
"Apa? Tunangan? Apa yang kali ini Frey rencanakan?" Anne begitu terkejut saat Josh memberi tahunya jika Frey akan bertunangan dengan pewaris Adijaya Group, Danish Adijaya. Anne sama sekali tak mengerti mengapa Frey begitu nekat, gadis itu benar-benar tidak bisa di tebak.
"Lalu kau menyetujuinya?" sahut Jonathan yang kebetulan berada di toko bunga milik Anne. Meski Anne selalu menolaknya namun Jonathan pantang menyerah dan mengikuti Anne kemanapun Anne pergi layaknya seorang penguntit.
"Tentu saja tidak, tapi bukan Frey namanya jika tidak berhasil memaksaku. Dia bilang dia memiliki rencana sendiri. Tapi jika rencana nya gagal aku akan segera menjemputnya, dua tahun itu lama sekali Jo," keluah Josh seraya menghela nafas panjang, entah sejak kapan dia menjelma menjadi suami yang takut istri, Josh paling takut saat Frey sedang marah.
"Ya kau benar, aku pun mulai lelah, dua tahun mengejar wanita yang tidak mengharapkanmu," sindir Jonathan seraya melirik Anne.
"Aku tidak pernah menyuruhmu mengejarku Jo!" sahut Anne kesal, karena semakin Jo menempel padanya maka Anne semakin terpesona pada pria yang usianya dua tahun lebih muda darinya.
"Cepat jemput istrimu agar aku bisa menikahi Anne secepatnya Josh!"
"Kalian ini sangat rumit," Josh hanya bisa menggelengkan kepalanya, entah kisah cinta macam apa yang Anne dan Jonathan jalani. Anne kerap jual mahal, namun tak sedikit Josh memergoki mereka tengah berciuman, mereka benar-benar pasangan yang aneh.
Sementara di vila keluarga Zantaman, sang nyonya besar sedang tertawa senang karena dia dan Adijaya baru saja menentukan tanggal pertunangan Frey dan Danish. Wanita tua itu menyuruh Andrew untuk mencari vendor untuk menyiapkan rencana pertunangan Frey yang akan di gelar dua bulan dari sekarang.
Di dalam kamar, Frey menguping pembicaraan Maggie dan Andrew, gadis itu lalu menghubungi Danish dan memberi tau Danish jika dua bulan lagi mereka akan bertunangan, Frey juga memberi tahu Danish semua rencananya di saat hari pertunangan mereka.
Selama menyiapkan pertunangan, Frey lebih banyak menghabiskan waktu bersama Danish, tentunya mereka mengajak Nadia agar rencana mereka tidak menimbulkan kesalah pahaman di antara Danish dan Nadia. Selama itu pula Frey tak menemui Josh karena khawatir Maggie akan mencurigai mereka, kata Cia mereka harus waspada karena hari apes tidak ada di kalender.
Satu minggu sebelum pertunangan, Frey dan Danish ke butik untuk mencoba baju pertunangan mereka, masing-masing dari mereka di kawal oleh kedua pengawal. Namun kejadian tak terduga terjadi di butik, Frey tak sengaja bertemu Jovankan dan Katherine yang juga sedang berbelanja di butik tersebut.
Bukan Jovanka namanya jika dia melepaskan Frey begitu saja, gadis itu menghampiri Frey dan Danish dengan senyuman licik.
"Oh waow, jadi selera mu sekarang produk lokal ya Frey," sindir Jovanka seraya melirik Danish, pria asal Indonesia yang memiliki wajah tampan khas pria Asia. Kulit kuning langsat dan bola mata berwarna cokelat,salah satu hal yang menonjol di wajah Danish adalah keberadaan tahi lalat yang berada di atas bibirnya, membuat pria itu terlihat manis.
"Ya begitulah, aku bosan dengan bule seperti kalian," Frey sengaja memakan umpan Jovanka, jika terjadi keributan di antara mereka maka Maggie akan semakin mempercayainya.
__ADS_1
"Ck, kau dengar mom, ternyata selama ini kita merawat rubah lain di rumah kita. Aku rasa dia dan Jennifer tergolong dalam spesies yang sama, mamalia berbulu yang suka menggerogoti harta pria kaya!"
