Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Promise


__ADS_3

Kecewa, kata yang sangat mewakili perasaan Freesia saat ini, gadis kecil itu duduk termenung dengan wajah murung saat Josh mengajaknya ke bandara untuk pulang ke Indonesia padahal sebelumnya mereka berencana untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Belanda.


Freesia membuang nafasnya berkali-kali, padahal dia sudah menyusun banyak sekali rencana begitu tiba di negeri kincir angin. Selain berlibur dan menikmati waktunya bersama Josh, Freesia juga berencana untuk mencari tau tentang kedua orang tuanya. Bermodal sebuah alamat yang dia temukan di kamar Anne, di tambah ingatan samar-samar tentang seorang wanita tua membuat Freesia yakin jika dia masih memiliki keluarga selain Anne.


Perjalanan panjang menunu Jakarta Freesia habiskan dengan berdiam diri, gadis kecil itu bahkan hanya menjawab pertanyaan Josh dengan singkat dan sisanya dia memilih untuk tidur.


"Frey aku tau kau tidak tidur," ucap Josh yang merasa kurang nyaman dengan diamnya Freesia, padahal sebelum sebelumnya gadis kecil itu begitu cerewet dan selalu menanyakan banyak hal kepadanya.


"I'm so sorry Lov," ujar Josh dengan suara penuh penyesalan. "Aku hanya tidak ingin di ganggu Jennifer, aku yakin dia akan mengikuti kita kemanapun kita pergi," jelas Josh.


Perlahan Freesia membuka matanya, gadis kecil itu menoleh dan menatap Josh yang juga tengah menatapnya. Mata biru Josh yang begitu teduh seketika menghilangkan kekecewaan Freesia.


"Ya, aku mengerti," ucap Freesia dengan sebuah senyum terbingkai di wajahnya, senyum yang membuat cekungan dalam di kedua sisinya dan kembali membuat Josh teramat sayang untuk berkedip.


"Josh, apa kau tau kenapa aku sangat ingin pergi ke Belanda?" tanya Freesia dan Josh hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Aku pernah bilang kalau ayahku orang Belanda kan?" lagi-lagi Josh hanya mengangguk, mulutnya seakan terkunci dan tatapannya hanya tertuju pada wajah cantik yang kini terlihat sedih.


"Aku ingin menemukan keluargaku selain bibi Anne, aku yakin aku masih memiliki seorang nenek. Samar-sama aku mengingat tentang seorang wanita tua yang aku yakini sebagai nenekku," entah apa yang membuat Freesia menceritakan rahasianya kepada Josh, padahal sebelumnya gadis kecil itu menyimpan rapat rahasia itu dari Anne. Freesia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan secarik kertas berisikan sebuah alamat dan memberikannya kepada Josh. "Aku menemukan alamat ini di kamar bibi."


Josh meraih kertas tersebut, pria itu membaca dengan seksama alamat yang tertulis di sana. "Aku berjanji akan membantu menemukan nenekmu Frey," ucap Josh tulus, dari sorot matanya pria itu benar-benar serius akan ucapannya.


"Kau serius?" tanya Freesia dengan mata berkaca-kaca.


"Yes, i"m promise."


"Terima kasih Josh."


Josh mengulas senyum, entah dorongan dari mana jemari kekarnya mulai menyentuh wajah Freesia dan menyeka air mata yang mulai berjatuhan di wajah gadis kecil itu. Seolah Josh dapat merasakan kesedihan Freesia, pria itu lalu menarik tubuh Freesia dan memeluknya dari samping.

__ADS_1


"Kau boleh berbagi kesedihanmu denganku Frey. Aku banyak berhutang padamu, dan aku ingin bisa melakukan sesuatu untukmu!"


Freesia hanya diam, meski Josh memberi perhatian kepadanya hanya sekedar balas budi, namun Freesia tetap merasa bahagia. Setidaknya di saat Anne sedang marah kepadanya, Freesia memiliki tempat untuk berbagi dan berkeluh kesah.


"Mantraku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku Josh, kau akan peduli padaku tanpa embel-embel hutang budi. Bim Salabim," batin Freesia seraya meniupkan mantranya ke dada Josh, gadis itu benar-benar percaya jika mantranya begitu ampuh, buktinya saja pernikahan Josh benar-benar gagal dan dia menjadi pengantin kecil Josh sesuai dengan mantranya beberapa saat yang lalu.


.


.


.


Di mansion keluarga Janszen, semua anggota keluarga berkumpul untuk makan malam bersama. Tak ada percakapan yang terjadi di meja makan karena Lynda selalu melarang anak cucunya bersuara saat sedang makan.


