Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Happy new years


__ADS_3

"Tapi apa yang harus aku lakukan?" Freesia bertanya dengan bibir bergetar, antara takut dan dingin bercampur menjadi satu.


"Bercinta denganku."


"Ber-cinta? Ma-maksudmu making love?" Freesia tergagap seketika, meski baru berusia 18 tahun, namun gadis kecil itu sudah tau apa yang Josh inginkan, toh sejak duduk di kelas 6 SD, dia sudah belajar tentang sistem perkembang biakan manusia, jadi apa itu making love bukanlah hal tabu bagi gadis remaja itu. Hanya saja, untuk mempraktekannya sendiri, Freesia belum terlalu yakin.


Josh tak menjawab, pria itu kembali mencium bibir Freesia dan tangan kekarnya mulai menelusuri setiap lekuk tubuh gadis kecilnya. Freesia yang masih terkejut hanya bisa diam, namun hormon kedewasaannya menekan otak dan memerintahkan tubuhnya untuk merespon, tanpa gadis itu sadari dia mulai memejamkan matanya dan membalas ciuman Josh yang menggebu-gebu. Di bawah guyuran air, Josh mulai men**cumbu gadisnya, perlahan ciuamannya berpindah ke garis rahang lalu turun ke leher, memberi gigitan kecil hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


Dan entah sejak kapan, keduanya kini sama-sama polos. Melihat tak ada perlawanan dari istri kecilnya, Josh lalu menggendong tubuh Freesia keluar dari kamar mandi, pria itu lalu membaringkan tubuh gadis kecil itu di atas ranjang, Josh semakin bergairah saat tubuh polos Frey terpampang nyata di hadapannya. Tak ingin menunggu lama, Josh lalu naik ke atas tempat tidur dan kembali mencium bibir Freesia.


Freesia menegang saat merasakan sesuatu sedang menekan intinya, seketika kesadarannya kembali, Freesia tak bisa melakukannya, dia masih kecil dan masih sekolah, Frey juga takut Josh tidak akan bertanggung jawab mengingat pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak.


"Aaa," Freesia berteriak, gadis itu lalu menendang tubuh Josh dengan sekuat tenaga hingga tubuh Josh terpental dan jatuh ke lantai, bahkan Frey dapat mendengat benturan yang cukup keras antara kepala dan lantai. "Ma-maf Josh," pekik Freesia seraya menutup tubuh polosnya dengan selimut.


Sementara Josh tengah meringis kesakitan, pria itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Josh membelalakan matanya saat mendapati tubuhnya polos, apalagi belalai panjang yang tegak berdiri membuat Josh segera berlari ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Josh segera merendam tubuhnya dengan air dingin, sesekali pria itu memukul kepala sendiri untuk mengusir hasrat yang hampir saja tersalurkan. "Bodoh, kau benar-benar bodoh!" makinya pada diri sendiri, karena si belalai tak juga tidur, akhirnya Josh memutuskan untuk bermain solo.


Satu jam kemudian, Josh sudah kembali normal, pria itu memakai bathrobe dan hendak keluar dari kamar mandi namun ragu karena tak tau harus bersikap bagaimana saat menghadapi Freesia nanti. Saat Josh akan keluar, tak sengaja dia melihat pakaian Frey yang berserakan di lantai kamar mandi. "Astaga, dia pasti kedinginan!" Josh lalu meraih bathrobe yang tergantung dan membawanya keluar.


Josh menghampiri tempat tidur dan mendapati Frey tertidur pulas. Josh duduk di tepi ranjang seraya mengamati wajah Frey, rasa bersalah seketika menelusup hatinya saat melihat bibir Frey bengkak karena ulahnya. "Maafin aku Frey," ucapnya penuh sesal, Josh lalu merapikan sedikit rambut Freesia yang menutupi wajah cantiknya. Josh segera menarik tangannya saat Frey bergerak dan mulai membuka matanya. "Kau sudah bangun?"


Frey kembali terkejut, gadis kecil itu lalu duduk dan menarik selimut hingga lehernya. "Josh," lirihnya sambil menunduk, tak bisa di pungkiri dia masih sedikit takut kalau Josh akan kembali menyerangnya.


"Maaf Frey," ucap Josh, pria itu menunduk penuh sesal. "Aku tidak menyakitimu kan?" tanyanya ragu, karena seingatnya mereka hampir melakukan penyatuan.


"Tidak," jawab Freesia setelah sekian lama diam.

__ADS_1


"Frey, aku benar-benar minta maaf, sungguh aku tidak berniat menyentuhmu. Hanya saja aku seperti kehilangan akal sehat, mungkin karena aku terlalu banyak minum. Sekali lagi maafin aku Frey!"


