Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
2 jam sebelum pernikahan


__ADS_3

Hari yang sangat di tunggu Josh akhirnya tiba, pria itu baru saja pulang dari penerbangan terakhirnya sebelum melakukan cuti panjang yang akan dia gunakan untuk berbulan madu. Josh sengaja pulang ke hotel yang akan menjadi tempatnya menikah, pria itu akan beristirahat di hotel karena pernikahannya masih lima jam lagi.


Josh sudah berada di presidential suit room, pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar. Josh lalu meraih ponsel di saku celananya dan berniat mengirim pesan pada calon istrinya.


'Dear, aku sudah mendarat. Sampai jumpa di altar. Aku mencintaimu."


Beberapa saat Josh menunggu balasan dari kekasihnya, namun dia tak kunjung mendapat pesan tersebut, karena lelah Josh memutuskan tidur,


mungkin saja kekasihnya sudah membalas pesannya saat dia bangun nanti.


Tiga jam kemudian Josh terbangun, hal pertama yang dia lakukan adalah memeriksa ponselnya. Sudut bibir Josh terangkat saat melihat pesan dari Jennifer.


'Sampai bertemu di altar sayang, aku juga mencintaimu.'


"Dia sangat manis," gumam Josh pelan, pria itu lalu beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas untuk membersihkan diri. Josh harus segera bersiap karena dua jam lagi dia akan resmi menjadi seorang suami.


Josh keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang membungkus tubuh kekarnya, tak berselang lama pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dan Josh segera membukanya.


"Permisi tuan, saya mengantar jas pesanan anda," ucap seorang pegawai yang di kirim Elle, sebelumnya Josh mengirim pesan kepada Elle untuk mengantarkan jas pesanannya ke hotel NX, Josh juga meminta Elle untuk merahasiakan jika dia berada di hotel NX, karena yang Jennifer tau Josh baru akan ke hotel satu jam sebelum pernikahan mereka.


"Terima kasih."


Josh membawa setelan jasnya masuk dan segera mencobanya, Pria itu berdiri di depan cermin dan terlihat begitu gagah dalam balutan jas berwarna hitam, sebuah dasi kupu-kupu berwarna senada terpasang indah di kerah kemeja putihnya. Jangan lupakan bunga kecil yang tersemat di saku jasnya yang menambah kadar ketampanannya.


"Masih satu jam setengah lagi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Josh pada dirinya sendiri.


Josh memilih keluar dari kamarnya, diam-diam dia ingin menemui calon istrinya yang mungkin sudah berada di kamar yang mereka pesan sebelumnya, kamar yang di persiapkan untuk malam pertama mereka dan di kamar itulah Jennifer akan bersiap sebelum acara pernikahan mereka.


"Dady," pekik Josh saat melihat sosok yang tak asing baginya masuk ke dalam kamar Jennifer, tak lama kemudian Josh melihat Elle keluar dari kamar tersebut. Elle yang melihat kedatangan Josh terdiam di depan pintu, tangannya masih menahan pintu tersebut agar tak menutup sempurna.


"Josh," gumam Elle dengan wajah panik.


"Kenapa kau keluar El?" tanya Josh dengan sorot mata tajam, tanpa Elle sadari tangan Josh ikut menahan pintu kamar Jennifer agar tidak tertutup.

__ADS_1


"A-aku ingin ke toilet," bohong Elle, wanita itu lalu berlari meninggalkan Josh.


Sementara itu Josh hanya mengerutkan dahinya melihat sikap aneh dari desaigner yang merancang baju pernikahannya bersama Jennifer.


"Apa di dalam tidak ada toilet? Ah lupakan, lebih baik aku masuk, mungkin saja mamy dan dady berada di dalam," ucap Josh dengan cuek, sungguh dia tak memiliki pikiran buruk tentang kedatangan dady-nya ke kamar Jennifer.


"Sayang kenapa kau datang kemari, aku akan segera menikah, bagaimana kalau ada yang melihatmu?" Josh urung membuka pintu tersebut saat mendengar suara Jennifer yang begitu manja.


"Aku tidak rela kau menikah dengan orang lain Jenn."


Josh semakin menegang setelah mendengar suara yang mirip dengan milik dady-nya, namun entah apa yang ada di dalam pikiran Josh sehingga pria itu tak langsung masuk dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku hanya menikah Jimmy, kita masih bisa bertemu dan bercinta seperti sebelumnya."


"Benarkah, kalau begitu aku ingin bercinta sekarang!"


"Jangan gila, aku bisa telat nanti."


"Baiklah kalau begitu, aku juga merindukanmu!"


