Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Josh kembali


__ADS_3

Cuaca masih tak bersahabat, Frey memutuskan menunggu di rumah karena Jimmy melarangnya ikut ke bandara. Jimmy juga mengabarkan jika mereka telah menemukan Josh dan kondisinya baik-baik saja. Namun meskipun demikian, Frey belum merasa tenang jika belum melihat Josh secara langsung.


Namun hingga langit kembali petang, Josh belum juga pulang. Perasaan Frey kembali gelisah, gadis itu hendak keluar dari kamarnya karena dia sama sekali tak bisa untuk sekedar menutup matanya. Namun langkahnya terhenti saat gawai pintarnya berbunyi, Frey kembali masuk untuk menjawab panggilan tersebut.


"Hallo Ci," sapa Frey setelah panggilan tersambung


"Hallo girl, how are yo to day?" tanya Cia dari seberang sana.


"Gue masih nungguin Josh pulang," jawab Frey dengan mata berkaca-kaca.


"Sabar ya Frey, gue yakin kapten akan baik-baik aja."


"Thanks Ci. Oh ya gimana di sekolah? Apa mereka masih ngomongin gue?" tanya Frey setelah beberapa hari tidak masuk sekolah.


"Udah nggak seramai waktu itu. Perlahan juga mereka pasti lupa. Cuma ada beberapa pihak yang nggak setuju loe kembali ke sekolah karena status loe yang udah nikah. Kayaknya pihak sekolah bakal ngadain rapat lagi buat ngebahas masalah ini Frey," jelas Cia panjang lebar.


Frey menghela nafas berat. "Gue pasrah, kalaupun gue harus berhenti sekolah. Gue emang salah!"


"Sabar ya Frey. Gue yakin loe bakal baik-baik aja. Oh ya, Kayli juga udah nyalin beberapa pelajaran buat loe, dia sampai ketiduran di rumah gue!"


"Kayli di rumah loe?"


"Iya, tapi anak molor, kekenyangan abis makan pizza," Cia terkekeh.


"Dasar tukang makan. Tolong bilangin makasih buat Kay ya Ci," pinta Frey setulus hati, di saat seperti ini dia bersyukur karena memiliki sahabat yang sangat peduli.


Setelah panggilan selesai, Frey kembali ke luar kamar dan turun ke lantai bawah. Seperti biasa dia bergabung bersama Lynda dan Katherine, di sana juga ada Axel dan kedua orang tuanya.


"Duduk sini Frey," titah Lynda dan Frey mengangguk patuh, gadis itu duduk di sofa yang paling dekat dengan Lynda.


"Frey ada yang ingin aku tanyakan? Mengenai sekolah..."


"Frey pasrah kalau pihak sekolah akan mengeluarkan Frey dari sekolah," potong Frey sebelum Lynda menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


"Aku belum selesai bicara Frey," tandas Lynda seraya menatap wajah cucu menantunya.


"Maaf Grann," Frey menunduk sambil meremas tangannya.


"Kau akan tetap bersekolah Frey, tapi kau tidak perlu berangkat ke sekolah!"


"Maksud Granny?" Frey mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap wanita tua yang duduk tak jauh darinya.


"Karena berita tentang pernikahanmu tersebar luas, Dinas Pendidikan menekan kami untuk mengeluarkanmu dari sekolah, mereka tidak ingin ada yang mengikuti jejakmu. Maafkan aku Frey, aku pernah berjanji untuk melindungimu tapi ternyata aku tak bisa berbuat banyak," Lynda merasa bersalah karena dia tak bisa melindungi Frey seperti apa yang pernah dia janjikan. "Tapi kau tak perlu khawatir, pihak sekolah tidak benar-benar mengeluarkanmu, kau tetap murid di SMA Angkasa hanya saja kau harus belajar di rumah karena kami sepakat membuat pernyataan jika kami telah mengeluarkanmu. Kau mengerti maksudku kan?" demi Frey tetap bersekokah, Lynda sampai membungkam beberapa petinggi di dinas pendidikan dan hasilnya Frey masih bisa sekolah meski dia tak bisa datang ke sekolah.


"Frey mengerti Grann, terima kasih banyak karena telah mengupayakan yang terbaik untuk Frey."


"Kau juga akan belajar seperti di sekolah karena aku mengirim semua guru ke rumah setelah mereka selasai mengajar di sekolah. Kau juga akan mengikuti ujian seperti teman-temanmu."


