
Dua jam sebelum Josh melakukan klarifikasi, pria itu sudah memantapkan hati dan pikirannya, yang dia rasakam kepada Frey adalah nyata perasaan cinta, bukan sekedar rasa terima kasih apalagi sebatas mengasihani. Pertemuan mereka memang singkat, Josh bahkan tak menyangka jika gadis kecil itu berhasil memenangkan hatinya dalam hitungan hari.
"Frey aku mencintaimu. Aku akan menghancurkan siapapun yang mengganggumu!"
Josh lalu kembali menghubungi Jovanka, di saat yang sama Jovanka membahas tentang bom yang bisa menghancurkan Jennifer. Jovanka lalu mengirim vidio ke ponsel Josh.
"Jov, dari mana kau dapat vidio ini?" tanya Josh penasaran, pasalnya vidio yang baru saja di lihat adalah vidio panas saat Jennifer bercinta dengan Jimmy di kamar hotel sebelum pernikahan mereka.
"Maaf Josh, sebenarnya aku sudah lama tau jika Jenni bermain api dengan dady. Tapi aku yakin kau dan momy tidak akan percaya padaku kalau aku mengatakannya. Diam-diam aku sering membuntuti mereka pergi. Kau ingat saat aku datang ke rumahmu membawa kalung momy?"
"Ya aku ingat, setelah itu aku mengantar Jennifer!"
"Tapi kau tak mengantarnya sampai di kamar kan?"
"Tidak, karena dia bilang ada pemotretan mendadak!"
"Tidak Josh, dia melarangmu ke kamar karena dady sudah menunggunya. Apartemen yang di miliki Jennifer adalah pemberian dady!"
Josh mengatup rahangnya dengan rapat, rasa bencinya terhadap Jennifer semakin berapi-api. Josh merasa harga dirinya di injak-injak. Dia menyesal karena pernah secinta itu dengan Jennifer.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan vidionya Jen?" Josh bertanya setelah cukup lama diam.
"Aku akan mengunggahnya di media sosial!"
"Kau gila. Jelas-jelas dady ada di vidio itu. Kau juga bisa terkena pasal jika ketahuan mengungguh vidio yang tak senonoh!"
"Tenang Josh, vidio itu sudah aku edit, dan tidak akan ada yang mengenali dady di vidio itu. Dan untuk pasal, kau bisa menebusku saat aku di penjara kan?"
"Tapi itu terlalu berbahaya Jov. Bagaimana kalau Jennifer membuka mulutnya dan memberi tahu media jika pria itu adalah dady?" meski sangat ingin menghancurkan Jennifer, namun Josh juga tak bisa menyeret Jimmy untuk turut hancur, meskipun dalam hal ini Jimmy juga bersalah.
"Saat Jennifer membuka mulutnya saat itu juga dia menjadi abu Josh.. Dady pasti tidak akan tinggal diam, anggap saja ini sebagai pelajaran untuk dady, kita memberi sengatan ringan di jantungnya, hahah."
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
"Aku sudah menghubungi stasiun televisi, presenter akan mengikuti arahan kita saat bertanya, jadi kau tenang saja Josh."
.
.
Prank....
"Aaaaarrrghh," Jennifer menjerit lalu melempar gelas berisi wine ke layar televisinya, kini pecahan kaca memenuhi lantai di sertai noda warna merah dari percikan wine. Wanita itu marah semarah marahnya karena semua rencananya tak berjalanan sesuai keinginannya. Jennifer tak pernah menyangka jika Josh memiliki vidionya bersama Jimmy, dan yang lebih membuatnya tak menyangka lagi adalah Josh dengan terang-terangan mengekspose vidio tersebut.
"Hancur, semuanya hancur sekarang," Jenifer berteriak histeris, wanita itu memegangi kepalanya yang berdenyut, rambutnya yang berantakan membuat kesan wanita itu mulai gila. "Bagaimana Josh memiliki vidio itu? Siapa yang merekamnya?" tanyanya pada diri sendiri, dia terus memikirkan kemungkinan terbesar orang yang sudah menaruh kamera di kamar hotel. "Tidak mungkin Josh yang melakukannya?" Jennifer terus berpikir keras, sampai akhirnya sebuah nama muncul di kepalanya. "Jovanka Janzsen," ucapnya dengan tangan terkepal.
