
"Lima tahun!"
"Five years?" ulang Josh seraya mengangkat kelima jari tangannya, memastikan jika dia tidak salah dengar.
"Yes, five years," ucap Freesia tanpa keraguan.
"Why? Maksudku kenapa harus selama itu?" tanya Josh dengan wajah kebingungan, Josh pikir gadis kecil itu akan mempersingkat kontrak pernikahan mereka, tapi kini justru sebaliknya.
"Saya masih sangat muda dan sudah tidak memiliki siapapun tuan. Jika setahun lagi kita berpisah, itu artinya saya akan menjada di usia 19 tahun. Saya juga takut, anda akan lari dari tanggung jawab anda setelah kita berpisah. Jadi saya ingin pernikahan ini terjadi sampai saya lulus kuliah, setidaknya pada saat itu saya sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang janda," terang Freesia panjang lebar. Gadis kecil itu sudah tak peduli Josh akan menganggapnya konyol ataupun tidak tau malu, tapi apa yang di katakan Freesia adalah sesuatu yang saat ini sangat di takutinya.
"Nona Freesia, aku berjanji tidak akan lari dari tanggung jawab meski kita sudah berpisah. Aku akan tetap membiayai hidupmu serta kuliahmu, tapi untuk waktu lima tahun sepertinya aku tidak bisa!"
Freesia menghembuskan nafas panjang, gadis itu lalu menunduk dan memainkan jari-jarinya. "Kalau begitu saya tidak bisa membantu anda lagi, lebih baik saya pergi. Mungkin saja bibi akan memaafkan saya setelah saya berkata jujur kepadanya," ucap Freesia dengan nada seolah dia sangat kecewa, gadis itu lalu berdiri dan melangkahkan kakinya menghampiri koper, Freesia lalu mendorong kopernya dan kembali menghampiri Josh. "Maafkan saya tuan Josh, sampaikan permintaan maaf saya kepada Lynda," imbuh Freesia, gadis bermata cokelat itu lalu melepas cincin yang melingkar di jari manisnya dan meletakkannya di atas meja. "Saya permisi!"
Freesia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sambil menghitung mundur meski hanya di dalam hatinya. Tiga, dua, satu.
"Tunggu!"
Freesia menghentikan langkahnya, seutas senyum terbit di wajah cantiknya. Anggap saja dia gadis yang licik karena memanfaatkan pernikahan kontrak tersebut demi lebih lama menghabiskan waktu bersama Josh, pria impian yang kini telah menjadi suaminya. Freesia lalu berbalik saat wajahnya sudah kembali datar. "Ada apa tuan?" tanyanya dengan wajah begitu polos.
"Bagaimana dengan tiga tahun," ujar Josh yang berusaha menawar lamanya waktu pernikahan kontrak mereka.
"Maaf tuan tidak bisa, saya permisi!" Freesia hendak berbalik dan pergi, namun dengan cepat Josh menahan kopernya.
"Oke, aku setuju," ucap Josh meski tak terlihat begitu yakin.
"Anda serius?" tanya Freesia, gadis itu hampir saja bersorak saking senangnya.
"Ya. Tapi kita harus menambah poin lainnya. Seperti tidak boleh bersentuhan dan tidak boleh ada perasaan lebih. Pernikahan kita hanya sebatas hubungan kontrak!"
"Tapi tadi siang anda mencium saya?" kata Freesia seraya menyentuh bibirnya.
"Maaf, keadaannya mendesak," jawab Josh kikuk.
__ADS_1
"Berarti kalau ada keadaan mendesak lagi anda akan mencium saya lagi?"
"Tidak," Josh menjawabnya dengan sangat cepat.
"Lalu bagaimana kalau suatu saat anda mencintai saya?"
"Tidak akan pernah!" Josh menjawabnya dengan sangat yakin. Bagi Josh hatinya sudah mati setelah pengkhianatan Jennifer, pria itu yakin tidak akan pernah jatuh cinta lagi kepada siapapun. "Sudah malam, lebih baik kau beristirahat. Besok aku akan menyiapkan kontraknya!"Josh lalu keluar dari kamar Freesia dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Selepas kepergian suaminya, Freesia segera menutup pintu kamarnya. Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang begitu luas dan nyaman. "Maafkan Freesia bi," gumamnya pelan, tiba-tiba Freesia teringat akan Anne, pasti wanita itu sedang menangis sendirian.
"Lebih baik aku mandi," Freesia lalu beranjak dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Lagi-lagi Freesia di buat takjub dengan ukuran kamar mandi yang begitu besar. "Kenapa orang kaya senang sekali memiliki rumah yang sangat besar?"
Sementara itu, Josh baru saja masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang sudah dia persiapkan untuk tempatnya memadu cinta bersama Jennifer. Pria itu duduk dibibir ranjang, mata birunya memindai setiap bingkai foto yang terpasang di dinding kamarnya. Josh lalu berdiri, menghampiri salah satu foto saat dia melamarJennifer dan wanita itu menerimanya, keduanya terlihat sangat bahagia, Josh tak menyangka jika Jennifer hanya mempermainkannya.
