
"Hem, tak apa. Saya tau anda melakukannya agar wanita itu pergi kan?"
Josh mengangguk, hatinya di selimuti rasa bersalah yang mendalam pada gadis kecil yang kini berdiri di hadapannya. Setelah menyeret gadis itu masuk ke dalam hidupnya, Josh bahkan memaanfaatkannya sebagai alat untuk memanasi Jennifer.
"Nona Freesia, lain kali kau boleh memukulku jika aku menyentuhmu lagi," ujar Josh dengan tatapan penuh penyesalan.
"Baiklah jika itu kemauan anda tuan, tapi bisakah anda memanggil saya Freesia saja, just Freesia?"
"Why, kau tak suka aku memanggilmu nona?" tanya Josh penasaran, banyak hal unik yang ada pada gadis kecil itu.
"Semua orang akan curiga jika anda memanggilku dengan sebutan nona," jelas Freesia.
"Ya kau benar. Lynda juga pasti akan curiga. Oh ya, satu hal lagi, aku mohon kau merahasiakan kontrak pernikahan ini Freesia, terutama dari Lynda. Jika dia bertanya kenapa kau bersedia melanjutkan pernikahan ini kau beri saja alasan yang masuk akal, contohnya..." Josh menggantung kalimatnya, memikirkan alasan apa yang tepat agar Lynda tak curiga kepada mereka.
"Saya mencintai anda dan ingin hidup bersama anda selamanya," sahut Freesia tanpa keraguan sedikitpun.
__ADS_1
Josh menegang saat mendengar ucapan Freesia, pria itu menatap wajah Freesia dengan intens, setelah sekian detik menyusuri setiap inci wajah Freesia, pria itu baru menyadari jika gadis yang menjadi istrinya memiliki wajah yang begitu cantik.
"A-apa itu tidak berlebihan?" tanya Josh gugup, padahal dia tau jika ucapan Freesia pasti hanya kebohongan semata.
"Sepertinya tidak. saya bisa menjelaskannya lebih panjang lagi, bahwa saya mencintai anda sejak pertama kali bertemu di Anne Florist, setelah itu takdir terus mempertemukan kita sampai akhirnya kita berada di situasi seperti ini, saya yakin Lynda akan mempercayai saya," jawab Freesia penuh kejujuran, namun Josh menanggapinya sebagai sebuah lelucon, lihat saja pria itu bahkan sedang tertawa mendengar ucapan Freesia.
"Frey, kau sangat pandai membuat cerita," Josh tersenyum dan membuat pria itu terlihat semakin tampan.
"Tampannya," batin Freesia, matanya bahkan sampai tak berkedip saat menatap Josh yang tengah tersenyum. "Tunggu sebentar, tadi dia memanggilku Frey kan?" tanyanya pada diri sendiri dan tentunya masih di dalam hati.
"Oke Frey, tapi kau juga harus mengganti panggilanmu kepadaku. Mulai sekarang panggil aku Josh dan berhenti bicara formal padaku. Kau setuju kan?"
Freesia mengangguk, gadis itu merasa senang karena merasa jika Josh memperlakukannya dengan lembut. "Baik Josh," ucap Fresia seraya tersenyum, kedua cekungan di wajahnya membuat Josh sempat terpana untuk beberapa saat.
"Baiklah, sudah malam. Kau harus beristirahat."
__ADS_1
Josh menepuk pundak Freesia, pria itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Freesia yang masih terpaku di tempatnya.
"Rugi sekali nenek sihir itu menyakiti pria sebaik Josh," ucap Freesia bermonolong. "Tapi baguslah, dengan begitu aku bisa memiliki Josh sekarang," imbuhnya seraya tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
Di dalam kamarnya, Josh sama sekali tak bisa tidur. Bayangan saat Jennifer meliuk-liuk di atas tubuh Jimmy benar-benar mengganggu Josh. Pria itu sangat terpukul atas pengkhianatan wanita yang sangat di cintainya. Apalagi fakta jika yang menghancurkan rumah tangga kedua orang tuanya adalah Jennifer semakin membuat Josh merasa sesak.
Josh memutuskan untuk bangun, pria itu duduk di bibir ranjang dengan kaki menjuantai ke lantai. Josh melirik sebuah amplop yang berada di atas meja yang berada di sisi ranjang, pria itu meraih amplop tersebut dan membukanya.
"Seharusnya lusa kita akan pergi ke Eropa," ujar Josh seraya menatap dua lembar tiket pesawat yang dia siapkan untuk Jennifer. Sesuai keinginan wanita itu, Josh ingin membawa Jennifer bulan madu di Eropa. Namun kini tiket tersebut sudah tak ada artinya lagi. Josh kembali menyimpan tiket tersebut dengan perasaan nelangsa.
__ADS_1
"Kau pasti bisa menghapus perasaan cintamu ini Josh!"