"Josh, ini bukan salahmu. Semua ini karena Jennifer memberimu obat saat di bar," ungkap Freesia, melihat wajah sendu Josh membuat ketakutannya hilang seketika.


"Jennifer," Josh akhirnya ingat saat Jennifer membuka baju dan menciumnya, namun Josh tak ingat lagi bagaimana Freesia bisa berada di kamar hotel tersebut. "Dimana dia sekarang?"tanyanya dengan kesal.


"Dia sudah pergi, aku datang sebelum kalian melakukannya. Kau tidak marah kan karena aku menggagalkan malam kalian?"


Josh menatap lembut Freesia. "Aku justru berterima kasih padamu Frey, kau menyelamatkanku dari Jennifer. Tapi dari mana kau tau Jenn memberiku obat?"


"Aku ada di bar dan tak sengaja mendengar Jennifer menyuruh pelayan mencampur obat ke minumanmu. Aku lalu mencari kalian dan berakhir di hotel ini."


"Terima kasih Frey," Josh tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf dan terima kasih, dia tak tau apa yang akan terjadi jika Frey tidak datang tepat waktu, mungkin Josh akan kembali masuk ke dalam jebakan Jennifer.


"Josh," panggil Frey, gadis kecil itu mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap wajah Josh.


"Aku memakai kartu mu untuk memesan kamar hotel, kau tidak marah kan?" tanya Freesia ragu.


Josh terkekeh, pria itu membelai lembut wajah Freesia. "Tentu saja tidak, kartu itu kan milikmu, kau bebas memakainya. Ah ya, bajumu basah, kau pakai ini dulu. Aku akan membelikan baju untukmu." Josh memberikan bathrobe yang dia bawa kepada Freesia.


"Bisa kau berbalik dan tutup matamu?"


"Ah, maaf!" Josh lalu berdiri, pria itu memutar tubuhnya dan menutup mata, namun bayangan tubuh polos milik Freesia membuat Josh menelan ludahnya berkali-kali.


"Sudah," ucap Freesia pelan, Josh lalu berputar dan mendapati Freesia yang kini berdiri di hadapannya. Keduanya hanya diam, saling menatap dan merasakan getaran aneh di dalam diri masing-masing. Josh melangkah lebih dekat, pria itu menyibak rambut Frey dengan pelan, netranya melebar saat melihat tanda merah keunguan di leher Freesia.


"Aku benar-benar badjingan!" ujarnya seraya mengusap lembut tanda kemerahan itu.

__ADS_1


"Jangan bicara begitu Josh, aku tau kau sedang dalam pengaruh obat," Freesia mencoba bijak, gadis itu meraih tangan Josh yang berada di lehernya dan menggenggamnya dengan erat. "Jangan salahkan dirimu lagi!"


"Aku malu Frey, aku tidak tau harus bagaimana untuk menghadapimu!"


"Bersikaplah biasa saja, anggap saja hal ini tidak pernah terjadi."


"Terima kasih banyak Frey," Josh menarik tubuh Freesia dan memeluknya, sungguh dia merasa beruntung karena Freesia berada di sisinya. Josh lalu mengurai pelukannya, tangan kekarnya kembali membelai lembut wajah Freesia, entah dorongan dari mana tiba-tiba pria itu mengecup lembut bibir Freesia, bibir yang entah sejak kapan menjadi candunya.


Frey menangkup bibirnya, wajahnya kembali merona saat Josh mengecupnya dengan lembut. "Jangan bersikap selembut ini Josh, aku takut perasaanku semakin dalam," lirih Freesia dengan mata berkaca-kaca, Frey hanya takut Josh tidak akan pernah membuka hati untuknya sementara dia sudah terlalu jauh dalam mencintai.


"Frey, apa kau benar-benar mencintaiku?" tanya Josh dengan serius dan Frey hanya menganggukan kepalanya. "Apa kau bersedia menunggu sampai aku mencintaimu?"


Frey tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu. Otak pintarnya bekerja keras untuk menjabarkan ucapan Josh, apakah artinya Josh berencana mencintainya, apakah Josh akan membuka hati untuknya?


"Kau serius?" tanya Frey tak yakin.


"Hem, aku akan mencobanya!"


"Maka aku akan menunggumu Josh!"


Keduanya tersenyum, Josh kembali memeluk tubuh Freesia dengan erat, pria itu juga mengecup pucuk kepala gadis kecilnya.


Duar...Duar...


Suara gemuruh kembang api menggelegar di udara, percikan api berwarna-warni menghias langit malam yang tak lagi hujan. Kedua insan yang saling memeluk pempererat dekapan mereka, melewati malam tahun bersama untuk pertama kalinya.


"Happy new year my little girl."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2