Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Tunggu aku


__ADS_3

"Josh apa aku boleh minta sesuatu?"


"Tentu, katakan?"


"Aku...."


"Aku apa Love?" Josh menutup laptopnya menyimpannya di atas nakas lalu menatap istrinya penuh tanya. Selama menikah baru kali ini Frey meminta sesutu dan itu membuatnya gugup.


Frey melambaikan tangan, memberi kode pada Josh agar pria itu mendekat. Josh kebingungan lalu mendekatnya wajahnya. "Aku ingin bercinta," bisik Frey menahan malu.


Josh tertawa terbahak-bahak, entah mengapa Josh mengira permintaan Frey hanya sekedar lelucon, gadis kecil itu pasti sedang bercanda.


"Ya sudah kalau tidak mau," Frey melipat kedua tangannya di dada, bibirnya yang tipis mengerucut mebuat gadis itu terlihat menggemaskan, oh ayolah di sedang merajuk.


Josh menghentikan tawanya, pria itu lalu mencubit bibir Frey yang mencebik. "Kalau itu pasti aku berikan tanpa kau memintanya Love," ujar Josh,tanpa menunggu persetujuan Frey pria itu langsung menyergap istrinya, mencium bibirnya dengan lembut dan menyapu semua inci tubuh Frey dengan lidahnya.


Josh sempat merasa heran karena Frey sangat agresif malam ini, gadis itu bahkan membantu Josh melepas pakaiannya. Sungguh sesuatu yang baru dan membuat Josh semakin bergairah.


"Love kau nakal," ucap Josh dengan suara serak saat Frey memainkan ular miliknya menggunakan lidah, puas bermain-main di bawah sana, Frey menaiki tubuh Josh dan melakukan penyatuan.


Josh mengerang, mendesaaah menahan nikmat yang Frey berikan, gadis kecil itu seolah berubah menjadi gadis liar yang haus akan kenikmatan.


Josh tak mau kalah, saat Frey berhasil mencapai klimaknya Josh lalu memutar balik keadaan sehingga kini Frey berlutut dan memunggunginya seperti kelinci kecil yang siap di mangsa. Tak ingin menunggu lebih lama, Josh menusuk inti Frey dari belakang, pria itu tak bisa menahan erangannya karena gaya memunggungi adalah salah satu gaya favoritnya.


Hingga larut malam, suara erangan dan desaaahan menggema di kamar tersebut. Entah sudah berapa kali pasangan itu melakukannya, mereka selalu menikmati dan tidak pernah bosan melalui malam panas mereka.


Frey tersenyum menatap wajah suaminya yang terlelap, jemari lentiknya membelai wajah tampan sang suami. lalu dengan sangat hati-hati Frey mengecup bibi Josh. "Tunggu aku," bisiknya dengan mata berkaca-kaca. Frey lalu turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setengah jam kemudian Frey keluar dari kamar mandi, Frey mengintip Josh sejenak dan pria itu masih terlelap seiring terdengar dengkuran halus dari mulutnya. Frey lalu keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Katherine. Cukup konyol memang, dini hari Frey mengetuk pintu kamar mertuanya.


Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya pintu kamar terbuka. Katherine sedikit merapikan rambutnya saat melihat Frey berdiri di depan kamarnya.


"Ada apa Frey?" tanya Katherine dengan suara serak, suara khas orang yang baru bangun tidur.


"Frey butuh bantuan momy!"


.

__ADS_1


.


.


Tepat pukul tujuh pagi, suasana rumah Josh menegang karena kedatangan Maggie, Anne, dan Andrew serta beberapa pengawal bertubuh besar dan menyeramkan. Beberapa tamu tak di undang itu duduk di ruang tamu dengan nyaman. Anne duduk di samping Maggie, keduanya berhadapan langsung dengan Katherine dan Josh yang juga duduk berdampingan.


"Ada perlu apa anda kemari?" tanya Josh dengan tatapan sinis.


"Saya datang untuk menjemput cucu saya," jawab Maggie dengan sombongnya.


"Cucu? Cucu siapa yang anda maksud?" Katherine bertabya dengan kening mengkerut.


"Tentu saja Freesia Lovina Zantman!"


"Apa?" pekik Katherine. Wanita itu begitu terkejut, hingga tau tak harus berkata apa lagi.


Di tengah keterkejutan Katherine, tiba-tiba Frey turun dari tangga dengan membawa koper dan tas di punggungnya. Gadis itu menghampiri Josh dan Katherine yang sedang menatapnya gusar.


Josh berdiri dan menghampiri Freesia, melihat koper di tangan Frey membuat seluruh tubuh Josh bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. "Apa maksud semua ini Love? Kenapa kau membawa koper?" tanyanya panik, sungguh dia tidak ingin Frey meninggalkannya.


"Sepertinya kau sudah tau jawabannya Josh," jawab Frey penuh tanda tanya. "Bukankah kau sudah tau siapa aku yang sebenarnya?"


"Josh, aku sudah berusaha bertahan sejauh ini. Tapi sangat sulit bagiku tinggal di antara kalian. Aku tidak sanggup hidup di tengah keluarga yang sudah menyebabkan kedua orang tuaku meninggal," ujar Frey dengan tatapan penuh kemarahan.


"Apa maksudmu Frey?" Katherine beranjak dari duduknya dan menghampiri menantunya.


