
Freesia duduk di sebuah sofa bersama dengan Josh, lima menit yang lalu mereka baru saja tiba di mansion keluarga Janszen. Freesia yang mengira jika rumah Josh sudah sangat besar di buat terkejut saat melihat mansion keluarga Janszen yang besarnya mungkin tiga kali lipat dari rumah Josh.
Freesia tak henti-hentinya tersenyum karena semua anggota keluarga Janszen menatapnya seolah Freesia adalah santapan yang lezat.
"Siapa namamu?" tanya Katherine dengan ketus,sejak kedatangan Freesia, wanita itu tak menyukai penampilan Freesia yang di nilainya sangat kampungan.
"Freesia," ucap Freesia memperkenalkan diri.
"Nama yang cantik, secantik orangnya," sahut Jonathan ramah, dia tak menyangka jika Freesia terlihat lebih cantik tanpa make up. "Aku Jonathan, adik kembar Josh. Kau bisa menghubungiku jika memerlukan bantuan," sambung Jonathan memperkenalkan dirinya. Pria itu tak henti-hentinya menatap Freesia, apa lagi lesung pipi Freesia membuat Jonathan merasa jika Freesia begitu indah untuk di lewatkan.
"Kak Jo, jaga matamu. Dia itu kakak iparmu sekarang," Jovanka menimpali seraya terkekeh, wanita berambut panjang itu lalu menghampiri Freesia dan mengulurkan tangannya. "Hallo kakak ipar, aku Jovanka, member tercantik di keluarga Janszen," ujar Jovanka seraya menyibak rambut panjangnya.
"Hay Jovanka, senang bertemu denganmu," Freesia lalu berdiri dan menyambut uluran tangan Jovanka, tanpa Freesia duga Jovanka menarik tangannya lalu memeluknya. "Semoga kau betah berada di sisi Josh," bisiknya tepat di telinga Freesia.
Jovanka lalu mengurai pelukannya, gadis yang juga memiliki mata biru itu lalu kembali ke kursinya dan meraih tas mewah miliknya. "Baiklah, karena aku sudah mengenal kakak iparku maka izinkan aku undur diri karena aku harus bekerja. Bye-bye kakak ipar," Jovanka tersenyum dengan begitu ramah sebelum dia meninggalkan ruang keluarga.
"Josh, jelaskan apa yang terjadi. Kenapa bukan Jennifer yang kau nikahi?" tanya Katherine lagi.
Josh melirik Jimmy sesaat, pria itu lalu menatap Katherine dengan iba. "Granny pasti sudah memberi tahu momy kebenarannya."
"Momy ingin dengar langsung darimu!"
"Baiklah kalau itu keinginan momy," Josh kembali menatap Jimmy dengan penuh amarah, jika saja Jimmy bukan dady-nya mungkin saja Josh sudah menghajar Jimmy. "Jennifer berselingkuh dengan pria tua yang tak tau diri, pria tua yang memiliki 3 orang anak dan seorang istri yang sangat mencintainya," ujar Josh dengan rahang mengeras, kalimat sindirannya tentu saja membuat Jimmy tak berkutik.
"Oh astaga, momy tak menyangka jika Jennifer seperti itu."
"Momy akan lebih terkejut jika tau siapa pria tua yang menjadi selingkuhan Jennifer," sahut Jovanka yang tiba-tiba datang lagi, gadis berusia 22 tahun itu menatap skeptis ke arah Jimmy.
"Kau mengenal pria tua itu Jov?" Jonathan menimpali ucapan adiknya.
"Tentu saja aku sangat mengenalnya. Dia kan..."
"Cukup Jov," potong Josh dengan cepat sebelum Jovanka melanjutkan ucapannya. Namun selanjutnya Josh merasa bingung karena ucapan Jovanka terlihat serius, benarkah adik perempuannya mengetahui siapa pria yang berselingkuh dengan Jennifer?
__ADS_1
"Jov jangan membuatku mati penasaran, ayo katakan siapa pria tua itu?" Jonathan yang merasa sangat penasaran terus memaksa adiknya untuk bicara.
"Nanti juga kakak tau."
"Kau sangat tidak seru!"
"Cukup, kalian lebih baik pergi karena momy akan bicara dengan Josh!" Katherine menunjuk Jovankan dan Jonathan dan mengusir keduanya.
"Senang bertemu denganmu little girl," ucap Jobathan sebelum dia pergi.
Kini di ruang keluarga tersebut tersisa Josh, Freesia, Jimmy dan Katherine serta Lynda.
"Kau, berapa umur mu?" tanya Katherine seraya menunjuk Freesia dengan dagunya, sementara kedua tangannya terlipat di depan dada,wanita itu terlihat begitu arogan.
