Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Rencana jahat Jennifer


__ADS_3

Frey duduk di kursi yang berada di balkon kamarnya, gadis itu memijit pangkal hidungnya sambil memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa kembali ke sekolah tanpa harus mengungkap rahasia tentang pernikahannya. Kepalanya semakin terasa berdenyut saat dia melihat mobil Axel masuk ke halaman rumahnya.


"Si kamvret mau ngapain lagi sih?" Frey membuang nafas kesal, gadis itu lalu turun menemui Axel.


Setibanya di lantai bawah, Axel sudah berada di ruang tamu karena mbok Endang yang membukakan pintu untuknya, Frey menghampiri Axel dan duduk di hadapannya, hanya di batasi oleh sebuah meja marmer di tengah mereka.


"Ada apa Axe?" tanyanya dengan wajah datar.


"Soal loe di skors, loe tenang aja, gue bakan bantuin loe agar loe bisa sekolah lagi," jawab Axel langsung pada intinya.


"Axe," Frey menatap pemuda bermata biru itu dengan tatapan yang lebih lembut. "Thank you so much, gue bener-bener bersyukur karena punya temen kaya loe, gue tau maksud loe baik, cuma untuk kali ini, gue mohon loe jangan ikut campur Axe, biarin gue selesaiin masalah gue sendiri," pinta Frey dengan serius, sungguh dia tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalahnya.


"Tapi Frey pihak seko...


"Please Axe," Frey memohon sebelum Axel menyelesaikan kalimatnya, tanpa Frey sadari buliran bening menetes keluar dari pelupuk matanya dan membuat Axel mau tidak mau akhirnya menuruti keinginan gadis yang dia sukai.


"Oke fine, tapi loe jangan nangis. Gue nggak suka lihat loe sedih," ucap Axel pada akhirnya.


"Terima kasih banyak Axe."


"Hem. Ya udah, lebih baik loe istirahat. Gue balik sekarang," setelah berpamitan, Axel segera keluar dari rumah itu di ikuti Frey di belakangnya, gadis itu mengantar kepergian Axel sampai di depan pintu. Sebelum pergi, Axel menatap wajah Freesia untuk beberapa saat. Hatinya terasa sakit melihat wajah cantik itu di liputi kesedihan."Sorry Frey, gue nggak bisa buat nggak ikut campur," batinnya, Axel lalu pergi dan berencana menemui seseorang.


.


.


Di tempat lain, di sebuah agency model ternama di Jakarta, Jennifer sedang berada di sebuah ruangan, wanita itu tersenyum licik sambil menikmati segelas wine.

__ADS_1


"Kau pikir kau bisa melawanku gadis sialan," ujar Jennifer, wanita itu lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Bagaimana Win?" tanya Jennifer begitu panggilan tersambung.


"Gadis itu di skors dari sekolah untuk waktu yang belum di tentukan," jawab Windy, manager yang di suruh Jennifer untuk menyebarkan foto Frey di SMA Angkasa. "Tapi Jenn, bagaimana kalau keluarga Janzsen bertindak, gadis itu pasti akan kembali le sekolah dengan mudah," sambung Windy.


"Kita buat berita ini seramai mungkin."


"Maksudmu?" tanya Windy tak mengerti.


"Ck, kau ini benar-benar bodoh. Berikan foto itu ke salah satu wartawan yang kau kenal, suruh dia menulis judul yang dramatis. Pewaris J&J Company terciduk menginap di hotel dengan gadis remaja. Begitu beritanya meledak, aku yakin Lynda peot maupun yang lainnya akan menyangkal berita itu, dan aku yakin mereka tidak akan mengakui siapa gadis itu sebenarnya, gadis itu akan di buang layaknya sampah yang tak berguna" lagi-lagi Jennifer menyeringai, wanita itu sudah membayangkan kehancuran Freesia di depan matanya.


"Kenapa kau begitu yakin Jenn?"


"Mereka itu keluarga konglomerat, mereka tidak mungkin mengakui jika gadis yang berada di hotel bersama Josh adalah istrinya. Josh bisa di tuding mengekspoitasi anak di bawah umur dan hal itu tentu saja akan berimbas buruk pada perusahaan mereka."


Jennifer melempar ponselnya, wanita itu tertawa puas karena berhasil menghancurkan musuh kecilnya, Jenn menenggak habis wine di gelasnya. "Jika aku tidak bisa kembali bersamamu, maka siapapun tidak boleh memilikimu Josh!"


.


Axel menerobos masuk ke dalam mansion utama, pemuda itu kelimpungan mencari keberadaan Lynda, dia lupa jika Lynda tinggal di rumah kecil yang berada di belakang mansion.


"Axel, what are you doing?" tanya Katherine saat menemukan keponakannya sedang berkeliaran di rumahnya.


"Aunty, dimana Granny?" Axel bertanya dengan tergesa-gesa.


"Granny ada di rumah kecil, ada apa Axe, kenapa kau terlihat panik?"

__ADS_1


"No problem aunty, Axe hanya ingin bertemu Granny," setelah menjawab pertanyaan Katherine, pemuda itu kembali berlari menuju rumah kecil di mana neneknya berada.


"Grann, Graany," Axel berteriak begitu tiba di depan rumah yang di tempati Lynda.


"Axelio Janzsen, are you crazy. Aku belum tuli, untuk apa kau berteriak seperti Tarzan ," jawab Lynda geram, wanita tua itu menatap cucunya dengan tajam.


"Maaf Grann, ini mendesak," Axel menghampiri Lynda dan duduk di hadapan wanita tua itu.


"Ada apa?" suara Lynda mulai melunak, begitupun tatapannya yang mulai lembut. Tak biasanya Axel datang mencarinya, pasti benar-benar ada sesuatu yang mendesak.


"Frey di skors dari sekolah," jawab Axel.


"Apa yang terjadi?"


Axel merogoh saku bajunya, pemuda itu mengeluarkan foto dan memberikannya kepada Lynda, saat di sekolah tadi, Axel memang menyimpan satu foto yang bisa dia tunjukan kepada neneknya.


"Ini Frey dan Josh kan?" Lynda bertanya seraya menatap Axel.


"Ya, mereka berada di hotel dan ada yang mengambil gambar mereka secara diam-diam. Foto ini tersebar di sekolah dan akhirnya Frey di skors.Tolong bantu Frey Grann," Axel memohon kepada Lynda dengan wajah serius, baru kali ini Lynda melihat Axel peduli terhadap orang lain, biasanya Axel begitu acuh dengan masalah orang lain.


"Pak Hadi," Lynda memanggil supir pribadinya, tak lama kemudian seorang pria paruh baya datang.


"Iya nyonya."


"Jemput Freesia dan bawa dia kemari sekarang juga!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2