
Setelah cukup lama berdiri di depan pintu kamar mertuanya, Frey akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk, beberapa kali Frey mengetuk namun dia tak mendapat jawaban dari Katherine, hal itu membuat Frey semakin khawatir.
"Nyonya, boleh saya masuk," pinta Frey dari balik pintu. Di saat yang bersamaan, Jovanka akan pergi ke kamarnya, Frey menahan langkah adik iparnya.
"Jov, bujuk nyonya Katherine agar mau keluar. Aku takut terjadi sesuatu di dalam?"
Jovanka tersenyum melihat wajah khawatir Frey. "Tenang saja, momy tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Dia hanya perlu waktu untuk sendiri."
"Aku rasa nyonya Kantherine pasti membutuhkan seseorang untuk berbagi. Coba kau ketuk pintunya, siapa tau nyonya Kantherine mau membuka pintu untukmu."
"Percumah Frey, momy tidak akan membuka pintu. Aku lelah, aku mau ke kamar!"
Frey menghela nafas panjang, gadis itu hanya bisa menatap kepergian Jovanka. Frey memutuskan kembali ke kamar Josh, sebelum pergi dia kembali mengucapkan sesuatu. "Nyonya, jika butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungi saya ya!"
Ceklek...
Frey mengurungkan niatnya untuk pergi saat dia mendengar kunci kamar terbuka, tak lama kemudian dia melihat sedikit celah di pintu kamar tersebut. Frey menganggap Katherine mengizinkannya masuk. "Saya masuk nyonya," Frey lalu masuk ke dalam kamar, dia mengamati sekeliling karena Katherine tidak menyalakan lampunya. "Nyonya dimana," tanya Frey mencari keberadaan Katherine.
Karena minim cahaya, samar-samar Frey melihat Katherine duduk di bawah tempat tidur. Wanita itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Dengan pelan, Frey mendekat lalu dia duduk di sebelah Kantherine. Hampir satu jam lamanya mereka duduk dan hanya diam. Frey tak membuka mulut, dia tau Katherine pasti tidak ingin bicara, cukup dengan duduk dan menemani Katherine membuat Frey merasa tenang. Setidaknya dia bisa mencegah jika Katherine berniat melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
"Apa kau juga tau?" tanya Katherine dengan suara parau.
"Hem," Frey hanya menjawabnya dengan gumaman.
"Jadi hanya aku yang tidak tau apa-apa. Kau pasti mentertawakanku saat aku menghinamu dulu."
"Kenapa saya harus mentertawakan anda?" Frey menoleh dan menatap Katherine meski dia tak bisa melihat wajah Katherine secara langsung.
__ADS_1
"Karena aku begitu bodoh."
"Nyonya, tidak sedikitpun saya menganggap anda bodoh. Maaf karena saya tidak mengatakan apapun kepada anda, tapi anda tau sendiri saya hanya orang asing yang tidak berhak mencampuri urusan anda."
"Frey," panggil Katherine, wanita itu mengangkat sedikit kepalanya dan menoleh sehingga mereka saling menatap. "Kenapa kau sangat baik padaku? Kau membantuku keluar dari rumah,dan hari ini di saat anggota keluargaku tidak peduli kau justru di sini menemaniku," Katherine sempat mendengar percakapan Jovanka dan Frey, hatinyaa mencelos saat mendengar ucapan Frey yang peduli padanya
"Karena saya ingin memiliki seorang ibu. Meski dulu anda selalu mencemooh saya, namun saya tau anda tidak membenci saya. Untuk itu saya mencoba mendekati anda, karena saya berharap suatu saat nanti anda akan menerima saya dan berharap anda akan menganggap saya seperti anak anda sendiri."
Katherine kembali diam, lidahnya kelu dan air matanya kembali membanjiri wajah. Dia menyesal karena selama ini selalu menolak Frey masuk ke dalam keluarga Janzsen. Lihatlah sekarang, gadis yang kerap dia hina malah sekarang duduk menemaninya di saat dia sedang benar-benar terpuruk.
"Nyonya, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ucap Frey memecahkan keheningan dan kecanggungan di kamar itu.
"Jalan-jalan?"
"Ya. Anda tidak boleh hanya berdiam diri di dalam rumah. Saatnya anda membebaskan diri. Saya dengar anda memberikan kalung beharga kepada seseorang, apa anda tidak ingin mengambilnya?"
"Tidak papa nyonya. Keluarkan semuanya, maki wanita itu dengan kata-kata yang ingin anda keluarkan. Saya sudah cukup dewasa untuk mendengar makian dan umpatan," Freesia tersenyum seperti orang bodoh, seandainya Katherine tau jika Frey juga sangat senang mengumpat, mungkin sekarang mereka akan mengumpat dan menyumpahi Jennifer bersama-sama.
"Apa aku bisa keluar? Aku takut?"
"Saya akan menemani anda!"
Satu jam kemudian, Katherine dan Frey sudah siap untuk memulai pertempuran mereka. Setelah mendengat saran dari menantu kecilnya, Katherine berdandan dengan semaksimal mungkin. Wanita paruh baya itu mengenakan dres tanpa lengan berwarna merah menyala, riasan wajah yang terlihat garang namun tetap cantik. Katherine juga memoleskan lipstik berwarna merah terang serta memakai kacamata hitam.
"Woah, anda benar-benar keren!" Frey mengacungkan kedua jari jempolnya di depan wajah Katherine.
"Apa aku cantik?" tanya Katherine seraya berpose layaknya seorang model.
__ADS_1
"Sangat cantik."
"Kau juga harus berdandan Frey!"
"Apakah perlu?" tanya Frey ragu.
"Tentu saja. Tunggu di sini sebentar, aku akan memilih gaun yang cocok untukmu. Ukuran tubuh kita hampir sama, jadi kau bisa memakai bajuku!" Katherine lalu mengambil long dress berwarna hitam. "Pakai ini, kau harus terlihat cantik di depan rubah betina itu!"
Tak ingin memadamkan semangat mertuanya, Frey akhirnya memakai long drees tersebut, Katherine juga membantunya berdandan. Lihatlah, gadis kecil itu kini menjelma menjadi wanita dewasa yang sangat anggun.
"Ayo kita pergi. Aku akan mengambil harta keluarga yang paling berharga!"
Frey dan Katherine menuruni tangga dengan langkah yang begitu anggun, keduanya bak seorang model yang sedang melalukan peragaan busana di atas catwalk.
"Kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Jonathan seraya menatap kedua wanita itu secara bergantian.
"Kita akan berperang Jo," sahut Frey penuh semangatt.
"Perang? Dengan gaun dan dandanan ini?"
"Diam kau Jo, doakan momy agar momy menang!"
Katherine dan Frey melewati Jonathan begitu saja, mereka lalu keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil yang sudah Frey siapkan. Sementara itu, Jonathan terkejut melihat Katherine keluar dari rumah dan bahkan kini naik mobil meninggalkan mansion utaman.
"Momy keluar dari rumah!" teriaknya dengan keras.
BERSAMBUNG...
__ADS_1