Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Rumah Sakit


__ADS_3

Keluarga Zantman dan Janzsen sudah berada di rumah sakit begitu mereka mendengar kabar kecelakaan Frey dan Josh. Mereka menunggu dengan cemas karena keduanya sedang dalam penanganan medis.


Katherine tak henti-hentinya menangis di dalam pelukan Jovanka, wanita paruh baya itu bahkan sempat pingsam saat Jovanka menjemputnya dan mengatakan jika Frey dan Josh kecelakaan.


Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang tindakan. Dokter itu keluar dengan wajah cemas dan menghampiri kedua keluarga itu.


"Dimana keluarga nyonya Freesia?" tanya dokter di depan semua anggota keluarga.


"Saya neneknya dok, bagaimana kondisi cucu saya?' sahut Maggie dengan suara bergetar, meski dia tak menangis, namun dia merasakan ketakutan yang teramat sangat, dia takut kehilangan Freesia sama halnya saat dia kehilangan Fedrik.


"Benturan keras mengakibatkan beberapa tulang rusuk nyonya Freesia patah dan melukai organ hatinya. Namun fokus kami sekarang adalah mengeluarkan janin nyonya Freesia karena kondisinya sudah sangat lemah. Kami membutuhkan persetujuan anggota keluarga sebelum melakukan tindakan," jelas dokter secara terperinci.


Semua orang begitu terpukul mendengar kondisi Frey yang begitu parah. Katherine bahkan kembali pingsan karena begitu mengkhawatirkan Freesia.


"Lakukan yang terbaik dok, tolong selamatkan cucu saya dan bayinya!" ucap Maggie penuh harap.


"Kami akan melakukan yang terbaik!"


Dokter itupun kembali ke dalam ruangan, tak lama setelah itu Freesia di pindahkan ke ruang operasi untuk mengeluarkan bayinya. Maggie nampak begitu terpukul, Anne hanya bisa memeluk Maggie dan saling menguatkan.


"Frey akan baik-baik saja bu, dia gadis yang kuat!" ucap Anne dengan air mata berlinang, baru saja mereka merasakan kebahagiaan karena pada akhirnya mereka bisa berkumpul lagi, namun penderitaan seolah tak ada habisnya. Kenapa harus Frey lagi yang menderita, belum cukupkan penderitaan yang selama ini gadis itu rasakan.


Di hampir waktu yang bersamaan Josh juga di bawa ke ruang operasi karena dia mengalami pendarahan di otaknya, setelah mendapat persetujuan dari Jimmy, Josh akan segera di operasi.


"Ya Tuhan, kenapa harus mereka," pekik Lynda dengan wajah sendu dan buliran bening yang terus membasahi wajah tuanya.


Semua orang menunggu di ruang operasi dengan cemas, mereka berharap pasangan suami istri itu bisa selamat begitupun bayi mereka. Di tengah ketegangan itu Andrew datang bersama anggota kepolisian, dia lalu mendekati Maggie untuk menyampaikan informasi yang dia dapat selama di lokasi kejadian.


"Polisi berhasil menangkap supir truk yang kabur, menurut kesaksiannya dia di suruh oleh seseorang untuk mencelalai nona Frey dan tuan Josh!" ungkap Andrew dengan wajah menengang.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhnya?" sahut Jimmy Janzsen dengan tatapan nanar, sejauh ini yang dia tau Josh tak pernah memiliki musuh.


"Jennifer Scott!"


"Apa?"pekik semua orang secara bersamaan.


Katherine yang baru saja sadar dan mendengar informasi itu segera menghampiri Jimmy dan menampar mantan suaminya dengan keras.


"Puas kau Jim, semua ini gara-gara dirimu. Gara-gara selingkuhanmu itu anak dan menantuku celaka," maki Katherine dengan sorot penuh amarah. Jovanka dan Jonathan segera menahan Katherine dan membawanya menjauh dari Jimmy.


"Tenang mom, menyalahkan dady tidak akan merubah apapun. Yang harus kita lakukan sekarang adalah berdoa agar kak Josh dan Frey serta bayi mereka selamat," ucap Jovanka mencoba menenangkan ibunya.


"Apa kalian sudah menangkap wanita itu?" Jimmy menghampiri kedua polisi itu dan bertanya dengan rahang mengatup. Andai saja dia tau Jennifer akan senekat ini pasti dia sudah melenyapkan wanita itu sejak lama.


"Belum tuan. Kami sudah menggeledah apartemennya dan kosong!"


