
Anne menatap Jonathan ngeri, dia menganggap Jonathan adalah orang aneh yang tiba-tiba mengklaim dirinya adalah milik pria itu. Sikap narsis Jonathan mengingatkannya dengan Frey, mereka memiliki rasa percaya diri yang sama, sama-sama narsis dan congkak.
"Apa yang kau lakukan di sini Ann?" tanya Jonathan dengan ramah, jangan lupakan senyum lebarnya yang sehingga dia terlihat begitu ceria.
"Tentu saja menginap," jawab Anne ketus.
"Jangan ketus begitu Ann, nanti cantikmu hilang. Aku juga menginap di sini, mau tidak kita ngopi bersama?"
"Tidak," tolak Anne dengan cepat. Wanita itu lalu berlalu meninggalkan Jonathan dan menuju resepsionis.
Jonathan terkekeh, sikap ketus Anne malah semakin membuatnya semakin tertarik. Anne terlihat lebih cantik dengan wajah juteknya. Jonathan tak menyerah, dia membuntuti Anne sampai wanita itu selesai melakukan check in di hotel tersebut.
"Ayolah Ann, kita ngopi sebentar," bisik Jo dan sontak membuat Anne terkejut, wanita itu menoleh dan kembali memasang wajah kesal karena Jonathan terus mengikutinya.
"Maaf tuan Jonathan, saya sedang sibuk! Dan ingat, kalau anda mengikuti saya lagi, saya akan melaporkan ada ke polisi!" ancam Anne dengan serius, namun Jo menanggapinya dengan ekspresi yang sengaja di buat-buat.
"Kalau begitu penjarakan aku Ann, penjarakan aku di hatimu," celetuk Jonathan.
"Dasar gila!"
"Ann, aku gila karena mu, aku tergila-gila dengan mu Ann!'
Anne bergidik ngeri, wanita itu berjalan cepat meninggalkan Jo dan pergi ke kamarnya. Anne menganggap Jo pasti seorang maniak atau dia adalah penjahat kelamin yang memancing mangsanya dengan kata-kata manis. Tapi sayangnya kata-kata manis itu tidak berlaku untuk Anne, mendengar gombalan Jonathan malah membuatnya muak.
"Ah, kau semakin membuatku tertarik Ann," gumam Jonathan seraya menatap punggung Anne yang semakin menjauh. "Ah, aku harus bertemu kakak ipar. Aku harus belajar mantra darinya. Tunggu saja Ann, aku akan memantraimu."
.
.
Senja menemani perjalanan Josh dan Frey menuju bandara karena malam nanti Josh harus terbang ke luar kota. Selama perjalanan Frey sama sekali tak melepaskan tangan Josh, rasanya masih begitu berat melepas kepergian Josh setelah insiden pesawat tergelincir beberapa waktu yang lalu. Jika boleh meminta, Frey ingin Josh berhenti dari pekerjaannya. Namun egosi namanya jika Frey mementingkan dirinya. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah berdoa agar Tuhan senantiasa melindungi suaminya dimanapun pria itu berada.
Setibanya di bandara, Josh mengajak Frey ke ruang khusus staff, namum Frey tidak bisa masuk dan mereka harus berpisah di depan pintu.
"Jangan menangis love, aku hanya pergi selama satu minggu," ucap Josh seraya menyeka buliran bening yang entah sejak kapan sudah berderai di wajah Freesia.
"Aku-aku takut," jawab Frey dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Love lihat aku," Josh menangkup wajah Frey dengan kedua tangannya. "Aku akan baik-baik saja dan aku akan pulang, aku akan kembali untukmu," ucapnya menenangkan sang istri.
"Janji?" kata Frey.
"Ya, aku janji!"
Josh lalu merengkuh tubuh Frey dan memeluknya, membiarkan sang istri menangis di pelukannya. Bukan Josh tak tau ketakutan Frey, namun dia juga belum bisa melepas pekerjaan impiannya karena sejak kecil Josh bermimpi menjadi seorang pilot.
Setelah Frey lebih tenang, Josh melepas pelukannya. Pria itu menatap lembut istrinya. "Kau mau minta oleh-oleh apa saat aku pulang?" tanya Josh seraya menyelipkan anak rambut Frey ke belakang telinga.
"Aku mau seratus tangkai bunga mawar merah," Frey menjawab dengan senyum, dia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Josh.
"Aku akan membawakannya untukmu love."
"Hm, kau harus membawakannya!"
Josh mengangguk, pria itu lalu mengecup mesra bibir istrinya. "Kau bisa pulang sendiri kan?" tanyanya khawatir, pasalnya mereka datang dengan naik taxi.
