "Nih abisin sekalian makanan gue."
"Loe nggak makan?"
Cia hanya menggeleng, gadis itu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan berniat menghubungi Freesia. Namun belum sempat Cia mendial nomor Freesia, gadis itu di kejutkan akan kehadiaran cowok paling populer di sekolahnya.
"Axel," ucap Cia tertahan, dia tak percaya Axel menghampirinya.
"Dimana Frey?" tanya Axel to the point.
__ADS_1
"Frey?" ulang Cia dengan wajah yang masih terlihat kaget.
"Dimana dia?" ulang Axel.
"Frey sakit jadi dia izin nggak masuk. Ngapain loe nanyain Frey?" selidik Cia dengan mata memicing saat melontarkan pertanyaan pada pria bermata biru itu.
"Bukan urusan loe!" jawab Axel ketus, pemuda itu lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih.
"Ganteng doang, minim akhlak," terika Cia, namun Axel tak memperdulikannya, kini justru tatapan mengintimidasi dari murid perempuan yang berada di kantin tertuju pada Cia karena gadis itu berani mengolok Axel.
"Mending kita cabut Ci," Kaily berdiri lalu menarik tangan Cia pergi dari kantin sebelum berbagai jenis makanan mendarat di tubuh mereka karena ulah penggemar berat Axel.
"Makanan loe gimana?" teriak Cia yang berjalan di belakang kaily.
"Udah abis."
"What? Dasar rakus!"
***
Anne baru saja kembali ke toko setelah mengantarkan makan siang untuk Freesia, wanita itu duduk di kursi yang biasa Freesia pakai. Anne menarik laci yang berada di meja kasir, perlahan Anne mulai menghitung pendapatannya hari ini.
"Hari ini sepi sekali," keluhnya setelah selesai menghitung uang dari dalam laci.
Ting...ting...ting...
"Selamat datang di Anne Florist," sapa Anne dengan ramah.
"Apa kau memiliki bunga Freesia?" tanya seorang pria yang tak lain adalah Joshua.
"Tentu saja tuan. Kami memiliki Freesia Refracta, salah satu jenis bunga Freesia yang memiliki warna cream keemasan," jawab Anne dengan senyum di wajahnya.
"Tolong rangkaikan untukku, secantik mungkin!"
"Baik tuan, tunggu sebentar!"
Anne lalu pergi untuk merangkai pesanan bunga milik Josh. "Seleranya berubah," batin Anne saat mengingat Josh adalah pria seratus tangkai mawar.
Setengah jam kemudian Anne telah menyelesaikan tugasnya, wanita itu memeluk rangkaian bunga Freesia dengan sangat hati-hati dan memberikannya kepada pemiliknya.
"Pesanan anda tuan!"
"Terima kasih," ucap Josh seraya menerima rangkaian bunga yang terlihat sangat cantik dan begitu harum.
"Hm," Josh tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Sementara Anne menatap Josh dengan kening mengkerut. "Apa anda butuh sesuatu?" tanya Anne.
"Dimana gadis yang biasanya bekerja di sini?"
"Ah, Freesia di rumah karena sakit," jawab Anne yang tak sadar memperkenalkan nama keponakannya.
"Freesia?" ulang Josh seraya menatap bunga yang ada di pelukannya.
"Namanya Freesia, dia keponakan saya," terang Anne menjawab kebingungan Josh.
Josh hanya mengangguk, namun ada sedikit rasa bersalah yang mengganggu hatinya, dia takut Freesia sakit gara-gara kecelakaan beberapa hari yang lalu.
"Terima kasih untuk bunganya!"
Josh lalu meninggalkan Anne florist, hari ini dia akan mengajak Jennifer pulang menemui keluarganya. Josh lalu menyimpan rangkaian bunganya di kursi belakang sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Kenapa lama sekali?" Jennifer menggerutu, pasalnya sejak setengah jam yang lalu dia menunggu Josh di dalam mobil.
"Maaf sayang," jawab Josh seraya mengusap kepala Jennifer.
"Kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku tidak suka jika menunggu terlalu lama."
"Ya aku janji," Josh tersenyum begitu lebar, pria itu lalu mengendarai mobilnya menuju rumah keluarganya.
Sepuluh menit kemudian, mobil Josh memasuki halaman sebuah rumah yang tak terlalu besar, rumah bercat putih khas rumah orang Amerika dengan berbagai tanamam bunga di sisi lain halamannya. Josh lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk calon istrinya, setelah itu Josh mengambil bunga yang sudah dia siapkan dan memberikannya kepada Jennifer.
"Lynda sangat menyukai bunga, bilang saja kau yang memilih bunga ini untuknya," pesan Josh sebelum mereka masuk ke dalam rumah tersebut.
"Oke sayang," jawab Jennifer manja, setelah Josh mendahuluinya wanita itu memutar bola matanya malas. "Kalau saja aku tak butuh dirimu, tak sudi aku menikah dangan pria miskin sepertimu," batinnya kesal.
Kedatangan Josh dan Jennifer di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar.
"Katherin," sapa Jennifer ramah, dia memberikan buket bunga nya kepada Josh lalu memeluk wanita bernama Katherin.
"Jenn, momy sangat merindukanmu," ujar Katherin membalas pelukan calon menatunya.
Jennifer melepas pelukannya, dia lalu menatap Katherin yang berdiri di depannya. "Maaf mom, aku sangat sibuk."
"It's okay darling, momy tau kalian sama-sama sibuk."
"Mom, dimana grandma?" tanya Josh yang sejak tadi mancari keberadaan seseorang.
"Ada di dalam," jawab Katherin.
"Lynda keluarlah, Josh sudah datang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...