Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Rebutan


__ADS_3

Freesia mengurung dirinya di kamar, gadis itu bahkan melewatkan makan malamnya. Bukan karena dia marah, namun Freesia enggan turun dari tempat tidur karena luka di pahanya terasa semakin perih. Saat ini Frey bahkan hanya menggunakan celana super pendek agar lukanya tak semakin sakit. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, tiba-tiba dia meraih ponselnya dan mendial nomor seseorang di gawai cerdasnya. Freesia menghela nafasnya dengan kasar, sudah tiga kali panggilan dia lakukan namun selalu saja tak mendapatkan respon.


"Bibi Anne, aku kangen," desisnya pelan, tak terasa buliran bening menetes di wajahnya. Setelah kejadian waktu itu, Anne seolah menghilang di telan bumi, berkali-kali Frey datang ke toko bunga namun hasilnya Anne Florist selalu tutup. Kadang Frey berpikir, mungkin saja Anne sedang menikmati hidupnya setelah belasan tahun Anne harus merawat dan menjaga Freesia sehingga wanita itu kehilangan sebagaian masa mudanya.


Suara ketukan pintu mengakhiri lamunan panjang Frey, gadis itu menyeka air matanya tepat bersamaan saat pintu kamarnya terbuka, dengan cepat Frey menutupi pahanya dengan selimut.


"Boleh aku masuk?" tanya Josh sambil tersenyum.


"Kenapa minta izin, kau bahkan sudah berada di dalam kamarku," jawab Freesia, tersirat sebuah sindiran halus mengingat Josh sudah berada di dalam kamarnya.


"Ah kau benar," Josh tersenyum kecut, pria itu lalu menghampiri Freesia, sementara kedua tangannya membawa nampan berisi makanan. "Kau tidak turun, jadi aku membawa makan malam untukmu," Josh meletakan nampan tersebut di nakas, pria itu lalu duduk di tepi ranjang seraya menatap Freesia. "Bagaimana lukanya?" tanyanya khawatir, entah keberanian dari mana, Josh lalu menyingkap selimut yang menutupi paha Freesia, namun belum sempat selimut itu terbuka freesia lebih dulu menahan tangan Josh.


"Apa yang kau lakukan Capt?" Freesia menatap Josh penuh selidik.


"Aku hanya ingin memeriksa lukamu," jawabnya tenang, dia lalu menyingkirkan tangan Freesia dan kembali membuka selimut tersebut hingga menampakan kedua paha mulus Freesia di mana salah satunya terdapat luka .


"Josh aku malu," Freesia berusaha menutupi pahanya.


"Hanya sebentar, aku akan mengobatinya," jawab Josh gugup, gelenyar aneh menyerang tubuhnya saat dia melihat paha Freesia, apalagi gadis itu mengenakan celana super pendek yang memamerkan hampir seluruh bagian pahanya. "Fokus Josh," batinnya seraya menggigit bibir bagian dalam. Dengan jantung yang berdebar-debar, Josh meraih salep yang di belinya setelah mendapat resep dari dokter yang mengobati Freesia di sekolah. Ya, setelah Frey pulang, diam-diam Josh datang ke sekolah. Niat awalnya hanya ingin mendapatkan resep dari dokter, namun Josh malah menemukan fakta jika yang Frey alami bukan sebuah ketidaksengajaan.


Perlahan Josh mengolesi luka Frey dengan salep, sesekali Freesia meringis menahan perih di kulitnya. "Kenapa kau tidak bilang padaku?" ucap Josh pelan, setelah selesai mengolesi salep, pria itu menatap wajah Freesia.


"Soal apa?" jawab Freesia bingung.


"Soal kuah bakso."


"Tadi kan aku sudah bilang."


'Ya, tapi kau tidak bilang kalau temanmu yang melakukannya!"


"Dari mana kau tau?" tanya Frey penasaran..


"Kau tak perlu tau. Aku akan membicarakan hal ini kepada pihak sekolah. Apa yang temanmu lakukan sudah menjurus ke tindakan kriminal."

__ADS_1


"Jangan Josh," cegah Frey dengan cepat, dia tak ingin masalah itu berlarut-larut.


"Why? Mereka menyakitimu?" Josh menatap Freesia tak percaya.