Bukan tanpa alasan Jennifer mencurigai Jovanka, karena selain Lynda hanya Jovanka lah yang sangat menentang hubungannya bersama Josh. Setelah berpikir keras, Jennifer akhirnya ingat jika Jovanka masuk ke dalam kamar hotelnya dengan alasan memberikan sebuah hadiah pernikahan. "Awas kau Jov!"
.
.
Di mansion utama, semua orang masih tak percaya kalau Josh baru saja mengakui Frey di di depan media. Mereka begitu terkejut, pasalnya saat menjalin hubungan dengan Jennifer, dia tidak pernah sekalipun mempublish hubungan mereka. Josh telah berubah, gadis itu berhasil menyihirnya.
"Aku tidak yakin sampai dia mengatakan sendiri di depanku," sahut Frey dengan kepala tertunduk.
"Tenang Frey, lusa dia pulang. Dia pasti akan mengatakan cinta dan ...'
"Dan apa Jov?" potong Jonathan sebelum adiknya selesai bicara.
"Dan anu anu."
''Astaga, kenapa pikiranmu mesyum sekali sih Jov. Apa kau sudah ingin menikah?"
"Menikah? Sepertinya menarik."
"Lihat Grann, Jov sudah ingin menikah. Kita nikahkan saja secepatnya," adu Jonathan kepada Lynda.
__ADS_1
"Apa kau sudah memiliki calon Jov?" tanya Lynda seraya menatap cucu perempuannya.
"Sebenarnya ada Grann, tapi jarak kami terlalu jauh, terlebih dia seorang duda meski tanpa anak" jawab Jovanka dengan wajah sedih.
"Oh ya. Memangnya dia tinggal dimana dan apa pekerjaaannya?"
"Dia tinggal di Korea Selatan Grann. Dia seorang akto dan namanya Song Jong Ki."
Jonathan reflek menonyol kepala adiknya yang berkhayal tarlalu tinggim "Dasar tukang halu!"
Semua orang lali tertawa melihat tingkah kedua kakak beradik yang masih berdebat. Namun di tengah canda tawa itu ada sebuah kesedihan serta kekecewaan yang dalam di dalam hati Katherine. Wanita itu menyesal karena tertipu oleh Jennifer. Kecewa, Katherine sungguh kecewa. Dan yang lebih membuatnya sesak, meski sosok pria itu sudah di edit sebagian rupa oleh Jovanka, nyatanya Katherine mengenali proporsi tubuh pria yang bercinta bersama Jennifer. "Apa pria itu adalah Jimmy?'' tanyanya sambil menatap nanar sang suami. Selama belasan tahun mereka hidup bersama, bukan hanya kebiasaan kecil suaminya, Katherine juga mengingat dengan jelas setiap lekuk tubuh sang suami.
"Apa pria itu adalah kau Jimm?" ulang Katherine dengan mata berair.
"Tentu saja bukan mom, pria itu terlihat gendut," sangkal Jovanka dengan cepat.
"Tubuhnya memang gendut, namun tato di pinggang itu hanya milik Jimmy!"
Semua orang tercengang, mereka bahkan tak berani menjawab pertanyaan Katherine.
"Jadi benar. Selama ini kalian menyembunyikannya dariku dan menganggap aku seperti orang bodoh ya. Aku kecewa pada kalian!" Katherine berlari meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamarnya.
"Nyonya," Frey hendak mengejar Katherine, namun ponselnya tiba-tiba berdering. Seutas senyum mencuat di bibir Frey saat mendapati siapa yang menelfonnya.
"Ya Capt," sapa Freesia gugup, pernyataan cinta Josh di media sungguh membuatnya canggung harus bicara dengan Josh.
"Lusa aku pulang. Apa kau menginginkan sesuatu?"
"Cukup pulang dengan selamat, itu sudah cukup untukku Josh!"
"Hem, aku akan pulang. Tunggu aku Love."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Udah hari senin aja yak, vote jangan lupa ya.. Kembang kopi juga boleh 🤣🤣