
Paris, sebuah kota yang terletak di sungai Seine, di utara Prancis, di jantung region Île-de-France. ibu kota negara Prancis itu juga di kenal sebagai City Of Love karena getaran romantis yang bisa setiap orang rasakan ketika berada di kota yang identik dengan bangunan bersejarah itu.
Dan disinilah Freesia dan Josh berada, di salah satu icon kota Paris yang masuk ke dalam salah satu keajaiban dunia, Menara Eiffel. Sebenarnya ada dua sisi untuk menikmati Menara Eiffel, satu sisi berupa padang rumput, dan sisi lainnya yaitu Trocadero berupa bangunan yang terletak sedikit lebih tinggi dari dasar Menara Eiffel sehingga bisa mendapatkan foto latar menara dengan bagus. Namun Josh dan Freesia lebih memilih duduk di rerumputan sambil menikmati pemandangan menara yang memiliki tinggi 325 meter.
"Frey, kau ingin foto?" tanya Josh setelah keduanya cukup lama diam.
"Boleh," Freesia merogoh saku mantelnya namun gadis itu tak menemukan gawai cerdas miliknya. Detik berikutnya Freesia menepuk keningnya sendiri saat teringat jika ponselnya tertinggal di kamar hotel. "Aku lupa bawa ponsel," ucapnya sedih.
"Kau bisa paka ponselku," Josh memberikan ponselnya kepada Freesia.
"Terima kasih Josh," Freesia meraih ponsel Josh, gadis kecil itu lalu berdiri dan berpose sebelum melakukan swafoto. Sementara Freesia sibuk berselfi ria, Josh hanya mengamati gadis kecil itu dari kejauhan tanpa ada niat untuk ikut berfoto.
Setelah puas berfoto, Freesia kembali menghampiri Josh dan duduk di sebelahnya. "Josh, bolehkan kita foto bersama?" tanya Freesia ragu-ragu.
"Mm tentu."
__ADS_1
Freesia bersorak dalam hati saat Josh menyetujui permintaannya. Saking girangnya Freesia lupa menjaga jarak dari Josh, gadis kecil itu memiringkan kepalanya hingga hingga menyentuh sisi wajah Josh. Freesia tersenyum begitu lebar saat kamera ponsel membidik wajah keduanya.
"Josh nanti kirimkan ke ponselku ya!" ucap Freesia saat mengembalikan ponsel milik Josh.
"Hem." Josh hanya bergumam, pria itu kembali fokus menatap Menara Eiffel, tempat bersejarah yang turut menjadi saksi saat dia melamar Jennifer beberapa bulan yang lalu.
"Foto di sini saat malam pasti sangat indah," gumam Freesia.
"Kau tidak boleh berfoto di sini saat malam Frey," sahut Josh menimpali, namun tatapannya masih tertuju pada Menara Eiffel.
"Karena lampu yang berada di Menara Eiffel memiliki hak cipta, jika kau memotretnya dan membagikannya di media sosial kau bisa di ancam pidana karena pelanggaran hak cipta," jelas Jos, pria itu lalu menoleh, dan untuk beberapa detik manik mata keduanya saling mengunci, keduanya larut dalam keindahan masing-masing.
"O-oh begitu," Freesia menjawab dengan gugup, gadis itu lalu membuang wajahnya karena begitu gugup saat Josh menatapnya, begitupun dengan Josh, pria itu salah tingkah karena sempat bersitatap dengan gadis bermata cokelat itu.
"Josh, salju turun," ucap Freesia seraya menengadahkan telapak tangannya di udara, buliran-buliran salju mulai turun di kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, ini baru bulan Desember, seharusnya salju turun pada bulan Februari," ujarJosh tak percaya, namun pria itu segera menarik ucapannya saat mendapati salju menempel di mantelnya.
"Apakah artinya ini salju pertama?" tanya Freesia dengan wajah berbinar.
"Maybe," jawab Josh seraya mengangkat kedua bahunya.
"Josh apa kau percaya jika menyampaikan perasaan pada orang yang disukai saat turun salju pertama, maka perasaan tersebut akan terbalaskan?" tanya Freesia lagi.
"Entah, aku pikir itu hanya mitos. Apa kau percaya?" Josh balik bertanya kepada gadis kecil yang duduk di sebelahnya.
"Aku percaya dan aku akan melakukannya," jawab Freesia seraya menatap wajah Josh yang mulai memerah karena kedinginan.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku mencintaimu Josh."
__ADS_1
BERSAMBUNG...