"Aku tidak ingin memperkeruh keadaan. Lagi pula Axel sudah membuat peritungan dengan Frily," ucap Frey, tanpa sengaja dia menyebut nama Axel yang seketika membuat Josh merasa kesal.


"Axel? Apa yang dia lakukan?" selidik Josh, dia tak suka saat mendengar Frey menyebut nama Axel.


"Axel menyiram Frily dengan kuah bakso yang sudah di campur kecap dan saus. Kau tau apa yang dia katakan?" Josh hanya menggeleng.


"Kalau ada yang berani mengganggu Frey atau menyentuhnya kalian semua akan berhadapan denganku," kata Freesia dengan penuh semangat, gadis itu memperagakan bagaimana Axel mengancam teman-temannya tadi.


"Kau sangat senang?" tanya Josh dengan wajah masam.


"Tentu saja, sekarang aku merasa aman karena Axel melindungiku!"


"Sepertinya kalian sangat dekat? Apa kau menyukai Axel?"


"Lebih baik kau makan lalu tidur!" Josh lalu berdiri, pria itu merasa kesal namun tak tau apa penyebabnya. Josh memilih keluar dari kamar istri kecilnya dan mencoba mencari tau penyebab rasa tidak nyaman di hatinya.


Frey menatap kepergian Josh, gadis itu tersenyum penuh arti. "Axe, sorry, sepertinya gue bakal jadiin loe senjata untuk meraih hati sepupu loe!"


.


.


.


Pagi kembali menyapa, Frey bangun lebih awal dari biasanya. Gadis itu lalu bersiap, pagi ini dia memakai rok yang lebih panjang untuk menutupi luka di pahanya. Setelah siap, Frey turun ke dapur, gadis itu tersenyum mendapati mbok Endang sudah menyiapkan sarapan untuknya.


"Selamat pagi non," sapa mbok Endang ramah.


"Pagi mbok."

__ADS_1


"Mbok buatin nasi goreng spesial buat non Freesia," Mbok Endang meletakan piring berisi nasi goreng serta segelas air putih.


"Waow, pasti enak. Terima kasih mbok," mata Freesia berbinar melihat menu sarapannya, dengan cepat gadis itu melahap makanannya.


Setelah selesai sarapan, Frey bergegas keluar karena dia sudah mendengar klakson mobil Axel. Saat di depan rumah, Freesia membeku, menatap kedua pria yang wajahnya hampir serupa, keduanya berdiri di samping mobil mewah mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Kalian lagi cosplay jadi sales mobil?" ucap Frey dengan wajah serius meski sebenarnya dia ingin tertawa saat melihat pose Axel dan Josh yang mirip seperti seorang sales super car.


"Ayo berangkat," ajak Axel, pemuda itu lalu membukakan pintu mobil untuk Freesia.


"Aku akan mengantarmu ke sekolah!" Frey dan Axel sontak menoleh, keduanya terkejut saat Josh tiba-tiba membuka pintu mobilnya juga. "Ayo Frey, kau bisa terlambat!" ajaknya dengan suara keras.


"Frey berangkat bareng gue," sela Axel tak terima, tiba-tiba Josh akan mengantar Feesia.


"Aku yang akan mengantarkannya!" ucap Josh seraya menatap tajam sepupunya.


"Gue yang lebih dulu ngajakin Frey berangkat sekolah bareng!"


"Tapi aku yang akan mengantarkannya!"


Ketegangan terjadi di antara kedua sepupu itu, keduanya saling menatap tajam dan berebut mengantar Freesia ke sekolah.


"Cukup!" kata Freesia menengahi.


"Loe mau berangkat bareng siapa?" / "Aku akan mengantarmu Frey!" ucap Axel dan Josh bersamaan.


"Maaf Josh, aku akan berangkat bersama Axel. Kau akan terbang siang ini kan, kau akan terlambat kalau mengantarku dulu," putus Freesia, seperti rencana awalnya, dia akan memanfaatkan Axel untuk mendapatkan hati Josh. "Aku berangkat ya," pamit Frey,senyum singkat menghias wajahnya, dia lalu masuk ke dalam mobil Axel.


"Gue pemenangnya," ujar Axel dengan senyuman mengejak, pemuda itu lalu menyusul Frey ke dalam mobil dan segera berangkat ke sekolah.


"Aish, dasar badjingan kecil, awas kau Axe!"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2