
"Apa kau bersedia tidur denganku?"
Deg...
Meski sudah bertekad menyerahkan diri, namun tetap saja mendengar kalimat itu membuat Anne merinding dan sedikit takut.
"Pergilah, aku tau kau tidak akan pernah melakukannya!"
"Ayo lakukan!" jawab Anne dengan tangan bergetar. Wanita itu lalu menarik tali baju tidur yang ada di pundaknya hingga baju transparan itu terlepas dari tubuhnya dan menyisakan braaaa serta under wear berwarna hitam.
"Sentuh aku Jo, aku menyerahkan diri!"
Glek...
Jonathan menelan ludahnya dengan kasar, ayolah wanita yang dulu selalu menolaknya kini berada di hadapannya dengan tubuh yang hampir polos dan sialnya Jonathan tak berkutik sama sekali. Otaknya menyuarakan agar Jo segera menerkam tubuh Anne, namun sayangnya tubuhnya tidak sinkron dengan otaknya, dia bahkan tak bisa bergerak karena sangat gugup.
"Jo," panggil Anne dengan lembut karena Jonathan hanya berdiam diri seperti tugu Monas. Merasa heran dengan sikap Jonathan, Anne melangkah lebih dekat sehingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja. "Ayo lakukan Jo, bukankah ini yang kau mau selama ini," Anne memberanikan diri untuk memegang tangan Jo dan mengarahkannya pada dadaaa nya yang masih terbungkus braaa. Anne menatap Jo dan ingin melihat ekpresi pria itu, namun Anne justru melihat wajah Jo yang memucat. "Jo, kenapa kau pucat sekali?" tanya Anne mulai khawatir.
"Anne aku..." Jo tak melanjutkan ucapannya karena pria itu merasa kepalanya berputar dan.
Brakkk..
Jonathan jatuh terkulai di lantai dan tak sadarkan diri.
"Jo, Jonathan kau kenapa?" Anne berlutut sambil menepuk kedua sisi wajah Jonathan. "Jo, bangun!"
Anne segera mencari pakaian yang pantas, setelah tubuhnya tertutup dia menghubungi layanan kamar untuk mencari bantuan. Tak lama setelah itu seorang staff hotel datang bersama seorang dokter, mereka lalu memindahkan Jo ke atas tempat tidur dan Jo segera di periksa oleh dokter.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Anne cemas. (Anggap aja pake bahasa Inggris ga gays)
"Kondisinya baik-baik saja, mungkin karena terlalu lelah atau stres makannya pasien kehilangan kesadaran," jelas dokter tersebut.
__ADS_1
"Oh begitu. Baik dok, terima kasih!"
"Kalau begitu kami permisi," ucap staff hotel lalu keduanya keluar dari kamar Jo. Setelah dokter dan staff hotel pergi, Anne kembali menghampiri Jo yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang.
"Ck, dulu kau selalu memaksaku untuk melakukannya. Belum melihatku bugiiiilll saja kau sudah pingsan!" desis Anne sambil menggelengkan kepalanya. Tapi dia merasa bersyukur karena itu artinya Jo baru pertama kali melihat wanita setengah polos.
Karena masih merasa lelah Anne menyusul Jo ke atas tempat tidur, wanita itu lalu memeluk Jo dan menyembunyikan wajahnya di lengan pria itu.
Dua jam kemudian Jo mulai sadar, sebenarnya dia sudah lama siuman namun Jo malah ketiduran, mungkin karena efek alkohol yang masih ada di dalam tubuhnya. Saat membuka mata, Jo merasakan sesuatu yang hangat sedang memeluk tubuhnya, Jo lalu menyentuh benda hangat itu dan terkejut saat dia menyadari sebuah tangan yang memeluknya.
Jo lalu melirik ke samping, dia sampai mencubit pipinya saat melihat Anne terlelap di sebelahnya.
"Auw, sakit. Ini nyata!" gumam Jo, dan perlahan-lahan ingatannya mulai kembali. Dia mulai mengingat saat semalam dia mabuk dan tiba-tiba Anne muncul di depan kamarnya. Lalu saat pagi hari, Anne tiba-tiba menyerahkan diri dan menyuruhnya untuk menyentuh wanita itu, dan setelah itu Anne melepaskan baju tidurnya dan Jo tidak ingat apa-apa lagi.
"Apa yang terjadi setelah itu, kenapa aku tak ingat apapun?" gumam Jo seorang diri.
