
Berulang kali Josh memeriksa jam tangannya, sudah jam tiga lebih sepuluh menit namun Maggie belum juga datang. Josh menunggu dengan gelisah, dia takut Maggie tidak datang dan dia tidak akan bertemu dengan Frey.
"Maaf membuat anda menunggu tuan Josh," ucap Maggie dari arah belakang, Josh lalu berdiri dan menoleh, namun dia hanya menemukan Maggie dan Andrew sementara Frey tidak ada.
"Mana Frey?" tanya Josh tanpa basa-basi.
"Bukankah sebaiknya kita bicara tentang bisnis dulu," jawab Maggie santai, wanita itu lalu duduk dan sebuah senyuman licik. "Duduklah tuan Josh!"
"Dimana Frey? Perjanjian kita batal jika kau tidak membawa Frey!" tegas Josh penuh penekanan, rasa sabarnya menghadapi Maggie mulai menipis.
"Tenang tuan Josh, saya tidak pernah main-main. Frey ada di sekitar sini, dia akan kembali bersama anda setelah bisnis kita selesai!"
"Tunjukan dimana Frey?" Josh berteriak dengan mata memerah, dia hanya ingin melihat Frey, hanya itu.
"Andrew, ajak Frey kemari!"
"Baik nyonya!"
Andrew lalu menghubungi anak buahnya, dan beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah datang. Frey di kawal dua orang saat masuk ke dalam restoran. Dari kejauhan Josh akhirnya bisa melihat Freesia.
"Bagaimana? Saya tidak bohong kan. Untuk itu ayo cepat selesaikan transaksi kita!"
Tak ingin terlalu membuang waktu, Josh kembali duduk dan menandatangani sejumlah dokumen jual beli saham bersama Maggie. Setelah selesai menandatangani dokumen jual beli, Maggie memberikan cek kepada Josh.
"Nominal yang sangat banyak untuk dua puluh persen saham anda tuan Josh. Terima kasih atas kerja samanya," ujar Maggie dengan senyum penuh menenangan. "Silahkan temui istrimu, dia berada di ruang yang ada di ujung!"
Josh meraih cek tersebut, lalu tanpa permisi dia pergi meninggalkan Maggie dan Andrew. Josh berlari menuju sebuah ruangan yang di maksud oleh Maggie.
"Anda yakin akan melepaskan nona muda?" tanya Andrew setelah Josh pergi.
"Tentu saja tidak. Aku yakin Frey akan kembali padaku dan berbalik membenci keluarga Janzsen! Kita lihat saja nanti!"
Josh segera membuka pintu, pria itu benar-benar bisa bernafas saat melihat Frey duduk di ruangan itu seorang diri. Gadis kecilnya, akhirnya dia bisa melihat gadis kecilnya lagi.
"Love," panggil Josh dan Frey segera menoleh. Gadis itu lalu berdiri. Keduanya melangkahkan kaki dan saling mendekat, langkah kaki mereka terasa ringan, kerinduan yang membebani mereka seolah sirna.
__ADS_1
"Josh," ucap Frey dengan pelan, gadis itu lalu menghambur ke dalam pelukan suaminya.
"Love," Josh memeluk tubuh mungil Frey dengan erat, dia enggan melepakannya. Dia takut akan kehilangan Frey lagi. "Aku pikir aku sudah kehilanganmu Love," ucap Josh seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
"Aku sangat merindukanmu Josh," ucap Frey pelan, sekujur tubuhnya terasa lemas, dia masih belum percaya jika kini Josh sedang memeluknya.
Josh mengurai pelukannya, pria itu lalu memeriksa kedua tangan serta wajah Frey. Hatinya terasa ngilu melihat beberapa luka di wajah istrinya. "Siapa yang berani melukaimu Love?" tanya Josh dengan rahang mengatup. Rasanya dia ingin menghabisi orang yang sudah melukai istrinya.
"Josh, apa benar kau menjual sahammu demi menebusku?" bukannya menjawab, Frey malah melemparkan sebuah pertanyaan untuk suaminya.
"Siapa yang mengatakan itu Love?" Josh membelai wajah istrinya dengan lembut.