Frey tersenyum dengan begitu manisnya, gadis itu bahkan menyelipkan anak rambut di telinganya dengan begitu anggun. "Kalau kau termasuk spesies yang mana Jov, kau kan suka mengoleksi pria-pria tampan. Sepertinya buaya betina cocok untukmu," ejak Frey dengan tangan terlipat di depan dadanya.
"Bu-buaya? Kau menyebutku buaya, dasar rubah licik!"
"Sudah-sudah, ayo kita pergi Jov, jangan buat keributan di sini," lerai Katherine, sebenarnya dia sangat ingin memeluk Frey dan bertanya kapan gadis itu kembali, namun dia harus menahannya karena ada Jovanka dan pengawal Maggie.
"Tidak bisa mom, aku tidak terima. Aku harus memberi pelajaran untuk dia!" Jovanka mengabaikan ucapan Katherine, gadis itu kesal dan dengan cepat menarik rambut Frey membuat Frey berteriak kesakitan.
"Lepas Jov, rambutku bisa lepas," teriak Frey sambil berusaha melepas tangan Jovanka dari rambutnya.
"Hahah," Danish tak bisa menahan tawanya melihat rambut Frey di tarik oleh Jovanka. Apalagi ekpresi wajah Frey membuat Danish terpingkal-pingkal. "Balas Frey, jangan mau kalah," Danish sengaja menyulut api di antara kedua gadis itu.
Frey yang merasa kesal lalu membalas Jovanka dan menarik rambut Jovanka dengan kedua tangannya.
Mendengar teriakan dari dalam butik, ke empat pengawal yang berjaga di luar berhampur masuk, mereka terkejut melihat nona muda mereka tengah bertikai dengan orang asing, dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah tuan muda mereka justru tertawa alih-alih menolong calon tunangannya.
"Berhenti," teriak salah satu pengawal Danish, suaranya yang terdengar serak berhasil menghentikan aksi saling jambak Frey dan Jovanka. Pengawal itu lalu melepas paksa tangan Jovanka dari rambut Freesia.
"Beraninya kau menyentuh tang...." ucapan Jovanka menggantung, gadis itu membuka mulutnya dengan lebar saat melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya, pria yang sejak dua tahun terakhir selalu mengganggu pikirannya, pria yang dia temui di kafe dua tahun silam.
"Oh my gosh, akhirnya kita bertemu lagi," ujar Jovanka seraya menatap pengawal Danish tanpa berkedip.
Frey menoleh, kini dia tau mengapa Jovanka terlihat seperti orang bodoh. "Terima kasih Luke," ucap Frey dengan keras, dia sengaja ingin pamer ke Jovanka jika dia mengenal pria yang Jovanka taksir.
Dan benar saja, Jovanka kembali menatap Frey penuh tanda tanya. "Kau mengenalnya Frey?" tanyanya antusias.
__ADS_1
"Tentu saja, dia pengawal calon tunanganku," jawab Frey menyombongkan diri.
"Kenapa kau tidak memberi tau aku Frey!"
"Sepertinya kita tak cukup dekat untuk bertukar informasi. Lagi pula kau mana mau menerima pesan dari rubah sepertiku," ucap Frey dengan senyum mengejek.
Jovanka tiba-tiba tersenyum dan merapikan rambut Frey, dia juga bersikap sangat manis. "Oh ayolah Frey, kau tau kita dulu sedekat itu," Jovanka menarik tubuh Frey dan memeluknya. "Berikan nomor ponselnya maka aku tidak akan mengganggumu lagi," bisiknya memohon.
"Hemm, aku pikir-pikir dulu ya," sahut Frey.
"Aishh, aku akan melakukan apapun yang kau suruh!" ucap Jovanka memberi penawaran.
"Really? Apapun?" tanya Frey dan Jovanka mengangguk dengan cepat.
Frey lalu melepaskan pelukan Jovanka dan melirik Luke yang wajahnya sangat datar.
"Luke, apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Frey dan Luke diam tak memberi jawaban. "Luke, tidak sopan namanya jika kau tak menjawab pertanyaan orang lain. Kau sudah memiliki kekasih apa belum?" ulang Frey dan setelah mendapat sikutan dari Danish, Luke terpaksa menjawab.
"Belum."
"Oh, apa kau mau berkencan dengan nona Jovanka?" tanya Frey lagi.
"Maaf nona, saya tidak menyukai wanita!" jawab Luke dengan santai, pria itu lalu keluar dari butik.
"What the fuvvckkkk!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1