"Sepuluh tahun lalu, kedua orang tuaku meninggal karena J&J Company membeli pesawat rongsok dan menerbangkannya. Apakah sekarang anda mengerti maksud saya nyonya Kathe?"


Deg...


Tubuh Katherine seolah kehilangan tenaganya, wanita itu tak mampu berdiri, dia limbung dan untung saja Josh sigap menangkap tubuhnya dan mendudukannya di atas sofa. Ingatan akan kecelakaan pesawat itu membuat tubuh Katherine menggigil, terombang ambing di lautan lepas selama berjam-jam membuat wanita itu menyimpan trauma yang sangat besar. Dan bukan hanya itu yang membuatnya terkejut, sudah sangat lama tidak ada yang memanggilnya Kathe, lalu kenapa Frey memanggilnya dengan sebutan itu.


"Frey semua ini bukan kesalahan kami. Tim penyidik memastikan jika pilot melakukan aksi bunuh diri Love. Aku mohon percayalah padaku. Jangan pergi Love, jangan tinggalkan aku," jelas Josh seraya memohon pada Frey agar gadis itu tidak meninggalkannya. Bagaimana Josh akan melanjutkan hidupnya jika dia kembali kehilangan orang yang sangat dia cintai.


"Aku lelah Josh. Aku muak. Setiap melihat kalian tertawa aku marah. Gara-gara kalian aku kehilangan orang tua dan kehilangan ingatan masa kecilku. Tapi kini ingatanku sudah kembali, aku mengingat semuanya dan aku sangat tersiksa hidup bersamamu!"


"Love jangan seperti ini. Ya, aku mohon, tetap bersamaku. Aku minta maaf atas kecelakaan yang menimpa orang tuamu, tapi sungguh bukan kami sengaja untuk melakukannya Love. Percayalah padaku Love," Josh meraih tangan Frey namun Frey menepisnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kau bilang akan mengabulkan permintaanku kan?" tanya Frey dan Josh terpaksa mengangguk karena dia pernah menjanjikan hal tersebut kepada istrinya. "Lepaskan aku, aku sangat tersiksa hidup bersamamu dan keluargamu!" ucap Frey tanpa keraguan sedikitpun di matanya.


Kaki Josh mundur beberapa langkah ke belakang, rasanya Frey baru saja membangun tembok besar di antara mereka. Tatapan mata Frey membuat Josh sedih, tatapan yang biasanya penuh cinta kini berubah, hanya tersisa kemarahan di sana.


"Apa kau tidak mencintaiku lagi?" tanya Josh dengan bibir bergetar dan sorot penuh harap.


"Apa gunanya cinta jika aku tersiksa saat bersamamu Josh!" dengan lantang Frey mengucapkan kalimat yang sangat menyakiti hati Josh, namun Frey harus melakukannya, dia harus menyakiti Josh agar Maggie mempercayainya.


Frey melangkahkan kakinya menghampiri Katherine. Gadis itu membungkuk lalu menyentuh gelang di tangan Katherine. "Bukankah anda harus mengembalikan gelang ini nyonya?"


Katherine menatap Frey dengan mata memerah dan dan linangan air mata. Dia masih belum paham dengan ucapan Frey.


"Kalung ini milik saya nyonya. Anda harus mengembalikannya!" jelas Frey yang berusaha mengembalikan ingagan Katherine tentang pemilik kalung berliontin daun semanggi.


"Love," gumam Katherine samar-samar.


"Ya ini aku, nyonya Kathe!"


Air mata Katherine semakin berlinang, wanita itu menangis tersedu-sedu dan bahkan kini Katherine terkulai di lantai dengan memegang kaki Freesia. "Syukurlah kau masih hidup," ujarnya dengan nafas tersenggal-senggal.


"Bangun nyonya, jangan begini. Saya hanya ingin kalung saya kembali!"


Katherine menatap kalung yang dia jadikan gelang, perlahan wanita itu melepas pengait kalung tersebut. Dengan tangan bergetar Katherine menyerahkan kalung tersebut kepada pemiliknya.


Frey menerima kalung itu dan menyimpannya. Dia lalu melirik Maggie dan Anne. "Ayo kita pergi," ajaknya.


Maggie dan Anne berdiri, sementara Andrew mengambil alih koper serta tas Frey.


"Love jangan tinggalkan aku," tahan Josh sekali lagi, Josh memohon sekali lagi agar Frey tidak pergi. Dia akan menjadi pria egois asal Frey tetap bersmaanya.


Frey memutar tubuhnya dan kembali berhadapan dengan suaminya. "Sesuai perjanjian kita, setelah enam bulan kita akan berpisah. Kita tidak perlu bertemu di pengadilan karena kita tidak mendaftarkan pernikahan kita!"


Josh menatap Frey penuh tanya, apa maksudnya dengan enam bulan, bukankah dalam surat perjanjian tertulis jelas jika mereka akan menikah selama lima tahun. Dan tentang pendaftaran pernikahan bukankah Josh sudah pernah membahasnya.


"Terima kasih atas kebaikan anda selama ini tuan Josh!"


Setelah mengucapkan kalimat perpisahan yang menyakitkan, Frey memantapkan langkahnya untuk keluar dari rumah yang selama beberapa bulan itu memberinya kenyamanan. Setiap langkah kaki Frey menyimpan tekad yang kuat, dia harus bertahan demi orang yang sangat dia cintai.

__ADS_1


"Maaf Josh, tunggu aku!"


BERSAMBUNG....


__ADS_2