
Maggie Zantman duduk termenung di atas kursi rodanya, wanita tua itu menatap lurus langit yang mulai gelap, burung-burung berterbangan kembali ke sarang mereka. Maggie membuang nafasnya dengar kasar, dia merasa lelah dan ingin hidup tenang tanpa memikirkan perusahaan. Namun, siapa yang akan mengurus perusahaan sementara anak dan cucunya enggan meneruskan perusahaannya.
Anne diam-diam mengamati Maggie dari belakang, dia lalu menghampiri sang ibu dan menutupi punggung ibunya dengan selimut. "Apa yang ibu pikirkan?" tanya Anne pelan, wanita itu menarik kursi yang ada di dekatnya dan duduk tak jauh dari Maggie.
Maggie Zantman menoleh dan tersenyum sekilas. "Memikirkanmu Ann, kau sudah tua tapi belum menikah juga!"
Anne tersenyum kikuk, dia sangat sensitif jika di tanya soal pernikahan dan usia, apalagi pria yang dia cintai malah menghilang entah kemana. "Aku pasti menikah bu, ibu tidak perlu khawatir," jawab Anne mencoba untuk bersikap santai.
"Aku bahkan tidak pernah melihatmu bertemu dengan seorang pria," ejek Maggie seraya melirik putrinya, bukan dia tidak mengetahui hubungan Anne dan Jonathan, hanya saja Maggie sedang memancing Anne untuk menceritakannya sendiri.
"Ck, ibu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan aku mulai menua pun ibu tidak sadar kan!" sindiran Anne mencelos hati Maggie, benar apa yang di katakan putrinya, dia terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga tak memiliki waktu untuk memperhatikan keluarganya.
"Menikahlah dan gantikan ibu memimpin perusahaan. Ibu sudah lelah, ibu ingin istirahat Ann!"
"Apa ibu akan merestui jika Anne menikah dengan Jonathan Janzsen?" setelah mengumpulkan keberaniannya, Anne memberanikan diri bertanya pada ibunya. Meski dia belum tau Jo ada di mana, namun dia ingin mendengar apa pendapat Maggie tentang hubungan mereka.
"Ck, kenapa kalian suka sekali dengan keturunan Janzsen," sindir Maggie dengan wajah datar nya.
"Aku mencintainya bu, dia juga sangat mencintaiku. Hanya saja, aku terlalu bodoh dan membuatnya terlalu lama menunggu," aku Anne dengan wajah sendu, tiba-tiba dia sangat merindukan Jonathan Janzsen dan ingin memeluknya.
"Bawa dia kemari, katakan padanya aku menunggunya melamarmu!" ucap Maggie dengan tegas, wanita tua itu menekan tombol otomatis yang ada di kursi rodanya dan meninggalkan Anne yang masih terkejut dengan ucapannya. Melihat wajah terkejut sang putri membuat Maggie tersenyum meski tak ada yang menyadarinya, setelah sekian lama, akhirnya Anne berkata jujur padanya. Sunggung membahagiakan.
"I-ibu serius?" teriak Anne karena saat dia sadar dari keterkejutannya Maggie sudah tidak ada di tempatnya lagi. Meski tak mendapatkan jawaban dari Maggie, namun Anne bersorak gembira. Dia harus segera menemukan Jonathan dan membawanya pulang lalu menikahinya.
Sementara di tempat lain, Frey dan Josh berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Frey. Frey berbaring di atas tempat tidur dan seorang Dokter Spesialis Kandungan sedang memeriksanya, melakukan USG untuk mengecek perkembangan bayi mereka.
"Bayinya sehat, panjangnya sudah mencapai 14 sentimeter dan beratnya 180 gram, jenis kelaminnya juga sudah terlihat meski belum terlalu jelas," ucap sang dokter seraya menatap layar monitor di depannya.
"Jenis kelamin nya apa dok?" tanya Josh antusias.
__ADS_1
"Perempuan," jawab dokter.
"Love, bayi kita perempuan. Dia pasti akan secantik dirimu," Josh tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, pria itu bahkan menangis karena masih belum percaya jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang dady.
"Nyonya bisa dengar ini, ini adalah detak jantung bayi anda. Usia kandungan anda memasuki bulan ke lima, janin sudah bisa bergerak dan janin mulai bisa memberi respons terhadap bunyi dari luar, seperti suara musik."
Pasangan suami istri itu tampak begitu bahagia, sekarang mereka bahkan bisa mendengarkan detak jantung bayi kecil mereka.
"Hmm, dok," ucap Josh ragu.
"Ya tuan?"
"Begini, apa benar berhubungan suami istri bisa membahayakan janin dalam kandungan?" tanya Josh sembil menunduk karena malu.