Bagai tersambar petir di siang hari yang cerah, Josh membeku di tempatnya dengan garis rahang yang mengeras, tangan kekarnya bergetar begitu hebat saat mendengar suara decapan dari dalam kamar tersebut. Dengan sangat hati-hati, Josh memutuskan menyelinap masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya Josh, jantungnya bagai di tikam sebilah belati tajam saat mendapati calon istrinya tengah bercumbu dengan pria lain di atas tempat tidur yang seharusnya menjadi miliknya.


Josh tak mampu berkata-kata, pria itu hanya diam dan menonton pertunjukan panas secara langsung di depan matanya. Hatinya hancur saat melihat calon istrinya begitu bi*nal meliuk-liuk di atas tubuh pria lain. ******* yang keluar dari bibir Jennifer membuat pria itu semakin nelangsa.


"Permainan yang sangat panas," ucap Josh setelah pria itu tak mampu lagi menahan segalanya. Amarah dan kecewa seolah meluap menjadi satu, di depan matanya sendiri dia melihat pengkhianatan sang kekasih tepat di hari pernikahannya.


Kedua orang yang tengah asyik bercumbu terpaksa mengakhiri permainan panas mereka, keduanya menoleh bersamaan dan terkejut mendapati seorang Joshua tengah menatap nanar ke arah mereka.


"Josh/Joshua," ucap Jennifer dan Jimmy secara bersamaan. Jennifer segera menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan berkeringat.


"Dear, aku bisa jelaskan," ujar Jennifer dengan panik, wanita itu hendak mendekati Josh setelah tubuhnya terbungkus selimut.


"Berhenti!" seru Josh penuh penekanan, dia begitu jijik melihat wanita yang sangat di cintainya sekarang.

__ADS_1


Jimmy yang sudah berpakaian lengkap segera menghampiri Joshua dan berusaha menenangkannya. "Josh kenapa kau di sini, bukankah sebentar lagi kau akan menikah?" tanya Jimmy yang masih belum tau jika Jennifer adalah calon istri Josh.


Jennifer menoleh ke arah Jimmy, kening wanita itu mengerut mendengar ucapan Jimmy seolah mengenal calon suaminya.


"Bagaimana aku bisa menikah sementara calon istriku sedang bercinta bersamamu dad," jawab Joshua dengan bibir bergetar, andai saja itu bukan dady-nya mungkin Josh akan menghajar pria yang sudah meniduri calon istrinya.


"Calon istri?


"Dady?"


Lagi dan lagi Jimmy dan Jennifer terkejut dalam waktu yang bersamaan. Keduanya saling bersitatap dengan ekspresi wajah menegang.


"Ji-Jimmy adalah dady mu?" pekik Jennifer tertahan.


"Ya dia adalahJimmy Janszen!" tegas Joshua.


" Jadi Jennifer calon istrimu?" Jimmy bersusah payah menelan ludahnya sendiri, kilat amarah di mata Josh membuatnya gugup.


"Ya. Dunia ini sungguh sempit bukan?"kata Josh dengan senyum penuh kesakitan. "Dan kau Jenn, selama ini apa kurangku padamu. Tega-teganya kalian berkhianat di belakangku!" Josh menatap nanar calon istrinya, dunianya seolah runtuh melihat pengkhianatan Jennifer tepat di depan matanya.


"Josh aku bisa jelaskan. Semua ini tak seperti yang kau lihat," kilah Jennifer.


"Lalu seperti apa kebenarannya Jenn? Kau bahkan mendesah dan menikmati tubuh dady-ku. Kau ingat kau pernah bertanya apakah dady ku akan menyukaimu? Jawabannya dia sangat menyukaimu Jenn, karena dia lebih memilih menidurimu dari pada pulang ke rumah keluarganya!"


"Sial, kenapa aku harus tertangkap basah, bagaimana aku harus menjelaskan kepada Josh. Dan lebih sialnya lagi ternyata dia anak orang kaya, seandainya aku tau dia anak pengusaha sukses, aku pasti tidak akan membiarkan Jimmy menikmati tubuhku," batin Jennifer kesal.


"Jimmy yang memaksaku Josh, aku sungguh tidak tau jika dia dady-mu?"


Jimmy kembali menoleh ke arah Jennifer dan menatap wanita itu dengan kesal, bagaimana mungkin Jennifer melimpahkan semua kesalahan hanya kepadanya.


"Jennifer Scott, jangan lupa kau bahkan rela bertelanjang di hadapanku demi menggodaku, dan kau ingin melemparkan semua kesalahanmu kepadaku. Meski aku brengsek tapi aku tidak sudi jika Josh sampai menikahimu!" geram Jimmy tak terima.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2