"Baik Grann!"


Tak masalah asal masih bisa bersekolah Frey bisa belajar di manapun. Dia juga merasa bersalah kepada Lynda, wanita itu harus bersusah payah agar Frey tetap bisa bersekolah.


Sementara itu Axel hanya bisa berdiam diri dan menatap Frey dari jauh, setelah pernyataan cinta dari Josh beberapa hari yang lalu, rasa percaya diri Axel seakan hilang, rasanya dia seperti tak memiliki harapan lagi untuk bisa memiliki Freesia.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Jonathan seraya memeriksa tangan serta wajah kembarannya.


"Aku baik Jo," jawab Josh pelan.


"Kau yakin. Kita harus ke rumah sakit sekarang. Melihat kondisi pesawatmu, aku tidak yakin kalau kau baik-baik saja!"


"Jo, bagaimana dengan penumang dan kru pesawat?" Josh terlihat khawatir, pasalnya saat dia di evakuasi, Josh mendengar suara tangis dari dalam pesawat.


"Mereka semua selamat Capt, kau berjasa besar karena menyelamatkan mereka semua."


"Sykurlah."


"Tapi Josh, aku penasaran kenapa kalian semua baik-baik saja sementara pesawatku hampir hancur," tanya Jo penasaran, dia sempat melihat kondisi pesawat yang memang bisa di katakan hampir separuhnya hancur.

__ADS_1


"Bagian moncong pesawat hancur karena menabrak fondasi antena localizer di Runway and Safety Area. Aku juga tidak tau kenapa pesawatnya bisa hancur begitu. Sepertinya pesawatmu jelek," jelas Josh di iringi cibiran untuk suadara kembarnya.


"J&J Airlines tidak memiliki pesawat yang jelek Josh. Kami selalu memakai pesawat baru. Kau jangan sembarangan. Pesawat itu kan juga milikmu, kau juga turut andil saat akan membeli pesawat baru," Jonathan tak terima dengan kritikan kembarannya.


"Sudahlah. Semua ini karena Tuhan melindungi kami semua. Ayo kita pulang."


"Ya, berkat doa istrimu juga tentunya."


Mendengar kata istri, kerinduannya kepada Freesia semakin tak tertahankan, pria itu ingin segera pulang dan memeluk istri kecilnya, dia juga ingin segera mengungkapkan perasaannya.


Josh akhirnya tiba di mansion utama setelah sebelumnya dia mampir ke kantor J&J Company untuk mengisi beberapa berkas dan membersihkan tubuhnya.


""Josh," pekik Katherine saat Josh menginjakan kaki di ruang keluarga. Katherine berlari menghampiri putranya dan segera memeluk putra tertuanya. Katherine menangis haru di pelukan Josh. "Sykurlah kau baik-baik saja," ucap Katherine di sela tangisannya.


"Semua ini berkat doa momy dan semuanya," balas Josh penuh rasa syukur.


Josh lalu menghampiri Lynda dan memeluk wanita tua itu. "Aku yakin kau akan selamat!" ujar Lynda seraya menepuk punggung cucunya.


Setelah neneknya, Josh lalu menghampiri Jerry dan Willy, pasangan suami istri itu memeluk keponakan mereka dengan penuh haru. Josh juga menghampiri Axel yang berdiri di sebelah orang tuanya.


"Terima kasih Axe, kau sudah menjaga Frey selama aku pergi."


"Hem. Aku senang karna kau selamat."


Dan untuk yang terakhir, Josh melangkahkan kakinya mendekati Frey yang masih tak bergeming di tempatnya. Gadis itu hanya diam dengan air mata berderai di wajah cantiknya.


"Aku pulang Love," ucap Josh seraya mengusap lembut air mata di pipi istrinya.


Tangan Frey terulur, jemari lentiknya membelai setiap inci wajah suaminya. "Kau kembali," lirihnya, tanpa menunggu lebih lama lagi, Frey segera memeluk tubuh Josh seerat mungkin. Josh yang juga sangat merindukan Frey segera membalas pelukan istrinya, di dekapnya dengan erat tubuh mungil itu. Berkali-kali Josh menghujani pucuk kepala Frey dengan ciuman.


Kedua pasangan itu membuat semua orang merasa terharu, Katherine bahkan sampai menangis melihat betapa nyata cinta di antara Frey dan Josh.


"Momy harap kalian akan bahagia selamanya!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2