"Aku tidak sengaja mendengarnya kemarin. Kau tidak benar-benar menjualnya kan?"
"Jangan pikirkan itu Love. Lebih baik kita pulang karena semua orang mencemaskanmu!" Josh memilih mengubah topik pembicaraan mereka.
"Jawab aku Josh, kau tidak menjualnya hanya demi aku kan?"
"Sahamku tidak sebanding denganmu Love. Apapun akan aku lakukan demi dirimu," tutur Josh dengan tulus, dia memang pernah jatuh cinta, namun dia baru kali ini mencintai seorang wanita dengan sebenar-benarnya cinta.
"Love jangan pikirkan itu. Itu adalah tugas Jo dan dady. Mereka sudah setuju saat aku menjual sahamku, itu artinya mereka memiliki rencana. Jangan pikirkan hal lain, fokus saja pada rumah tangga kita Love."
"Hem," Frey tidak ingin berdebat, dia akan mendengarkan ucapan suaminya meski di dalam hati dia terus gelisah. Melihat bagaimana sikap Maggie, gadis itu yakin jika Maggie tidak akan berhenti untuk balas dendam.
"Ayo kita pulang!"
Josh lalu menuntun istrinya keluar dari restoran, pria itu membantu Frey masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Tak lupa sebuah kecupan mendarat di kening istrinya sebelum dia menyusul masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan pulang tak sedetikpun Josh melepaskan tangan Frey, pria itu begitu posesif sekarang.
Setibanya di rumah, kedatangan mereka di sambut oleh seluruh keluarga Janzsen, hanya Jimmy yang tidak terlihat di sana.
"Frey," Katherine berlari menghampiri menantunya, wanita itu lalu memeluk Frey dengan perasaan lega. "Kau baik-baik saja kan? Momy sangat mengkhawatirkanmu!"
Katherine lalu melepaskan pelukannya, wanita itu memeriksa tangan dan wajah Frey persis seperti yang Josh lakukan kepadanya. "Pasti Jennifer yang melakukan ini kan?" tanyanya seraya menyentuh ujung bibir Frey yang masih memar dan Frey hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Dasar rubah betina."
"Selamat datang di rumah Frey," ucap Lynda dengan senyum pwnuh kelegaan. Frey membalas senyum Lynda dan memeluk wanita tua itu.
"Maaf membuat Grann khawatir," ujar Frey.
Setelah melepas pelukan Lynda, kini Jonathan yang datang menghampiri Frey.
"Frey maafkan aku, semua ini gara-gara aku. Seandainya aku tidak sibuk kau pasti tidak akan di culik," ucap Jonathan penuh sesal, pria yang kerap bercanda itu benar-benar memasang wajah serius.
"Tidak Jo, ini bukan salahmu. Jangan salahkan dirimu lagi karena aku baik-baik saja sekarang."
"Terima kasih Frey," Jo lalu memeluk Frey, namun baru beberapa detik saja Josh sudah menarik jasnya.
"Tidak perlu kau peluk juga istriku Jo," protes Josh kesal.
"Aku hanya memeluknya karena merasa lega, apa salahnya memeluk kakak ipar sendiri," sahut Jo tak mau kalah.
"Salah besar. Lebih baik kau mencari wanita yang bisa kau peluk!" sindir Josh.
"Sialan," geram Jo karena dia kalah telak.
"Kau benar Josh. Jo harus segera menikah karena dia sudah mulai tua," ucap Jovanka yang semakin membuat Jo merasa kesal.
"Kau baik-baik saja kan Frey?" Jovanka lalu memeluk kakak iparnya.
"Aku baik-baik saja Jov!"
"Syukurlah. Itu artinya aku masih punya teman hangout."
Frey terkekeh mendengar ucapan Jovanka. Frey sangat bahagia karena keluarga Janzsen benar-benar peduli dan menyayanginya. Semua kehangatan yang mereka berikan membuat Frey yakin jika cerita Maggie tak sepenuhnya benar.
"Aku berjanji akan melindungi kalian," batin Frey seraya menatap angggota keluarganya secara bergantian.
BERSAMBUNG...
__ADS_1