Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Josh sadar


__ADS_3

Setelah melewati operasi hampir sepuluh jam lamanya, Josh akhirnya di pindahkan ke ruang rawat inap. Meski pengaruh biusnya sudah hilang, namun Josh masih belum sadarkan diri membuat keluarganya merasa gelisah.


Katherine dan Jovanka serta Lynda menenami Josh di ruangannya, sementara Jo dan Jimmy menemani Lynda di depan ruang ICU karena sampai saat ini pun kondisi Frey masih belum membaik.


"Nyonya Maggie, tolong maafkan kelalaian saya. Seandainya saya menyingkirkan wanita itu sejak awal, pasti Frey tidak akan terluka," ucap Jimmy di penuhi rasa bersalah, dulu dia bukan tipe orang yang akan meminta maaf pada orang lain, namun saat dia menyaksikan cucunya yang begitu menyedihkan, dia merasa harus mengakui kesalahannya dan meminta maaf.


"Tidak tuan Jimmy, saya rasa wanita itu juga mengincar saya. Sebaiknya kita cepat menemukan wanita itu dan memberinya pelajaran!" jawab Maggie gusar.


"Saya akan mengerahkan semua anak buah saya untuk melacak keberadaan wanita itu!!"


Malam berganti siang, meski tak tega meninggalkan istrinya, Jo harus tetap pergi ke perusahaan karena kini dia memikul tanggung jawab besar di pundaknya. Sebelum dia berangkat bekerja, Jo lebih dulu membelikan sarapan untuk istri dan mertuanya karena Andrew masih melacak keberadaan Jennifer.


"Sayang, aku harus ke kantor. Tolong jaga dirimu dan jaga ibu. Segera hubungi aku jika ada kemajuan dari Frey," pamit Jo seraya menggenggam tangan istrinya, mencoba menyalurkan kekuatan pada wanita yang dia cintai.


"Hati-hati Jo. Maaf aku tidak bisa menyiapkan apapun di hari pertamamu bekerja," Anne menatap suaminya dengan sedih, sebelumnya dia sudah mengagendakan banyak hal, dia akan menyiapkan baju untuk Jo, dia juga akan menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siang.


"Tidak perlu minta maaf. Sekarang kau harus fokus pada Frey dan bayinya!" ucap Jo dengan lembut, dia lalu beralih pada ibu mertuanya yang terlihat sangat lelah. "Ibu, Jo tau ibu sedih. Tapi ibu harus makan dan minum obat agar ibu tetap sehat. Anne dan Frey sangat membutuhkan ibu!"


Maggie menepuk pundak menantunya, dia bersukur Anne memiliki pria yang sangat mencintainya. "Aku akan makan, kau tidak perlu khawatir. Fokus saja pada perusahaan, tanyakan saja apapun pada Andrew!"


"Baik bu, Jo pamit!"


Setelah Jo pergi, Anne menyuapi Maggie sarapan dan membantunya minum obat. Meski tak berselera, namun kedua wanita itu tetap harus makan karena mereka harus menjaga Frey dan bayinya.


Setelah sarapan, Katherine datang sambil membawa beberapa snack untuk menantu dan besannya.


"Nyonya Maggie sepertinya sangat lelah, apa tidak sebaiknya anda pulang dan beristirahat sebentar. Biar saya dan Anne yang menjaga Freesia," ucap Katherine khawatir melihat kondisi Maggie yang terlihat lesu dan pucat.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja!"


"Benar kata momy Katherine bu, kalau ibu tidak mau pulang bagaimana kalau ibu tinggal di hotel yang ada di dekat rumah sakit?" sahut Anne sambil memberikan opsi kepada ibunya.


"Baiklah kalau kalian memaksa, aku akan istirahat di hotel!"


Anne dan Katherine bisa tersenyum lega, setelah menitipkan Frey pada mertuanya, Anne segera membawa Maggie ke hotel terdekat. Anne juga menyuruh beberapa pelayan datang ke hotel untuk menjaga Maggie.


"Anne akan sering kemari, ibu istirahatlah!"


"Segera kabari ibu kalau Frey atau Josh bangun!"


"Baik bu!"


Anne lalu kembali ke rumah sakit, dia duduk bersama ibu mertuanya. Wajah mereka terlihat begitu lelah.


"Momy juga sebaiknya istirahat, momy pasti sangat lelah," ujar Anne seraya menatap ibu mertuanya.


"Baik mom!"


Lagit mulai gelap, hanya ada Jovanka yang menamani Josh karena Katherine menemani Anne menjaga Frey sementara Lynda pulang ke mansion karena kesehatannya terus menurun.


Jovanka sedang sibuk menyebarkan foto Jennifer di media sosial, dia berharap netizen akan menemukan keberadaan Jennifer dan memberitahu kepadanya. Jovanka meletakan ponselnya saat sekilas dia melihat jemari Josh mulai bergerak, gadis itu mendekatkan wajahnya dan mempertajam penglihatannya namun tak ada pergerakan apapun.


"Apa aku salah lihat?" gumamnya seorang diri, dia lalu mengambil ponselnya lagi, dan kali ini dia melihat dengan jelas jika jari kakaknya bergerak.


"Oh my God, dia benar-benar bergerak," Jovanka segera menekan tombol nurse call dan tak butuh waktu lama seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar rawat Josh.

__ADS_1


"Dok, tangannya bergerak," ujar Jovanka dengan wajah terkejut bercampur senang.


"Kami akan memeriksanya!" dokter segera memeriksa kondisi Josh, tak lama setelah itu Josh melai membuka matanya secara perlahan.


"Tuan Josh, anda bisa mendengar suara saya?" ucap dokter dengan suara yang cukup keras. "Anda bisa mengedipkan mata jika anda mendengarkan saya," sesuai arahan dokter, Josh mengedipkan matanya sebagai tanda jika dia mendengarkan ucapan dokter.


"Ikuti jari saya," dokter menggerakan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan dan Josh mengikutinya dengan gerakan mata.


"Bagaimana dok, apa kakak saya baik-baik saja?" tanya Jovanka.


"Tanda vitalnya sudah normal, dia juga sudah merepon dengan baik. Dia sudah baik-baik saja sekarang," jawab dokter.


"Ah syukurlah, terima kasih banyak dok," Jovanka bisa bernafas lega, akhirnya Josh kembali sadar setelah dua puluh empat jam lebih pria itu tak sadarkan diri.


"J-Jov, dimana Frey?" tanya Josh dengan suara yang sangat lemah dan terbata.


Jovanka kelimpungan, dia bingung harus menjawab apa, namun karena kondisi Josh belum stabil, Jovanka memutuskan untuk berbohong. "Ah, Frey ada di ruang sebelah. Kau tau, bayi kalian sudah lahir. Dia sangat cantik, mirip denganku!"


"Ba-bayi?"


Jovanka merutuki dirinya sendiri, kenapa dia harus keceplosan dan membahas bayi mereka. Josh pasti khawatir karena seharusnya bayi mereka lahir dua bulan lagi.


"Hm, Frey harus di operasi karena pendarahan. Tapi mereka baik-baik saja sekarang!"


"Aku ingin melihat mereka!"


"No," tolak Jovanka dengan cepat. "Maksudku, kau harus pulih dulu baru boleh melihat mereka!"

__ADS_1


"Aku mohon!"


BERSAMBUNG...


__ADS_2