
Setelah ingatannya kembali, Maggie memindahkan Frey ke kamar yang layak untuk di tempati oleh gadis itu, namun sayangnya Frey lebih memilih mengurung diri di dalam kamar, selain karena dia masih terkejut dengan ingatan masa lalunya, percumah saja Frey keluar kamar karena Maggie tak membiarkannya pulang ke rumah Josh.
Matahari mulai meninggi dan Frey belum juga memejamkan matanya sejak semalam. Pikirannya melanglang buana, menyusuri setiap ingatan masa lalu yang mulai tersusun rapi di kepalanya.
Dan mengenai kecelakaan pesawat yang menimpa keluarganya, Frey masih belum bisa memutuskan apakah cerita Maggie benar adanya. Namun, seketika Frey mengingat cerita Josh tentang kecelakaan pesawat yang di alami Kathrine sepuluh tahun silam. Bukankah Frey juga kecelakaan sepuluh tahun yang lalu?
"Apa Katherine berada di pesawat yang sama denganku?" tanya Frey pada dirinya sendiri. Dia ingin segera memastikan agar benang kusut di kepalanya cepat terurai. Frey bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Gadis itu lalu diam-diam keluar dari kamarnya dan mencari jalan keluar.
Villa di tempati teramat besar membuat Frey kebingungan, di bahkan sama sekali tak menemukan orang lain di dalam villa tersebut.
"Dimana kamar bibi? Aku harus meminta bantuannya," batin Frey sambil terus menyusuri ruangan demi ruangan di dalam Villa.
Hampir lima belas menit Frey berkeliling, namun dia belum juga bisa keluar dari villa mewah tersebut. Sampai akhirnya Frey tiba di depan sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka, gadis itu mendengar ada sebuah suara dari ruangan tersebut, dia berharap suara itu milik Anne. Frey hendak membuka pintu, namun suara Maggie di dalam sana membuatnya urung membuka pintu.
"Jam tiga sore Josh akan menjual semua sahamnya kepadaku dan sebagai gantinya aku akan menyerahkan cucuku kepadanya," ucap Maggie penuh percaya diri.
"Bagaimana dengan nona muda? Apa anda tidak ingin dekat dengan nona muda?" tanya Andrew.
"Kau tidak lupa kan, aku mendekatinya hanya untuk aku jadikan senjata? Melihat wajahnya membuatku muak, dia sangat mirip dengan ibunya!"
"Lalu apa rencana anda setelah menjadi pemegang saham terbesar J&J Company?"
__ADS_1
"Tentu saja aku akan menghancurkannya hingga tak tersisa. Mereka harus mendapatkan balasan atas kematian putraku. Namun sebelum itu terjadi, aku harus meracuni otak agar aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menghancurkan mereka!"
Freesia membekap mulutnya, dia tak percaya jika Josh rela menjual saham demi menyelamatkannya, Frey juga tak menyangka Maggie memiliki niat sejahat itu. Meski Frey belum tau kebenaran mengenai kecelakaan pesawat, namun Frey tidak boleh membiarkan Maggie menghancurkan keluarga suaminya.
"Aku harus bertemu Josh sebelum dia menjual sahamnya. Mereka tidak boleh hancur," batin Frey sambil berlari meninggalkan ruangan tersebut. Mata Frey berbinar begitu dia melihat pintu utama, namun saat akan membukanya beberapa orang bertubuh besar dan di penuhi tato menghampiri Frey dan menahan gadis itu agar tak keluar dari villa.
"Maaf nona anda di larang keluar dari villa ini!" tegas salah soerang pria yang Frey yakini sebagai anak buah Maggie. Karena tak ingin membuat keributan, Frey akhirnya mengalah dan kembali ke kamarya. Dia akan mencari cara agar bisa keluar dari vila secepatnya.
Namun Maggie seperti tak memberi waktu untuknya, wanita tua itu menghampiri Freesia di kamarnya.
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya dengan wajah datar, wanita tua itu memang jarang tersenyum ramah dengan orang lain.
"Sudah baik. Bukankah anda harus membiarkan saya pulang?" jawab Frey penuh penegasan.
"Pulang ke rumah suamiku, dia pasti mengkhawatirkanku," jawab Frey seolah dia tak tau jika Josh sudah mengetahui jika dia bersama Maggie.
"Setelah ingatanmu kembali apa kau tidak membenci mereka?" pancing Maggie, wanita itu mulai menabur benih kebencian di hati Frey.
"Aku harus mengikuti permainannya," batin Frey.
"Entah, aku masih butuh waktu agar ingatanku tidak terpecah belah, aku masih belum yakin dengan ingatanku" Frey menjawab dengan suara lebih lembut.
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik, mereka telah membunuh kedua orang tuamu dan kini mereka hidup bahagia tanpa merasa bersalah sedikitpun!"
"Aku akan memikirkannya!"
.
.
Pukul tiga sore, Maggie kembali ke kamar Frey dan mengajal gadis itu untuk ikut dengannya. Frey hanya patuh, dia tau jika Maggie akan membawanya untuk menemui Josh. Sebelum keluar dari villa, Frey sempat mencari keberadaan Anne, namun gadis itu tidak menemukan Anne di dalam villa.
"Kemana bibi Anne pergi?" tanya Frey begitu dia berada di dalam mobil menuju tempat yang entah dimana.
"Bibimu sedang menikmati waktunya. Pikirkan nasib bibimu juga. Gara-gara mereka, bibimu harus merawat mu dan meninggalkan semua impiannya," balas Maggie, wanita tua itu benar-benar tak menyerah menabur bibit kebencian di hati Frey.
"Hem," Frey hanya bergumam, selanjutnya dia hanya menatap ke luar jendela dan berharap agar bisa secepatnya bertemu dengan Josh. Mobil yang di tumpangi Frey menepi di bahu jalan, satu kilo meter di depan sana ada sebuah restoran yang di gunakan Maggie untuk melakukan transaksi bersama Josh.
"Kau tunggu di sini, jangan pergi kemanapun atau kau tidak akan melihat suamimu selamanya!" ucap Maggie di sertaii sebuah ancaman. Detik berikutnya sebuah mobil mewah berhenti di depan mobil yang mereka tumpangi. Maggie lalu keluar dan berpindah mobil.
Frey hanya bisa patuh, ancaman wanita tua itu selalu membuatnya merinding. Dia memutuskan menunggu sampai Josh datang menjemputnya.
"Josh, cepat datang!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...