"Temukan wanita itu secepatnya!!!" geram Jimmy, sorot matanya di penuhi kebencian.


Setelah petugas itu pergi, Maggie memberi kode pada Andrew untuk mendekat.


"Temukan wanita itu, tangkap dan siksa dia tampa ampun!" titah Maggie, iblis di dalam dirinya kembali bangkit, kali ini dia tidak akan mengampuni Jennifer.


"Baik nyonya!"


Kali ini tidak ada yang melarang tindakan Maggie, mereka semua setuju mengingat kejahatan yang telah Jennifer lakukan. Bahkan Anne yang notabene memiliki hati begitu lembut pun tak berniat sedikitpun untuk menahan ibunya. Baginya Frey seperti putri kandungnya sendiri, dia akan membalas siapa saja yang menyakiti Freesia.


Empat puluh menit kemudian, dua orang perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong inkubator yang berisi bayi milik Freesia, bayi mungil itu berhasil lahir kedunia meski sebenarnya perkiraan lahirnya masih dua bulan lagi.


Semua orang berdiri dan menghampiri bayi mungil itu, tidak ada satupun dari mereka yang tidak menangis, seharusnya momen kelahiran bayi mungil itu menjadi momen paling membahagiakan, namun sayangnya kedatangannya ke dunia justru di selimuti kesedihan karena kedua orang tuanya masih belum sadar.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi putri saya sus?" tanya Katherine di tengah isak tangisnya.


"Nyonya Freesia akan kembali di operasi karena organ hatinya rusak cukup parah!"


"Oh sayangku," Katherine kembali limbung, untung saja Jonathan sigap menangkap tubuh momy nya dan segera mendudukan Katherine di kursi tunggu.


"Kami harus segera membawa bayi ini ke ruangan khusus!"


"Tunggu sebentar sus, apa jenis kelamin cicit saya?" tahan Maggie seraya menatap bayi merah yang berada di dalam inkubator.


"Bayinya perempuan!"


Untuk pertama kalinya Maggie akhirnya menangis, dia pikir air matanya telah kering saat dia kehilangan suami serta putranya. Namun melihat bayi merah itu membuat Maggie tak bisa menahan air matanya lagi. Bayi itu begitu malang, mengingatkannya pada Freesia yang harus kehilangan kedua orang tuanya saat umurnya masih begitu muda.


Waktu terus berputar, tak satupun dari mereka yang pulang, mereka masih menunggu Frey dan Josh yang sedang berjuang di atas meja operasi. Sudah lima jam keduanya berada di ruang operasi, namun belum ada tanda-tanda mereka akan segera keluar. Hanya beberapa perawat yang keluar dan berlarian mengambil stok darah membuat keluarga itu semakin cemas.


Lima jam sudah dan akhirnya ruang operasi terbuka, perawat mendorong hospital bed keluar dimana Freesia terbaring lemah di atasnya. Semua orang kambali menangis, gadis yang selalu ceria dan tersenyum itu kini terbaring tak berdaya dengan perban di kepala serta beberapa luka di wajah cantiknya. Bibirnya yang selalu tersenyum begitu pucat membuat semua orang begitu nelangsa.


Frey lalu di pindahkan ke ruang ICU untuk observasi, Maggie dan Anne menunggu di depan ruang ICU, sementara keluarga Janzsen masih menunggu di depan ruang operasi.


Anne menggenggam tangan Maggie yang terasa begitu dingin, kini dia juga mengkhawatirkan ibunya karena wajahnya begitu pucat.


"Sebaiknya ibu pulang dan istirahat, wajah ibu sangat pucat!"


Maggie menggelengkan kepalanya dengan lemah. 'Bagaimana ibu bisa pulang sementara Frey sedang berjuang untuk hidup di dalam sana," jawabnya dengan mata berair. Kini dia terlihat seperti seorang nenek yang sangat menyayangi cucunya.


"Baiklah kalau ibu memaksa. Tapi ibu harus makan ya, Frey pasti sedih melihat ibu seperti ini!"


Akhirnya Anne berhasil membujuk Maggie untuk makan dan minum obat, dia merasa sedikit lega saat Maggie akhirnya terlelap di atas kursi rodanya.

__ADS_1


"Sekarang aku tau bu, kau sangat menyayangi kami, kau hanya tidak tau cara mengungkapkan rasa sayangmu itu. Maafkan kami yang selaku berprasangka buruk padamh bu!"


__ADS_2