
Sebelum ke bandara, Josh menyempatkan diri mampir di sebuah caffe, pria itu duduk di sisi ruangan yang berdekatan dengan jendela sehingga dia bisa melihat orang berlalu-lalang di luar caffe tersebut. Dengan di temani segelas ice Americano, Josh membuka laptopnya, sekedar mempelajari rute perjalanan yang akan dia tempuh siang nanti. Namun pria itu tidak bisa fokus dan kembali teringat luka di paha Freesia.
Tunggu sebentar, sebenarnya lukanya atau paha mulusnya yang Josh ingat?
"Kenapa gadis itu membuatku khawatir," gumam Josh, dia lalu menyesap ice Americanonya. Josh menoleh saat dia merasakan sebuah tangan menyentuh bahunya, pria itu hampir saja tersedak saat melihat siapa pemilik tangan itu.
"Jenn," pekiknya tertahan, tak bisa di bohongi jika Josh masih menyimpan rindu untuk mantan kekasihnya itu.
"Boleh aku duduk?" tanya Jennifer dengan suara perau.
"Aku ada penerbangan, aku harus pergi."
"Hanya sebentar Josh, lima menit. Aku hanya minta lima menit," pintanya dengan wajah sendu.
Josh menghela nafasnya kasar saat Jennifer tiba-tiba duduk di hadapannya, Josh menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas, pria itu lalu menatap ke arah Jennifer, ada kerinduan yang tersirat jelas di mata Josh, namun rasa kecewanya mampu meredamkan rasa rindu itu.
"Bagaimana kabarmu dear?" tanya Jennifer begitu lembut.
"Baik."
"Aku sangat merindukanmu Josh. Aku benar-benar menyesal telah mengkhianatimu!"
"Aku juga menyesal karena terlalu percaya padamu Jenn," hardik Josh dengan tatapan nanar, setiap kali melihat Jennifer, dia akan teringat akan kejadian sebelum pernikahan.
"Apa kau mencintai gadis itu?"
Josh yang hendak pergi mengurungkan niatnya, pria itu kembali duduk, kini seutas senyum menghiasi wajahnya. "Cinta? Entahlah, hanya saja dia selalu membuatku nyaman!"
Jennifer mengepalkan kedua tangannya, rahang wanita itu mengesar bersama dengan Josh yang meninggalkannya begitu saja. "Aku akan membuatmu menderita ********* kecil!"
.
.
Hari berganti hari, tak terasa sudah sampai di penghujung tahun, namun hujan masih setia menemani hari terakhir di bulan Desember ini. Freesia duduk di balkon kamarnya seorang diri karena Josh belum pulang dan mbok Endang izin untuk merayakan malam tahun baru bersama keluarganya.
Malam belum terlalu larut, Freesia meraih ponselnya yang berdering. "Ya Ci," ucapnya setelah panggilan tersambung.
"Cabut yuk," ajak Cia di ujung sana.
__ADS_1
"Kemana?"
"Bar."
"Ini malam tahun baru, pasti banyak razia di bar!" tolak Freesia, bukan dia tak ingin pergi hanya saja Frey berharap Josh akan pulang dan merayakan tahun baru bersamanya.
"Bawa aja KTP, jangan bawa Kartu Pelajar. Lagi pula kita udah 18 tahun," Cia tetap memaksa mengajak Frey keluar.
"Sama siapa aja?"
"Gue, endut sama loe kalau loe mau!"
"Oke, tapi jemput gue ya!"
"Asiap!"
Frey lalu bersiap-siap, malam ini dia akan sedikit berdandan agar tak terlihat seperti anak sekolahan. Frey memakai celana jeans berwarna hitam serta atas crop top berwarna nude yang sangat cocok untuknya, gadis itu juga mengikat rambutnya hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Jangan lupakan make up tipis serta lipstik yang sedikit lebih berani, membuat gadis remaja itu terlihat seperi wanita dewasa.
Frey menunggu Cia di teras rumah, gadis itu berdiri saat melihat mobil Cia masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Tak lama Cia dan kayli turun dari mobil dan menghampiri Freesia.
"Gila, rumah loe gede banget!" ucap Cia seraya menatap rumah yang di tempati Freesia.
"Bukan rumah gue kali."
"Terserah loe deh!"
"Loe cantik banget Frey," puji Kayli tanpa berkedip, sejak dulu Kayli memang sangat mengagumi kecantikan sahabatnya itu.
