
Semenjak kehadiran Freesia, villa milik Maggie kini terasa lebih hidup. Aura positif yang Frey pancarkan membuat seisi rumah tersalur oleh energi tersebut. Para pelayan di villa besar itu juga sangat bersyukur, semenjak kedatangan nona muda mereka, Maggie Zantman lebih tersenyum dan sudah sangat jarang memarahi mereka jika wanita tua itu sedang kesal.
Seperti pagi ini, keluarga Zantman berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Frey sangat bersemangat saat para pelayan sedang menyiapkan mereka makan, apalagi semalam Frey sudah memesan untuk di buatkan nasi uduk.
"Perfect," gumam Frey dengan mata berbinar saat sepiring nasi uduk lengkap dengan lauknya tersaji di hadapannya.
"Kurangi porsi makanmu Frey, nanti kau bisa gemuk," ujar Maggie menasehati cucunya.
"Oma, aku ini sedang masa pertumbuhan, aku harus makan banyak agar aku lebih tumbuh dengan baik," kilah Frey memberi alasan. Maggie hanya menggeleng, sekilas bibirnya tersenyum meski tidak ada yang menyadarinya.
"Setelah makan, kalian ikut ke J&J Company, aku ada rapat dan aku ingin kalian menyimak dengan baik!"
"Baik oma."
Frey sudah mengenakan pakaian rapi untuk pergi ke perusahaan milik keluarga Janzsen, mereka sudah berada di perjalanan. Frey duduk di belakang bersama Anne, sementara Maggie duduk di depan. Frey merogoh saku tasnya saat merasa ponselnya bergetar, sebuah panggilan dari Cia.
"Hallo Ci, ada apa?" tanya Frey setelah panggilan tersambung, diam-diam Maggie menguping dari kursinya.
"Nongkrong yuk," ajak Cia.
"Sorry, gue nggak bisa. Gue ikut oma ke J&J Company," tolak Frey. "Eh apa loe ke sini aja, di sini ada kafe yang enak buat nongkrong," tiba-tiba Frey teringat kafe yang dia datangi berasama Jovanka.
"No. Kapan-kapan aja deh!"
Setelah Cia menutup panggilannya, Frey kembali menyimpan ponselnya dan tersenyum seolah akan terjadi sesuatu yang menyenangkan.
"Siapa yang menghubungimu?" selidik Maggie dari balik kursinya.
"Cia oma."
"Oh!"
__ADS_1
Setengah jam kemudian mereka telah tiba di kantor pusat J&J Company dan segera datang ke ruang rapat. Frey bersikap tenang dan tetap cuek meski Jonathan menatapnya penuh kebencian, setelah puas melotot pada Frey kini Joanathan beralih pada Anne namun dengan sorot mata yang berbeda, pria itu terlihat sedih.
Frey menyimak dengan baik apa yang sedang di bahas dalam rapat tersebut, gadis itu benar-benar teguh dalam pendiriannya, belajar dengan giat agar Maggie segera memberikan saham J&J Company kepadanya. Setelah beberapa menit melakukan rapat bersama petinggi perusahaan, Maggie mengajak Anne dan Frey ke ruangannya untuk beristirahat karena satu jam lagi mereka harus ikut rapat lagi.
"Oma, Frey ngantuk. Boleh Frey beli kopi sebentar?" ucap Frey dengan wajah yang dia buat semanis mungkin.
"Suruh saja pengawalmu Frey!" ujar.Maggie.
Frey mendekati Maggie dan berbisik di telinga wanitaa tua itu. "Frey mau sekalian ke kamar mandi, perut Frey mules."
Maggie menatap cucunya sambil menggelengkan kepala. "Jangan terlalu lama!"
"Oke oma. Bibi sama oma mau di beliin kopi?" tanya Frey sebelum pergi.
"Ice Americano," sahut Anne sementara Maggie hanya menggeleng.
Frey berlari menuju kamar mandi, setibanya di kamar mandi gadis itu tersenyum dan menundukan kepala saat melihat seorang office boy sedang membersihkan kamar mandi, setelah itu Frey masuk ke dalam salah satu bilik untuk memenuhi panggilan alam.
Krieet..
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, lalu langkah kaki seseorang mendekati bilik di mana Frey berada.
"Frey, apa kau di dalam?" tanya seseorang, dari suaranya Frey yakin jika itu Anne.
"I-iya bi," Jawab Frey. "Kenapa bibi kemari?" tanyanya kemudian.
"Maggie mencarimu, hampir satu jam kau pergi Frey,"Sahut Anne dari balik pintu.
"Perutku sakit bi, sebentar lagi aku selesai. Bibi duluan saja!"
"Bibi akan menunggumu dan ke ruangan Maggie bersama-sama!"
__ADS_1
Frey terlihat panik, gadis itu menggigit bibir bawahnya. "Bi, aku malu. Sejak tadi aku buang angin terus," ucap Frey dengan suara pelan.
"Jorok. Ya sudah bibi tunggu di ruangan Maggie. Jangan terlalu lama. Sebentar lagi rapatnya akan di mulai!"
Setelah Anne pergi, Frey merapikan baju dan roknya karena hajatnya sudah tersalurkan, Frey lalu keluar dari bilik tersebut dan berjalan keluar dari kamar mandi dengan anggun.
Nasib buruk sepertinya sedang menimpa Anne, ketika akan kembali ke ruangan ibunya, tiba-tiba Jonathan menarik tangannya dan membawa Anne ke ruangan kosong secara paksa. Jonathan menghimpit tubuh Anne karena wanita itu terus memberontak, Jonathan juga mengunci tubuh Anne dengan tangannya.
"Apa yang anda lakukan tuan Jonathan?" tanya Anne seraya menatap Jo dengan kesal.
"Apa yang sedang kalian rencanakan?"
"Apa maksud anda? Rencana apa?" Anne bingung dengan maksud ucapan Jo.
"Pertama kalian menempatkan Frey di tengah keluarga kami, kedua kau datang dan membuatku tertarik kepadamu, lalu tiba-tiba kau dan Frey adalah keponakan dan bibi, setelah itu kalian adalah bagian dari Zantman. Apa kalian sudah merencanakannya sejak awal?" terka Jonathan dengan kilat amarah di matanya.
"Konyol," hanya satu kata yang terucap dari bibir Anne. "Lepaskan aku atau aku akan berteriak!" ancam Anne namun Jo tak menggubrisnya.
"Berteriaklah!" tantang Jo dengan seringai di wajahnya.
"Aaaa..."
Anne berteriak sekencang mungkin, namun detik berikutnya wanita itu membelalakan matanya saat Jonathan membungkam mulutnya dengan bibir, pria itu menciumnya tanpa izin. Anne memalingkan wajahnya, serangan mendadak dari Jo berhasil membuat wanita itu berdebar, lihatlah bahkan kini wajahnya memerah.
"Beri tau keponakanmu untuk tidak melibatkan Josh, pria malang itu benar-benar di perdaya oleh anak kecil!"
Jo lalu meninggalkan Anne tanpa mengatakan apapun. Anne masih membeku di tempat, wanita itu lalu menyentuh bibirnya. Ciuman pertamanya di curi oleh pria asing yang baru beberapa kali dia temui.
"Dasar badjingaaaaan!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1