
Di mansion keluarga Janszen, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga setelah kepulangan Lynda, mereka sengaja menunggu kedatangan Lynda dan mendengar penjelasan dari Lynda tentang apa yang terjadi di pernikahan Josh. Katherine duduk bersebelahan dengan Jimmy, sementara Jonathan dan Jovanka duduk di kursi masing-masing. Jangan lupakan Axel yang turut hadir di ruangan itu, pemuda itu juga ingin tau kebenarannya.
"Mom, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bukan Jennifer yang menikah dengan Josh?" cecar Katherine begitu Lynda datang. Meski dia tak bisa keluar dari rumah, namun Katherine memiliki asisten yang selalau membantunya.
"Jennifer pergi bersama pria lain," jawab Lynda dingin, tatapannya tertuju pada putra tertuanya, Jimmy.
"Oh my gosh," sahut Jovanka seraya melirik dady-nya.
"Tidak mungkin mom, Jennifer sangat mencintai Josh, mana mungkin dia mengkhianati putraku," sangkal Katherine yang tak percaya dengan ucapan ibu mertuanya. Wanita itu masih mengharapkan nika Jennifer lah yang akan menjadi menantunya.
"Cinta," ulang Lynda penuh penekanan. "Asal kau tau, wanita murahan itu hanya mempermainkan Josh, dia mengkhianati Josh demi pria tua yang kaya raya," sindir Lynda, lagi-lagi tatapannya tertuju pada Jimmy yang sejak tadi memilih diam dan menundukkan kepalanya. Tertangkap basah oleh putranya sendiri sangat membuatnya kehilangan harga diri.
"Astaga, aku tak percaya," Katherin ikut melirik suaminya karena sejak tadi Lynda menatap suaminya.
"Lalu siapa gadis yang menggantikan Jennifer Grann?" tanya Jonathan, sejak di hotel tadi dia sangat penasaran pada gadis cantik yang mendampingi saudara kembarnya.
"Dia kekasihku," celetuk Axel hingga semua tatapan tertuju padanya.
"Apa maksudmu Axe?" tanya Jonathan pada sepupunya.
"Cukup Axe, aku tau kau pasti terkejut karena temanmu tiba-tiba menikahi Josh," sela Lynda sebelum Axel mengoceh yang tidak-tidak. "Josh akan membawanya kemari, jadi kalian bisa berkenalan dengannya besok," ujar Lynda, wanita tua itu lalu meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke rumah kecilnya yang berada di belakang mansion utama.
"Wait, kalau gadis itu teman Axel, berarti dia?" Jovanka menatap Axel untuk mendapatkan jawabannya.
"Ya dia masih bersekolah! Sudahlah aku pulang," dengan perasaan tak karuan Axel meninggalkan mansion tersebut, pemuda itu tengah di liputi penyesalan. Seandainya dia lebih cepat mengungkapkan perasaannya, mungkin saja semuanya akan berbeda. Axel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali dia melirik kotak kecil yang berada di kursi di sebelahnya, kotak yang menyimpan sebuah cincin yang akan Axel gunakan saat mengungkapkan perasaannya. Namun rencananya gagal total, saat gadis yang di cintainya sejak mereka pertama bertemu justru menikahi sepupunya sendiri.
"Badjingan kau Josh," geram Axel seraya memukul setir mobilnya.
.
.
.
__ADS_1
Pagi kembali menyapa, nyanyian burung saling bersahut-sahutan menemani sang surya keluar dari peraduannya. Freesia yang masih belum bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru sudah bangun bahkan sebelum matahari terbit. Gadis itu duduk di balkon kamarnya seraya menikmati momen matahari terbit. Sesekali Freesia menghembuskan nafasnya yang terdengar berat, baru semalam dia tak bersama Anne dan kini dia merindukannya.
Freesia kembali masuk ke kamarnya, gadis itu memilih mandi untuk menjernihkan kepalanya. Setelah mandi, gadis itu turun ke bawah dan tak mendapati siapapun di rumah itu. Karena merasa bosan, Freesia berkeliling di rumah besar itu, ruangan demi ruangan dia lewati hingga dia tiba di salah satu ruangan yang di dominasi oleh kaca. Di dalam ruangan itu Freesia bisa melihat Josh yang sedang berolahraga. Freesia tak bisa berkata-kata saat Josh hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, perutnya yang kotak-kotak membuat Freesia menelan ludahnya berkali-kali.
Josh yang menyadari kedatangan Freesia segera menghentikan aktivitasnya, pria itu berjalan ke arah Freesia seraya menyeka keringatnya dengan handuk kecil.