"Loe baru sadar kalau gue cantik Kay, kemana aja loe selama ini," Freesia tersenyum sambil menyibak rambut ekor kudanya.
"Udah ayo cabut!"
Ketiga gadis itu lalu naik ke dalam mobil, Cia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati menuju sebuah bar yang berada di pusat kota. Setibanya di sana, mereka di sambut alunan musik jedag jedug yang memekakan telinga. Ketiga gadis itu lalu duduk di table bar dan memesan minuman non alkohol.
"Seru juga ya," ucap Kayli polos, gadis bertubuh gempal itu menganggukan kepalanya mengikuti irama.
"Kuping gue budeg Ci," ucap Freesia tepat di depan telinga Cia.
"Bentar lagi juga kuping loe terbiasa," sahut Cia sambil menggerakan tubuhnya. "Joget yuk," ajaknya seraya menarik tangan kedua sahabatnya ke tengah lantai dansa. Ketiganya membaur dengan pengunjung lain yang sedang asik berjoget ria.
__ADS_1
Saat sedang menari, tak sengaja Frey melihat sosok yang mirip dengan suaminya, namun sosok itu menghilang di sekitar ruangan khusus tamu VIP.
"Kenapa Frey?" tanya Cia saat melihat Freesia celingukan.
"Gue kaya lihat Josh," jawabnya masih mencari keberadaan pria yang mirip Josh.
"Bukannya dia lagi kerja?"
"Iya sih, gue salah lihat kali!"
Ketiganya lalu asik menari di irigi alunan musik disco dan sorot lampu kerlap kerlip. Beberapa menit kemudian, Frey menyeret kedua temannya untuk beristirahat. "Gila, gue capek," keluh Freesia sambil meminum air mineral yang di pesannya.
"Gue juga," sahut Kayli dengan nafas tersenggal-senggal.
"Itung-itung olahraga Ndut," Ci terkekeh, sambil mengipasi Kayli dengan tangannya.
"Eh, gue ke kamar mandi dulu ya," Freesia bangun dan berlari menuju kamar mandi. Cukup lama Frey duduk termenung di kamar mandi, meski di bar tersebut sangat ramai namun hatinya terasa sepi, dia merindukan Josh sampai-sampi berhalusinasi melihat Josh di bar itu.
"Campur obat ini ke dalam minuman pria bule yang ada di ruang VIP. Ini upah loe!" ucap seorang wanita dengan suara berbisik.
Frey yang hendak keluar mengurungkan niatnya setelah tak sengaja mendengar percakapan seseorang, gadis kecil itu mempertajam pendengarannya, rasanya suara itu sangat tidak asing baginya.
"Siap bos," jawab wanita lain, lalu terdengar suara pintu tertutup.
"Kau akan menjadi milikku malam ini Josh!"
"Josh," lirih Freesia, tiba-tiba dia kembali teringat pria yang mirip Josh masuk ke dalam ruang VIP. "Jennifer," Freesia membekap mulutnya sendiri saat mengingat suara itu adalah milik Jennifer. Setelah Frey rasa Jennifer sudah pergi, gadis itu segera keluar untuk mencari keberadaan Josh. Meski tak yakin obat apa yang Jennifer maksud, namun Frey yakin jika suaminya sedang dalam bahaya.
.
.
.
Sementara itu di sebuah ruang khusus, Josh bersama teman-temannya sedang mengadakan pesta lajang untuk salah satu rekannya yang akan menikah beberapa hari lagi. Jennifer yang mengetahui jika Josh berada di bar tak ingin melewatkan kesempatan untuk merebut Josh kembali.
Josh dan teman-temannya menikamti waktu luang mereka dengan di temani minuman beralkohol dan beberapa makanan ringan. Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Josh menenggak habis satu persatu gelas berisi wine. Satu jam kemudian, Josh dan teman-temannya mulai mabuk, namun ada yang berbeda dengan Josh, pria itu bukan hanya mabuk, namun sesuatu yang sangat panas menggelitik kejantanannya.
Dengan sedikit kesadaran yang dia miliki, Josh keluar dari ruangan itu, di depan ruangan seorang wanita sudah menunggunya, dengan sigap wanita itu memeluk Josh dan membawa Josh pergi dari bar itu.
__ADS_1
"Kau milikku malam ini!"
BERSAMBUNG...