Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
I mean i love you


__ADS_3

"Maafkan saya nyonya, saya belum terbiasa berada tengah keluarga besar Janzsen. Dan apa yang anda katakan adalah kebenaran, orang tua saya memang tak pernah mengajari saya hal sepele seperti ini karena mereka meninggal saat saya masih kecil. Kedepannya saya akan memperbaiki diri, mohon bimbingannya," Freesia lalu berdiri dari duduknya, gadis kecil itu membungkukkan tubuhnya sebagai tanda jika dia meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Namun jauh di lubuk hatinya, gadis kecil itu merasa sedih karena Katherine telah menghinanya di depan semua orang dan Josh tak membelanya sama sekali.


Mendengar ucapan Freesia, seketika Katherine di liputi rasa bersalah, namun Katherine mencoba menepis perasaan bersalahnya dan tetap bersikeras untuk memisahkan Freesia dan Josh.


Makan makam di lanjut dengan suasana canggung, Freesia menjejal mulutnya dengan makanan dan berusaha menahan air matanya. Tiba-tiba saja Freesia merindukan Anne dan ingin kembali ke rumahnya.


"Frey, loe suka paha ayam kan?" ucap Axel tiba-tiba, pemuda itu lalu berdiri dan memindahkan paha ayam ke piring Freesia, sementara Freesia hanya bisa menatap Axel yang sedang tersenyum kepadanya.


"Thanks," lirih Freesia karena tak ingin mendapat teguran dari Katherine lagi.


Josh yang duduk di sebelah Freesia menatap interaksi kedua anak muda itu, rasanya ada sesuatu yang aneh saat Axel memberikan paha ayam kepada Freesia. "Apa mereka sangat dekat?" batin Josh menduga-duga, Axel saja sampai tau jika Freesia menyukai paha ayam, bukankah artinya mereka memang sedekat itu?


Setelah makan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga sekedar untuk berbincang. Namun keadaan terasa aneh saat Axel tiba-tiba duduk di sebelah Freesia dan membawakan ice cream rasa cokelat untuk gadis itu.


"Ice cream loe," ucap Axel seraya memberikan satu cup ice cram yang di bawanya.


"Terima kasih," Freesia menerima ice cream favoritnya sambil tersenyum, sepertinya suasana hatinya akan segera membaik setelah makan ice cream.


"Mau makan ice cream di taman?"


Freesia menatap Axel dengan tatapan yang sulit di artikan, sebelumnya Axel bahkan jarang menyapanya, tapi kenapa malam ini pemuda itu terus menempel kepadanya. "Apa tidak apa apa?" tanya Freesia ragu.


"Grann, aku akan mengajak Frey keluar dan jalan-jalan," tiba-tiba Axel meminta izin pada Lynda dan membuat kedua orang tuanya terheran dengan sikap aneh putranya, biasanya Axel akan berbuat seenaknya dan tak pernah meminta izin kepada siapapun.


Lynda menatap Freesia dan melihat ketegangan di wajah cucu menantunya, sepertinya Freesia tertekan dan butuh udara segar. "Jangan terlalu lama di luar," ucap Lynda memberi izin.


Setelah mendapat izin dari Lynda, kedua anak muda itu segera keluar dari rumah utama dan berjalan ke area belakang mansion di mana ada taman bunga di sana. Axel mengajak Freesia duduk di bangku taman seraya menikmati tanaman bunga yang sebagian sedang bersemi. Melihat Freesia yang tampak kedinginan, Axel melepaskan jasnya dan memakaikannya di punggung Freesia.


"Frey," panggil Axel dengan lembut.


Freesia menoleh dan menatap Axel yang duduk di sebelahnya setelah menyelimuti tubuhnya dengan jas. "Kenapa loe baik sama gue akhir-akhir ini Axe?"

__ADS_1


Axel menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Apa dulu gue nggak pernah baik sama loe?" tanya Axel dan Freesia hanya mengangguk. "Apa loe nggak pernah merasakan sesuatu? Di sekolah, bahkan hanya loe satu-satunya cewek yang gue ajak bicara Frey," ungkapnya dengan wajah serius.


"Apa maksud loe Axe?"


"I mean, I LOVE YOU Freesia Lovina!"


Untuk beberapa saat Freesia membeku di tempat, namun detik berikutnya gadis itu tertawa terbahak-bahak. "Wah parah loe, loe mau ngerjain gue kan? Loe nggak bakal berhasil Axe," ucap Freesia seraya mengusap ujung matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.


"Gue serius, gue udah suka sama loe semenjak kita masih kelas satu," Axel kembali mengungkapkan perasaannya agar Freesia percaya.


