
Freesia berdiri di ambang jendela kamar hotelnya, tatapannya lurus tertuju pada hujan salju yang semakin lebat di luar sana. Berkali-kali gadis kecil itu menghela nafasnya yang terdengar berat, sebuah penolakan yang baru saja dia terima membuatnya tak memiliki keberanian lagi untuk bertatap muka dengan Josh.
Ya, Josh menolaknya dengan gamblang dan terang-terangan. Pria itu bahkan mengingatkan Freesia untuk membuang jauh perasaan cintanya karena hubungan mereka hanya sebatas hubungan kontrak.
"Haiss," desis Freesia dengan bibir mencebik. "Mulai sekarang aku tak akan mempercayai mitos lagi," geramnya seraya mengacak-acak rambutnya yang tergerai. "Dasar bodoh, bagaimana aku harus menghadapi Josh nanti," Freesia merasa frustrasi, dia merasa gegabah dan juga konyol karena mengatakan cintanya kepada pria yang jelas-jelas baru saja patah hati.
"Setidaknya aku sudah mengungkapkannya kan? Dari pada jadi bisul kan? Ya, ya, lebih baik seperti ini. Soal bertemu Josh, aku akan pura-pura hilang ingatan," ucapnya pada diri sendiri.
Freesia lalu tersenyum karena untuk pertama kalinya dia bisa melihat salju secara langsung. Gadis itu lalu larut dalam pemandangan malam kota yang syarat akan romansa.
Sementara di kamarnya, Josh juga tengah menyaksikan hujan salju dari balik jendela, pria itu kembali merasa sedih, karena salju selalu mengingatkannya kepada Jennifer.
Josh lalu teringat dengan ungkapan cinta Freesia dan mitos tentang salju pertama.
"Aku tak mempercayainya, karena pada akhirnya aku terluka!"
FLASHBACK ON...
Paris..
Musim salju tiga tahun yang lalu...
Josh baru saja mendarat setelah melakukan penerbangan dari Swiss menuju Paris, pria itu segera kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum esok kembali melakukan penerbangan. Setibanya di lobby hotel, Josh mengurungkan langkahnya, netra birunya menatap tajam seorang wanita muda yang tengah duduk di salah satu sofa yang berada di area resepsionis hotel. Wanita muda itu pernah Josh temui saat dia mengantarkan Jovanka melakukan pemotretan di Jakarta. Dengan setengah ragu, Josh memberanikan diri menghampiri wanita muda itu.
"Jennifer," sapa Josh dengan ramah, tak lupa sebuah senyum terbit di wajahnya yang begitu tampan.
"Oh hye," Jennifer menoleh, wanita itu terkejut karena tuba-tiba ada yang mengenalinya di Paris.
__ADS_1
"Sedang apa kau di sini?" tanya Josh, meski dia gugup namun sebisa mungkin Josh berusaha untuk dekat dengan Jennifer.
"Kau," Jennifer mengingat-ingat siapa pria tampan yang ada di hadapannya itu.
"Ah, aku kakaknya Jovankan. Kita pernah bertemu di Jakarta beberapa bulan yang lalu," jawab Josh mencoba mengingatkan Jennifer.
"Ah ya, Kapten Joshua. Aku ada pekerjaan di sini Capt, bagaimana denganmu?"
Josh tersenyum karena akhirnya Jennifer mengingatnya. Sejak pertama kali bertemu Josh memang sudah tertarik dengan Jennifer. "Aku baru pulang kerja," jawabnya sambil tersenyum.
Di tengah percakapan mereka, seorang wanita menghampiri Jennifer dengan membawa dua kartu akses kamar hotel. "Ayo Jenn, kau harus siap-siap," ucap wanita itu.
"Mm, Capt ini managerku," ucap Jennifer memperkenalkan wanita yang umurnya lebih tua darinya.
"Windy," wanita itu mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Josh.
"Joshua," ucap Joshua memperkenalkan diri.
Josh menerima kartu nama itu dengan senang hati, pria itu merasa jika Jennifer juga tertarik kepadanya. Dan sesampainya di kamar hotelnya, Josh segera mengirim pesan untuk Jennifer.
Tiga hari kemudian, Josh memiliki libur 3 hari dan dia manfaatkan untuk beristirahat di Paris. Sore hari, Josh berjalan-jalan sekitar Menara Eiffel. Seolah takdir merestuinya, Josh kembali bertemu dengan Jennifer di pandang rumput yang berada di area Menara Eiffel. Pria itu lalu memberanikan diri menghampiri Jennifer yang sedang duduk seorang diri.
"Hay Jenn," sapa Josh dengan lembut.
"Hay Capt, kita bertemu lagi," balas Jennifer ramah, wanita itu lalu berdiri mensejajari Josh.
"Kau sendirian?" tanya Josh karena tak menemukan siapapun di sekitar Jennifer.
__ADS_1
"Ya. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga."
Untuk beberapa saat keduanya terdiam, menikmati suasana sore dan pemandangan kota Paris yang begitu cantik. Hingga sebuah buliran berwarna putih mulai berjatuhan dari langit.
"Wah, salju sudah turun," ucap Jennifer.
"Ya, salju pertama di bulan Februari," sahut Josh seraya menatap Jennifer. "Jenn, apa kau percaya mitos?" tanya Joshua tanpa mengalihkan pendangannya
Jennifer menoleh, netra keduanya saling bertemu dan mengunci satu sama lain. "Mitos?" ulang Jennifer dengan gugup, pasalnya tatapan Josh membuatnya merasakan getaran aneh di dalam hati.
"Jika mengungkapkan perasaan pada orang yang disukai saat turun salju pertama, maka perasaan tersebut akan terbalaskan," ucap Josh.
"Apakah ada mitos seperti itu?"
"Ada. Dan aku ingin membuktikannya."
Jennifer mengerutkan keningnya, wanita itu bingung dengan maksud perkataan Josh. "Apa maksudmu?"
Joshua meraih tangan Jennifer dan menggenggamnya. "Jenn, mungkin kau tak akan percaya. Tapi aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Kau mungkin berpikir aku aneh, tapi aku sungguh ingin memilikimu. Jenn jadilah kekasihku!"
Jennifer membeku, wanita itu tak percaya jika Josh akan menyatakan cintanya padahal mereka baru beberapa kali bertemu. Namun melihat tatapan tulus Joshua membuat Jennifer yakin jika pria itu memang mencintainya. "Ya, aku mau menjadi kekasihmu Josh, aku juga memiliki perasaan yang sama kepadamu."
"Kau yakin?" tanya Josh dan Jennifer hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
Joshua bersorak bahagia, pria itu lalu merengkuh tubuh Jennifer ke dalam pelukannya. Dan dari sinilah kisah mereka di mulai, di depan Menara Eiffel, di kota yang penuh akan romansa dan tepat pada salju pertama, Josh akhirnya menemukan cinta pertamanya.
__ADS_1
FLASHBACK OFF...
BERSAMBUNG...