
"Josh aku kedinginan, peluk aku," ucap Freesia dalam kondisi mata tertutup, sepertinya gadis itu tak sadar telah mengucapkan kalimat tersebut.
"Tapi Frey," Josh ragu, namun melihat tubuh Freesia yang semakin menggigil membuat Josh merasa tak tega, pria itu akhirnya masuk ke dalam selimut yang Freesia pakai dan membawa tubuh Freesia ke dalam pelukannya. Jangan lupakan tangan kekar yang kini melingkar di tubuh gadis kecil itu, namun tanpa Josh sadari sudut bibir Freesia terangkat, meciptakan senyum samar yang hanya di ketahui oleh pemiliknya. Benar-benar gadis kecil yang licik bukan?
Hawa dingin yang semakin terasa membuat Josh semakin mempererat pelukannya, namun dia masih tak menyadari jika dia tengah menikmati rasa nyaman saat memeluk tubuh Freesia, tubuh Josh semakin menghangat saat Freesia melingkarkan tangannya di pinggang Josh, keduanya lalu terlelap dalam keadaan saling memeluk.
.
.
Freesia membuka matanya saat dia merasa perutnya melilit dan harus ke kamar mandi, saat matanya terbuka sempurna hal pertama kali yang dia lihat adalah dada Josh yang terbungkus jaket tebal, Freesia sedikit mengangkat kepalanya sehingga gadis kecil itu bisa melihat wajah Josh dengan jelas. Freesia tersenyum, jemarinya menyusuri setiap inci wajah Josh meski hanya mengambang di atasnya, jemari lentik itu lalu berhenti di bibir Josh yang berwarna cerah karena pria itu tidak merokok. Freesia tersipu karena kembali teringat saat bibir Josh menyentuh bibirnya, seketika jantungnya berdebar-debar dan wajahnya terasa panas.
"Apa yang kau pikirkan Frey?" tanya Josh dengan suara serak, detik berikutnya pria itu membuka mata sehingga manik mata mereka saling bersitubruk.
"Eh, anu... Apa, itu. aku sedang mmm," Freesia begitu gugup, bahkan dia sampai tak bisa berkata-kata.
Josh tersenyum simpul, pria itu lalu melepaskan pelukannya dan memeriksa kening Freesia. "Kau masih demam," ucapnya seraya menatap Freesia, tatapan mereka kembali beradu untuk beberapa detik. "Maaf karena aku lancang, aku melakukannya karena semalam kau demam dan terus menggigil," ujar Josh setelah menyadari jarak mereka sangatlah dekat.
"Terima kasih Josh, maaf merepotkanmu," ucap Freesia sambil tersenyum, gadis kecil itu lalu menyibak selimutnya dan beranjak turun dari tempat tidur.
"Kau mau kemana?" tanya Josh dengan segera.
"Kamar mandi," Freesia berlari kecil menuju kamar mandi karena dia sudah tidak tahan ingin membuah hajatnya yang sejak tadi tertahan.
__ADS_1
Sementara itu Josh masih berada di tempat tidur dan merasa sedikit dingin saat Freesia bangun. "Dia sangat menggemaskan," ucap Josh tanpa sadar, namun segera mungkin Josh meralat ucapannya. "Sadar Josh, dia adalah mitramu, dan dia hanya anak kecil!" ucap Josh meyakinkan diri untuk tidak terpengaruh dengan sihir Freesia. Bagaimana Josh tidak menganggapnya sihir, sejak hari pertama pernikahan mereka Josh bersikap begitu baik kepada Freesia, padahal Josh adalah tipikal orang yang kurang bisa akrab dengan orang lain. Josh bahkan sampai mencium Freesia meski hanya untuk memanasi Jennifer, namun tetap saja Freesia memiliki sihir yang mampu membuatnya bersikap baik kepada gadis itu.
.
.
.
Matahari sudah mulai meninggi, namun hawa dingin seolah ingin berlama-lama menyelimuti daerah di bawah kaki gunung Titlis, bahkan pagi ini suhu mencapi minus tujuh derajat celcius.
Freesia dan Josh duduk bersebelahan di depan tungku, keduanya sedang menikmati sarapan mereka. Namun perhatian Josh justru tertuju pada Freesia yang tak bisa diam, tangan mungil itu terus bergerak dan menggaruk sekujur tubuhnya.
"Kau kenapa?" tanya Josh, pria itu meletakkan sarapannya dan menatap Freesia yang terlihat tak nyaman.
"Sepertinya alergiku kambuh," Freesia lalu berdiri dan mencari obat di tas nya. Setelah menemukan yang di carinya, Freesia kembali duduk di sebelah Josh dan meminum obatnya.
Freesia menoleh dan mengangguk, namun tangannya masih tak bisa diam karena sekujur tubuhnya terasa gatal..
"Apa sangat gatal?" tanya Josh lagi, jujur saja dia merasa terganggu melihat tangan Freesia yang tak bisa diam.
Freesia lalu membuka mantelnya, dia juga menggulung lengan bajunya dan menunjukkan ruam merah yang memenuhi kulit putihnya.
"Oh astaga, itu pasti sangat gatal dan menyakitkan," pekik Josh tak percaya, pria itu lalu menarik meraih tangan Freesia dan menyentuh ruam merah itu.
__ADS_1
"Apa reaksi obatnya lama?" Josh mulai merasa khawatir.
"Sekitat sepuluh menit."
"Cepat pakai lagi mantelku dan hangatkan tubuhmu!"
Josh beranjak dari duduknya, pria itu lalu membantu Freesia memakai mantelnya. Freesia hanya diam dan merasa bahagia karena Josh sangat memperhatikannya. "Bagaimana kalau aku semakin mencintaimu Josh," lirih Freesia namun masih terdengar di telinga Josh.
"Kau masih muda dan kau juga sangat cantik. Pasti banyak pria yang akan mengejarmu setelah kontrak pernikahan kita selesai. Jangan pernah mencintaiku karena hatiku sudah mati," jawab Josh dengan wajah serius.
"Aku masih muda dan sangat cantik? Lalu kenapa kecantikanku tidak bisa membuatmu terpikat?"
Josh diam sejenak, bohong rasanya jika dia tak tertarik dengan kecantikan Freesia, namun rasa sakit yang Jennifer torehkan di hatinya membuat pria itu enggan membuka hatinya lagi, dia tidak mau merasakan rasa sakit itu lagi, Josh tidak mau di khianati lagi.
"Josh," panggil Freesia karena sejak tadi Josh terdiam di tempatnya.
"Habiskan sarapanmu, kita harus segera pergi dari sini dan melanjutkan perjalanan kita!"
Freesia menurut, dia memilih untuk tidak kembali bertanya saat menyadari perubahan wajah Josh. Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya bersiap untuk melanjutkan liburan mereka ke negara selanjutnya.
"Frey aku tunggu di luar," ucap Josh dengan sedikit berterik karena Freesia berada di dalam kamar mandi.
Josh keluar dari kamar penginapan, pria itu begitu terkejut saat melihat seseorang berdiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Kau...
BERSAMBUNG...