"Kau pingsan dan kau baru sadar setelah dua jam," entah sejak kapan Anne terbangun, wanita itu menjawab rasa penasaran Jonathan dengan suara serak.
"Aku pingsan?" tanya Jo tak percaya, bagaimana mungkin dia pingsan hanya karena melihat Anne setengah polos.
Jonathan mengacak rambutnya dengan kasar, rasanya sangat memalukan. Jika bisa dia ingin menghilang detik itu juga, apalagi saat mendapati Anne sedang menatapnya remeh. "Ada apa dengan tatapanmu?" tanya Jo kesal.
"Hah, dulu kau selalu membujuk ku untuk bercinta. Kau selalu marah karena aku menolak. Tapi lihatlah sekarang, aku belum melepas semua pakaianmu dan kau sudah pingsan, bagaimana kalau aku telanjaaaangg bulat, aku khawatir kau akan terkena serangan jantung," ejek Anne sambil menahan tawanya. Dia masih tak percaya Jo sepolos itu.
"Aku pingsan bukan karena melihat tubuhmu. Aku pingsan karena..." Jo menjeda kalimatnya sejenak untuk memikirkan alasan yang pas. "Kelelahan. Ya, aku pingsan karena terlalu lelah!"
Anne tersenyun smrik, wanita itu lalu membelai wajah Jo dengan lembut. "Oh ya, kalau begitu apa kita bisa melanjutkan hal yang sempat tertunda?" ucap Anne dengan suara menggoda.
"A-Apa maksudny?" Jo mulai terlihat gugup lagi.
Anne mendekatkan wajahbya ke wajah Jo segingga mereka bisa merasakan sapuan hangat dari nafas masing-masing. "Bercinta," bisik Anne sambil mengerlingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Jo menegang, dia tak percaya jika tubuhnya benar-benar mengkhianatinya. Bagaimana mungkin tubuhnya malah terasa kaku dan tidak bisa di gerakan sementara wanita yang berbaring di sebelahnya sedang menantang keperkasaannya.
"Oh my god Jo, keringatmu banyak sekali," Anne menyeka keringat di dahi Jo dengan senyuman mengejek, sangat menyenangkan rasanya bisa menjahili seorang Jonathan Janzsen.
"Itu karena panas, AC nya pasti rusak!"
"Tapi aku tidak merasa kepanasa Jo. Jangan-jangan kau....."
"Jangan-jangan apa?" potong Jo dengan cepat, dia sangat kesal dengan keadaan ini.
"Jangan-jangan kau tidak bisa melakukannya?" goda Anne.
"Enak saja. Aku sudah Pro, aku hanya masih kesal padamu!"
"Aku kan sudah minta maaf Jo!"
Yes, Jo bersorak dalam hati karena dia berhasil mengalihkan pembicaraan mereka. Jo sangat ingin menerkam Anne saat ini juga, namun sayangnya tubuhnya terasa kaku dan sulit untuk di gerakan.
"Tidak semudah itu Ann, kau menyakiti berulang kali, setidaknya kau harus memohon agar aku mau memaafkanmu," ucapan Jo terdengar sedikit kasar di telinga Anne. Memohon seperti apa yang Jo maksud, apakah Anne harus bersujud di kakinya agar Jo mau memaafkannya. Jo bangun dari tidurnya, pria itu lalu duduk di tepi ranjang dan membelakangi Anne.
Tanpa banyak bicara Anne lalu beranjak dari tempat tidur, wanita itu berjalan memutari ranjang dan berhenti di hadapan Jonathan. Tiba-tiba Anne berlutut di lantai sambil menunduk.
"Apa yang kau lakukan Ann?" Jo benar-benar terkejut melihat Anne berlutut di kakinya.
"Kau bilang aku harus memohon kan. Aku mohon maafkan semua kesalahan ku Jo. Sekarang aku menyadarinya, aku sangat membutuhkanmu. Tolong maafkan aku dan menikahlah denganku!"
"Me-me-nikah?" Jo tiba-tiba gagap, telinga juga terasa berdenging. Kata kata menikah yang Anne ucapnya seolah bergema di gendang telinganya dan membuatnya merasa pusing dan mual.
Buk...
Dan lagi-lagi Jo tergeletak di atas kasur. Dia pingsan lagi.
__ADS_1
"Jo!"
BERSAMBUNG..