"Tapi kenapa Jenn, apa salahku?" tanyanya pada sebingkai foto yang telah berhasil dia lepaskan. "Apa salahku Jenn?" teriak Josh seraya membanting figura tersebut hingga hancur, tiba-tiba ingatannya kembali pada saat Jennifer tengah mendesah di atas tubuh Jimmy, pria itu kembali merasa sesak dan emosinya kembali membuncah.
Josh lalu melepas semua bingkai foto yang terpasang di dinding dan menghancurkannya hingga hancur, pria itu lalu memunguti lembar demi lembar foto dirinya bersama Jennifer tanpa memperdulikan goresan kaca di tangannya. Josh memasukkan foto tersebut ke dalam tong sampah lalu membakarnya.
"Semuanya telah berakhir Jenn," ucapnya seraya menatap nanar lembaran foto yang kini tengah berkobar dan mulai menjadi abu.
Josh memeriksa ponselnya yang sejak tadi terus berbunyi, pria itu lalu melemparkan ponselnya ke sembarang arah saat tau jika Jennifer yang menghubunginya.
Namun detik berikutnya, suara klakson tak henti-hentinya berbunyi di depan rumahnya. Josh yakin jika itu ulah mantannya, namun Josh terpaksa keluar sebelum Jennifer membuat keributan.
"Apa maumu Jenn?" tanya Josh dengan setengah berteriak. Tak lama Jennifer keluar dari mobil dan menghampiri Josh.
"Dear, aku mohon maafkan aku? Aku yakin kau tidak benar-benar menikah dengan gadis itu kan?" ucap Jennifer yang kembali memohon.
"Maaf katamu? Cih, kau pikir aku bodoh? Setelah melihatmu bercinta dengan dady ku sendiri dan kau berharap aku memaafkanmu? Jangan mimpi Jennifer Scott!" geram Josh, kilatan amarah jelas terlihat di sorot matanya yang begitu tajam.
"Aku khilaf Josh," ucap Jennifer, setitik air mata kembali menetes di wajahnya.
"Dua tahun kau mengkhianatiku dan kau bilang itu khilaf? Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku menyakitimu!"
__ADS_1
"Josh aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpamu."
Di tengah ketegangan mereka, tiba-tiba Freesia datang setelah mendengar keributan di lantai bawah, Freesia menghampiri Josh yang tengah tersulut emosi.
"Ada apa ini?" tanya Freesia seraya menatap Josh dan Jennifer secara bergantian.
"Bukan urusanmu ja**lang kecil," jawab Jennifer, wanita itu menatap Freesia dengan tatapan yang mengerikan.
"Jangan berani menghina istriku dengan mulut kotormu Jenn!" ucap Josh mencoba membela Freesia.
"Jadi kau lebih membela ja**lang kecil ini Josh?"
"Dia adalah istriku, tentu saja aku tidak terima jika ada orang lain yang menghinanya.
Deg...
Jantung Freesia berdebar saat Josh menyebutnya sebagai istri, meski Freesia tau jika Josh hanya sedang memanasi Jennifer namun Freesia tetap merasa senang, jika boleh dia ingin Josh selalu memanggilnya dengan sebutan istriku.
"Aku tidak percaya. Pernikahan kalian pasti hanya sandiwara agar aku cemburu kan?"
"Apa yang bisa membuatmu percaya Jenn?"
"Cium dia, cumbu dia di depanku Josh!' tantang Jennifer, wanita itu sangat mengenal Josh, dia tidak akan pernah menyentuh apalagi mencium wanita asing.
"Baiklah."
Josh memutar tubuhnya sehingga kini dia dan Freesia saling berhadapan. Josh lalu menarik pinggang Freesia sehingga keduanya tak berjarak lagi. "Maafkan aku," bisiknya pelan, tanpa menunggu jawaban Freesia, tiba-tiba Josh mengecup bibir Freesia dengan lembut. Namun tak sampai di situ, Freesia merasa jika Josh semakin memperdalam ciumannya, pria itu berusaha menerobos mulut Freesia dengan lidahnya. Sebagai gadis yang mulai tumbuh dewasa, Freesia mulai merasakan gelayar aneh di tubuhnya, tanpa gadis itu sadari dia mulai menikmati ciuman Josh dan membiarkan lidah pria itu menjelajahi rongga mulutnya. Freesia hanyut dalam permainan pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
"Hentikan Josh!" teriak Jennifer, wanita itu tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Dengan perasaan kesal, Jennifer terpaksa meninggalkan rumah Josh dari pada harus menyaksikan kedua orang itu berciuman.
Menyadari kepergian mantannya, Josh segera melepaskan tautan lidahnya. Josh lalu menatap wajah Freesia,terlihat jelas penyesalan dari sorot matanya.
"Maafkan aku Freesia," ucap Josh seraya mengusap bibir Freesia yang basah karena ulahnya.
__ADS_1
"Hem, tak apa. saya tau anda melakukannya agar wanita itu pergi kan?"
BERSAMBUNG...