"Sarapan sempurna, lihatlah ada delapan roti sobek di perutnya," batin Freesia, gadis kecil itu tak berkedip sama sekali, tatapannya fokus pada tubuh atletis milik Josh.
"Apa kau butuh sesuatu Frey?" tanya Josh.
"Eh," Freesia segera mengalihkan pandangannya, dia tak mau Josh menganggapnya gadis mesyum. "Aku hanya sedang berkeliling karena bosan," jawab Freesia setelah berhasil meredakan kegugupannya.
"Kenapa kau bangun pagi sekali?" tanya Josh lagi, pria itu meraih kaos yang berada di dekatnya dan memakainya, hal tersebut tentu saja membuat Freesia tak rela karena roti sobeknya kembali terbungkus.
"Aku terbiasa bangun pagi," jawab Freesia bohong, padahal sebelumnya dia tidak akan bangun sebelum Anne berteriak di depan kamarnya.
"Oh begitu. Nanti siang kita akan kerumah keluargaku. Kau tidak keberatan kan?"
"Tentu saja tidak," jawab Freesia sambil tersenyum, meski sebenarnya dia takut jika keluarga besar Josh tidak menerimanya dengan baik, meski pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak, namun tetap saja Freesia merasa harus memenangkan hati keluarga suaminya.
Setengah jam kemudian, Freesia turun dari kamarnya, gadis kecil itu kembali di buat terpesona dengan penampilan Josh, pria itu mengenakan celana jeans berwarna hitam dan kaos polos berwarna grey yang membuat pria itu terlihat semakin tampan.
"Apa yang ingin kau makan?" tanya Josh begitu Freesia di dekatnya.
"Sandwich," jawab Freesia gamblang.
"Aku pikir kau akan menjawab terserah," Josh terkekeh karena Freesia berbeda dengan teman-teman wanitanya yang selalu menjawab terserah saat di tanya mau makan apa.
"Kalau aku jawab terserah takutnya kau membelikan makanan yang tidak aku sukai," ujar Freesia seraya tersenyum dan memamerkan kedua lesung pipinya.
"Aku suka pemikiranmu Frey," Josh menepuk pelan pucuk kepala Freesia dan membuat gadis kecil itu salah tingkah. "Ayo kita pergi sekarang," ajak Josh, mereka lalu meninggalkan rumah dan mencari restoran terdekat yang menjual sandwich.
Selama perjalanan keduanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, Josh masih belum bisa melupakan kejadian di dalam kamar hotel yang sangat menyakiti hatinya. Wanita yang selalu dia jaga dengan sepenuh cinta justru memberikan tubuhnya kepada pria lain. Bayangan saat Jennifer mendesah membuat Josh kehilangan fokus, pria itu tak menyadari saat ada sepeda motor yang mendahului mobilnya dan tiba-tiba berhenti mendadak.
__ADS_1
"Josh awas," teriak Freesia panik.
Mendengar teriakan Freesia, Josh segera menginjak rem dan membanting setir ke kiri untuk menghindari sepeda motor tersebut.
"Frey kau tak apa?" tanya Josh khawatir.
"Dadaku sakit Josh," jawab Freesia sambil meringis kesakitan, dia yakin rasa sakitnya akibat sabuk pengaman yang menahan tubuhnya agar tidak terbentuk ke depan.
Dengan cepat Josh membuka sabuk pengaman milik Freesia, pria itu lalu membuka kancing kemeja Freesia dan ingin memeriksa apakah Freesia mengalami cidera.
"Jo-Josh, apa yang kau lakukan?" Freesia gugup, namun dia tak bisa menahan pergerakan Josh karena tangannya begitu tak bertenaga akibat terkejut.
"Aku harus memeriksanya, aku takut aku terluka."
"Tapi Josh..."
Ucapan Freesia terhenti bersamaan dengan terbukanya seluruh kancing kemejanya, untung saja gadis kecil itu memakai tank top sehingga Josh tak langsung melihat area dadanya.
"Maafkan aku Frey, aku panik," Josh segera membuang wajahnya setelah sempat menatap dada Freesia yang tertutup tank top berwarna putih.
"Coba kau periksa apakah ada memar di sekitar dadamu!" ucap Josh, namun kini dia menatap ke luar jendela.
Freesia lalu memeriksa dadanya sesuai arahan Josh, pantas saja dia merasa sakit, ternyata ada memar di sekitar area yang dipasangi sabuk pengaman.
"Tidak ada yang memar Josh," jawab Freesia bohong karena tidak ingin merepotkan Josh.
"Kau yakin?"
"Ya. Ayo kita pergi sekarang. Aku sangat lapar."
"Kau tidak mau ke rumah sakit?"
"Tidak Josh, aku hanya mau makan!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...