"18 tahun nyonya," jujur Freesia.
"What, aku tak salah salah dengar kan?"
"Tidak nyonya," jawab Freesia masih dengan senyum di wajahnya, jujur saja dia sangat takut melihat tatapan mengintimidasi dari Katherine, namum Freesia berpikir jika dia menunjukkan ketakutannya maka Katherine akan menindasnya.
"Jaga bicaramu Kathe, jika bukan karena Freesia, putramu akan di permalukan karena di khianati calon istrinya tepat di hari pernikahannya, dan kau tentu saja tau imbasnya bukan? Keluarga kita menanggung malu karena semua client penting serta pemilik saham datang ke pernikahan itu!" ucap Lynda tak terima.
"Tapi mom, kenapa tidak memilih wanita lain saja, kenapa harus gadis bau kencur seperti dia."
"Seharusnya kau berada di sana dan memilihkan wanita yang cocok untuk putramu dan sesuai dengan kriteriamu!" cetus Lynda, namun kalimatnya berisikan sebuah sindiran kepada menantu perempuannya itu.
"Mom tau sendiri aku tidak bisa keluar dati rumah!" kesal Katherine, mengingat dirinya tak bisa pergi kemanapun membuatnya merasa tak berguna.
"Kalau begitu kau hanya perlu menerima Freesia menjadi anggota keluarga kita!"
Katherine masih tak terima, wanita itu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Freesia. "Kau, jangan harap aku menerima gadis rendahan sepertimu menjadi menantu!" tegas Katherine dengan tatapan menghina.
"Cukup mom, aku datang untuk memperkenalkan Freesia bukan untuk mendapatkan penghinaan momy," Josh turut berdiri, pria itu juga meraih tangan Freesia agar gadis kecil itu ikut berdiri. "Suatu saat nanti momy akan sangat berterima kasih kepada Freesia," ujar Josh, dia lalu menarik tangan Freesia dan meninggalkan ruang keluarga tersebut. Hal inilah yang tak terlalu Josh sukai dati Katherine, wanita itu selalu memandang rendah orang lain. Josh bahkan masih ingat saat Karherine melarangnya menjadi pilot karena menurutnya pilot tak menghasilkan banyak uang. Katherine terus menentangnya namun Josh memiliki keteguhan karena mimpinya ingin menjadi pilot.
__ADS_1
"Josh apa maksudmu itu," teriak Katherine dengan kesal.
"Kau berhutang banyak hal pada Freesia," sela Lynda yang semakin membuat Katherin merasa kebingungan.
"Apa maksud mereka Jimmy? Kenapa kau juga membiarkan putra kita menikah dengan wanita asing!" Katherine kini beralih pada Jimmy dan protes karena sejak tadi Jimmy hanya diam saja.
"Aku lebih setuju Josh menikahi Freesia dari pada menikahi Jennifer," balas Jimmy dengan wajah datar, pria itu lalu meninggalkan istrinya yang masih kesal dan kembali ke kamarnya.
"Jimmy aku belum selesai bicara!!"
.
.
.
Sementara di perjalanan pulang, Freesia lebih memilih diam, gadis itu memikirkan ucapan Katheine dan merasa jika dia memang tidak pantas menggantikan Jennifer menjadi istri seorang Joshua Janzsen.
"Frey, jangan pikirkan omongan momy, dia memang seperti itu," ucap Josh membuka suaranya setelah sekian lama diam, Josh kembali merasa bersalah karena menyeret Freesia ke dalam keluarganya yang rumit.
Freesia menoleh dan menatap Josh yang sedang fokus mengemudi. "Aku baik-baik saja Josh, lagi pula yang di katakan Katherine memang benar semua," Freesia menjawabnya sambil tersenyum, namun dari sorot matanya mengatakan jika gadis itu tidak baik-baik saja.
"Aku tak bisa mengatakan apapun lagi selain minta maaf padamu," Josh seolah kehilangan kata-katanya, meski di rumahnya tadi Freesia selalu tersenyum namun Josh yakin jika Freesia pasti terluka dengan ucapan Katherine.
"Aku sungguh baik-baik saja Josh," ulang Freesia, lagi-pagi senyum manis mengembang di wajahnya untuk menutupi kesedihannya.
"Terima kasih Frey," ucap Josh tulus, pria itu melirik Freesia sekilas dan membalas senyuman Freesia. "Frey, apa kau memiliki paspor?" tanya Josh kemudian.
"Punya, kenapa Josh?"
"Kita akan liburan ke Eropa."
"E-Eropa?"
__ADS_1
BERSAMBUNG...