"Aku bukan anak kecil Josh," Frey merengut karena Josh berlebihan.
"Bagiku kau tetap gadis kecilku love," Josh membelai rambut Frey dan mencium ujung rambutnya. Ah, wangi Frey selalu membuatnya tenang.
"Boleh. Tapi minta Jo mengantarmu pulang setelah kau selesai membantunya."
"Siap. Terima kasih Josh!"
"Hem, kau harus pulang sekarang. Aku harus siap-siap. Hati-hati di jalan love. Kabari aku setelah sampai di rumah!"
"Baik sayangku!" Frey tersenyum bahagia, saat ini dia merasakan cinta Josh yang berlimpah ruah dan dia bersyukur akan itu.
"Love you baby girl."
"Love you to husband."
Josh kembali memeluk Frey, dia juga tak rela berpisah dari istri kecilnya meski hanya beberapa hari saja. Josh terpaksa melepaskan pelukannya karena salah satu kru pesawat sudah memanggilnya untuk melakukan persiapan. Josh mengecup bibir Frey sebelum pria itu masuk ke dalam ruangan.
Setelah Josh masuk ke dalam ruangan, Frey segera pergi meninggalkan bandara dan menuju alamat yang di kirimkan oleh adik iparnya.
__ADS_1
Satu jam kemudian Frey tiba di hotel. Jo memintanya datang ke hotel karena Jo tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di hotel tersebut. Kedatangan Frey di sambut Jonathan di lobby hotel. Pria itu tersenyum lebar saat melihat kedatangan kakak ipar kecilnya.
"Kakak ipar," sapa Jonathan sumringah.
"Frey Jo, just Frey!" protes Frey, dia merasa aneh saat Jonathan memanggilnya kakak ipar, rasanya dia begitu tua.
"Oh ya aku lupa. Maaf Frey," Jo mengoreksi panggilannya. "Ayo kita ke kafe Frey, aku butuh saran darimu!"
Frey mengikuti Jonathan menuju kafe yang ada di dekat lobby. Keduanya lalu duduk setelah memesan beberapa menu untuk menemani perbincangan mereka..
"Ada apa Jo, kenapa kau tidak datang ke rumah dan malah memintaku kemari?" tanya Frey penasaran, tak biasanya Jonathan meminta bertemu.
"Maaf Frey, pekerjaanku banyak sekali di sini. Aku mau minta saran darimu!"
"Saran?" ulang Frey dan Jo mengangguk. "Katakan Jo!"
"Beberapa hari yang lalu aku bertemu seorang wanita cantik di atap perusahaan. Sepertinya aku jatuh cinta pada pandangan pertama Frey. Lalu kemarin kami kembali bertemu di hotel, tapi dia sangat cuek dan sepertinya risih karena aku mengejarnya. Menurutmu aku harua bagaimana?" Jo benar-benar menceritakan kisahnya kepada Frey, meski umurnya sudah 28 tahun tapi Jo sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang cinta dan wanita.
"Kenapan kau tidak minta saran pada Jovanka, dia pasti lebih ahli perihal asmara Jo."
"Cih, Jovanka hanya akan menjerumuskanku. Dia pasti akan mengajariku caranya menggoda dan mengajak wanita tidur Frey. Jovanka itu maniak, jangan terlalu dekat dengannya, nanti kau ketularan sesat!"
Frey terkekeh, Jonathan benar-benar lucu. Sepetinya di keluarga Janzsen hanyq Jonathan yang sangat sering tersenyum dan begitu ramah.
"Dekati wanita itu perlahan Jo. Kalau kau terus mengejarnya dia akan lari. Dia akan menganggapmu sebagai buaya. Dan, jangan menggombal yang berlebihan. Mendengar ceritamu, wanita itu pasti sedikit kaku dan tidak menyukai kata-kata manismu Jo."
"Kau benar Frey. Wajahnya kesal saat aku memujinya cantik. Padahal aku tulus karena dia memang sangat can....." Josh tak melanjutkan kalimatnya karena dia tak sengaja melihat sosok wanita yang sedang dia bicarakan.
"Sangat apa Jo?" tanya Frey, dia mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Jo karena pria itu mematung dengan mulut terbuka. "Jo, kau kesambet ya? Jo!"
"Eh," Jo berkedip berkali-kali. Rupanya dia tidak salah lihat. Anne ada di seberang sana. "Dia di sini Frey, dia di belakangmu," Jo menunjuk ke belakang Frey, gadis itu menoleh dan terkejut melihat wanita yang duduk tak jauh di belakangnya.
"Anne."
BERSAMBUNG...
Taburin bunga dong biar othor nggak lemes ❤️
__ADS_1
Oh ya nih yang penasaran sama liontin daun semanggi.