"Bercanda loe nggak lucu Axe," tepis Freesia.


Axel meraih tangan Freesia dan membawa tangan itu ke dadanya. "Debaran ini cuma milik loe Frey, sejak awal jantung ini cuma berdebar buat loe. Gue serius dan gue nggak main-main!"


Freesia dapat merasakan jantung Axel yang berdebar-debar, gadis itu lalu segera menarik tangannya karena tak ingin terlalu dekat dengan Axel mengingat statusnya sekarang.


"Loe tau kan gue udah nikah sama Josh?" tegas Freesia mengingatkan Axel akan statusnya saat ini.


Freesia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "No Axe, gue nggak terpaksa melakukan pernikahan itu karena gue benar-benar mencintai Josh!"


Axel menatap Freesia tak percaya, seketika sekujur tubuhnya terasa lemah saat mendengar pengakuan gadis yang selama ini dia sukai. Penyesalan kembali mengujam hatinya, seandainya Axel lebih berani dan mengungkapkan perasaannya sejak awal, mungkin saja mereka akan memiliki akhir yang berbeda.


"Axel, i'm so sorry. Tapi gue nggam bisa membohongi perasaan gue. Dan gue harap loe bisa merahasiakan pernikahan gue bersama Josh," pinta Freesia sungguh-sungguh, gadis itu lalu melepaskan jas milik Axel dan mengembalikannya kepada pemuda itu. "Thanks Axe, gue masuk dulu ya," pamit Freesia, gadis kecil itu lalu meninggalkan Axel dan kembali masuk ke mansion.


Sementara itu, tak jauh dari tempat Freesia dan Axel berbicara, Josh menatap punggung Freesia dengan perasaan berbeda. Sejak kedua anak muda itu pergi ke taman,Josh memang sengaja mengikuti mereka dan tak sengaja mendengar pengakuan Axel dan pengakuan Freesia jika gadis kecil itu benar-benar mencintainya.


"Aku pikir kau hanya bercanda tentang perasaanmu Frey, sepertinya aku harus menjaga jarak darimu agar perasaanmu tak semakin jauh," batin Josh, pria itu lalu meninggalkan taman dan menyusul Freesia kembali ke rumah.


.


.

__ADS_1


.


Selama perjalanan pulang, Josh memilih diam dan mulai menjaga jarak dari Freesia. Dia hanya tak ingin Freesia terluka karena perasaan cintanya tak terbalas, sejauh ini Josh sangat yakin jika dia tak akan pernah jatuh cinta lagi. Dan soal perasaan nyamannya saat bersama Freesia, pria itu yakin itu hanya sebatas perasaan terhadap rekan kontraknya.


Setibanya di rumah, Josh lebih dulu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Freesia tanpa sepatah katapun. Freesia merasa kebingungan karena merasa Josh menghindarinya sejak pulang dari mansion utama.


"Apa gue punya salah?" tanya Freesia pada dirinya sendiri. Karena tak ingin mati penasaran, Freesia mengejar Josh dan ingin bertanya secara langsung kepada pria itu.


"Josh tunggu," panggil Freesia dengan keras.


Josh menghentikan langkahnya, pria itu menoleh dan menatap Freesia yang tengah mengejarnya menaiki tangga.


"Apa aku punya salah?" tanya Freesia dengan nafas tersenggal-senggal karena berlari menaiki tangga.


"No," jawab Josh singkat..


"Kenapa aku merasa kau menghindariku sejak pulang dari mansion?" tanya Freesia lagi.


"Hanya perasaanmu saja," elak Josh.


"Katakan saja kalau aku punya salah, aku tidak suka kau mendiamiku Josh!"


"Frey aku hanya lelah."


"Baiklah kalau begitu. Istirahatlah Josh," ucap Freesia sambil tersenyum, meski begitu dia masih merasa sikap Josh sedikit berbeda. Freesia lalu mendahului Josh untuk kembali ke kamarnya. Namun baru dua langkah Frey menaiki anak tangga, tak sengaja kakinya tergelincir membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Aaa..." teriak Freesia seraya memejamka mata saat dia merasa tubuhnya melayang di udara. Namun setelah beberapa detik berlalu, Freesia tak merasakan sakit sama sekali, dia malah merasa sebuah tangan kekar sedang menggendong tubuhnya. Saat Freesia membuka matanya, gadis itu bisa melihat wajah Josh yang terlihat panik.


"Kau baik-baik saja? Kenapa kau sangat ceroboh. Bagaimana kalau kau jatuh dan sesuatu terjadi padamu?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2