Dokter itu tersenyum, pertanyaan itu memang kerap di tanyakan oleh pria yang pasangannya sedang mengandung. "Karena kehamilan nyonya Freesia sudah memasuki trimester kedua maka aman-aman saja selama kalian melakukannya dengan hati-hati dan tidak terlalu sering!"
Setelah selesai memeriksakan kandungan istrinya, Josh dan Frey tak langsung pulang. Josh mengajak Frey ke pusat perbelanjaan. Frey yang memang ingin jalan-jalan pun tak menolak, dia mengikuti suaminya yang terlihat sangat bahagia itu.
"Josh untuk apa kita ke sini?" tanya Frey saat mereka sudah ada di depan toko perlengkapan bayi.
Josh menoleh dan tersenyum dengan begitu lebar hingga mamerkan deretan gigi putihnya. "Membeli perlengkapan untuk bayi kita Love," jawabnya dengan wajah berbinar.
Frey menepuk keningnya sendiri, namun setelah nya wanita hamil itu mentertawakan suaminya. "Josh, masih lima bulan lagi sampai bayi kita lahir, untuk apa kita membeli perlengkapannya dari sekarang!" tolak Frey, menurutnya masih terlalu dini untuk mebelikan perlengkapan bayi sekarang.
"Tapi Love, aku ingin membelinya sekarang!" Josh memasang wajah sedih, bibirnya mengerucut dan sepatunya sengaja di gesek-gesekan di lantai, dia sudah mirip bocah lima tahun yang merajuk karena tidak di belikan ice cream.
Sekuat tenaga Frey menahan tawanya saat melihat ekpresi wajah Josh yang sangat menggemaskan. "Oke, oke, tapi beli beberapa saja ya!" Frey akhirnya setuju, dia tidak tega melihat wajah sedih suaminya.
Dengan semangat Josh masuk ke dalam toko itu dan mulai mencari etalase yang menyimpan perlengkapan bayi baru lahir. Mata Josh begitu berbinar melihat sepasang sepatu berwarna merah muda dan ingin cepat-cepat melihat bayi nya lahir dan memakai sepatu imut itu.
__ADS_1
"Apa yang kau beli Josh?" tanya Frey yang sejak tadi hanya mengamati Josh dari belakang.
"Sepatu bayi, kaos kaki bayi dan sarung tangan bayi. Aku juga membeli topi ini Love, dan ini, aku melihat bando ini sangat lucu, jadi aku membelinya," Josh menunjukan satu persatu barang yang akan dia beli, pria itu terlihat sangat berbeda, dia menunjukan sisi lain yang belum pernah Frey lihat sebelumnya.
"Ayo kita bayar, aku sudah lapar," ajak Frey dan Josh mengangguk.
Setelah selesai berbelanja, Frey menggandeng Josh dengan begitu mesra. Kini kebahagiaannya lengkap sudah. Memiliki suami yang sangat mencintainya dan sebentar lagi seorang malaikat kecil akan hadir di tengah-tengah mereka.
"Padahal aku berharap bayi kita kembar Josh," ucap Frey sambil mengusap perutnya yang mulai buncit.
"Aku malah berharap kau tidak hamil kembar!" jawab Josh.
"Kenapa?"
"Pasti sangat melelahkan mengurus dua bayi sekaligus Love. Aku tidak mau sampai kau kelelahan."
"Kan ada momy, kita juga bisa menyewa jasa babysitter."
"Tetap saja aku tidak mau kau kelelahan!"
"Apa kau sangat mencintaiku Josh?" tanya Frey berniat menggoda suaminya.
Josh menghentikan langkahnya, pria itu lalu menatap istrinya dengan lembut dan penuh cinta. "Apa kau tidak merasakan cintaku yang sangat besar ini Frey? Jika aku tidak mencintaimu mana mungkin aku bertahan selama dua tahun hanya untuk menunggumu kembali. Aku tau, kita menikah tanpa dasar rasa cinta, tapi aku berjanji aku akan mencintaimu selamanya," ucap Josh tulus dan tanpa keraguan.
"Terima kasih Josh. Jika waktu bisa di putar lagi, akuu akan tetap menjadi Frey yang dengan bodohnya menikahimu karena menganggap semuanya hanya sebuah mimpi. Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, namun selama aku hidup, aku akan selalu bersamamu, menempel.padamu dan mencintaimu sampai kau merasa muak!"
Josh merengkuh tubuh Frey ke dalam pelukannya, dia tak bisa menggambarkan betapa bahagiaanya dia saat ini. "Terima kasih Love. Aku mencintaimu!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1