Setelah semuanya selesai menyantap makan malam mereka, Lynda menatap cucu laki-lakinya yang duduk tak jauh darinya.


"Semuanya lancar Granny, beberapa hari yang lalu kami bahkan mendapatkan tawaran bisnis dari pengusaha asal Belanda," jawab Jonathan penuh percaya diri. Berbeda dengan Josh yang memilih menjadi pilot, sejak kecil Jonathan memang tertarik dengan bisnis keluarga dan berambisi untuk menjadikan J&J Company sebagai perusahaan raksasa.


"Pengusaha asal Belanda?" tanya Jimmy menimpali, pasalnya sejauh ini perusahaan mereka belum pernah bekerja sama dengan perusahan milik orang Belanda.


"Ya dad, Zantman Group. Aku sudah mencari tau mengenai perusahaan itu. Mereka bergerak di bidang Kontruksi dan Real Eastate. Mereka ingin bekerja sama dalam proyek pembangunan hotel yang sedang aku kembangkan dad," jelas Jonathan panjang lebar, pria berusia 28 tahun itu memang tengah mengembangkan bisnisnya di bidang perhotelan.


"Jagan buru-buru. Pelajari proposal bisnis mereka sebelum kau menyetujuinya," tegas Jimmy, meski Jo merupakan pria yang sangat hebat namun Jimmy tetap harus memberi peringatan kepada putranya untuk lebih berhati-hati dalam urusan bisnis.


"Ya dad."


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu Jov?" kini Lynda beralih pada cucu perempuannya.


"Ya begitulah Grann, aku terlalu sibuk pemotretan," jawabnya seraya menyibak rambut panjangnya.

__ADS_1


"Kau yakin tak ingin kuliahku?" tanya Lynda dengan wajah serius. Semenjak menjadi model di usianya yang baru 18 tahun, Jovanka hanya fokus pada karirnya dan menunda kuliahnya. Hal tersebut tentu saja mendapat penolakan dari anggota keluarga, namun bukan Jovanka namanya jika tak berhasil membuat anggota keluarganya akhirnya setuju dengan keputusannya.


"Sweety, apa kau tak pernah bertemu Jennifer?" sela Katherine yang sontak membuat Jimmy terkejut.


"No," jawab Jovanka singkat. Seketika moodnya memburuk begitu mendengar nama wanita yang seharusnya menjadi kakak iparnya.


"Kathe jangan bahas tentang wanita itu lagi," Lynda menegur menantunya karena dia juga sangat membenci Jennifer.


"Kenapa kalian sangat membencinya? Jennifer sudah menceritakan segalanya, dia tak berselingkuh seperti tuduhan kalian!" ujar Katherine menggebu-gebu, baginya Jennifer adalah sosok menantu idaman.


"Dan kau mempercayai wanita itu? kau memang bodoh Kathe," sahut Lynda tak percaya, ingin sekali Lynda mengatakan kebenarannya, namun mengingat mental Kathetine yang begitu lemah membuat Lynda mengurungkan niatnya.


"Mom, Jennifer adalah gadis yang baik. Buktinya dia menerima Josh meski putraku tak pernah mengatakan jika dia putra tertua dari keluarga Janszen!"


"Cukup mom," Jovanka beranjak dari duduknya, gadis berusia 22 tahun itu lalu menatap Katherine dengan kesal. "Dia tak sebaik yang momy kira. Jovanka berani bertaruh momy akan membencinya seumur hidup jika momy tau kebenarannya," tegas Jovanka, gadis itu melirik Jimmy sesaat lalu meninggalkan ruang makan tanpa permisi.


"Aku sudah selesai makan, aku permisi," mellihat adiknya pergi, Jonathan lalu mengikuti Jovankan, karena jujur saja pria itu sangat penasaran dengan pria yang berani merebut kekasih kembarannya.


Setelah kedua anaknya pergi, kini giliran Jimmy yang beranjak dari duduknya. "Ini kali terakhir kau membahas wanita itu Kathe!"


"Tapi kenapa honey, aku sangat menyukai Jennifer dan berharap dia menjadi menantu kita!"


"Cukup Kathe, aku tidak mau mendengar namanya di sebut di rumah ini lagi, jika kau berani menyebut namanya lagi aku tak segan-segan mengusirmu dari rumah ini!" gertak Jimmy dengan rahang mengeras, setiap kali mendengar nama Jennifer, Jimmy akan kembali merasa bersalah kepada putranya.


"Kau jahat," teriak Katherine dengan mata berkaca-kaca,wanita itu lalu berlari menuju kamarnya.


"Kami semua sedang melindungimu Kathe," batin Lynda seraya menghela nafas.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2