Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Mantra andalan Freesia


__ADS_3

"Wah, saat besar nanti. Kau harus memiliki perusahaan sebesar ini Frey," ucap Frey seraya menatap karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Kau pasti akan memilikinya gadis muda."


Frey menoleh ke belakang, gadis itu lalu berbalik dan menatap wanita tua yang kini tengah tersenyum di hadapannya. Frey ikut tersenyum meski dia tak tau tengah berhadapan dengan siapa.


"Terima kasih doanya nyonya," jawab Frey dengan sopan, melihat banyaknya pengawal yang berada di belakang wanita tua itu, Frey yakin jika wanita tua itu bukanlah orang sembarangan.


"Maggie Zantman, panggil saja oma Maggie," ujar wanita tua itu seraya mengulurkan tangannya ke arah Frey.


Frey meraih uluran tangan itu dan menjabatnya. "Baik oma," panggil Frey sedikit ragu.


"Anak yang cantik. Oma harus pergi. Kita pasti akan bertemu lagi," Maggie melepaskan tangan Frey, wanita tua itu menatap Frey sejenak sebelum akhirnya dia meninggalkan Frey. "Hidungnya mirip hidungmu Fed," gumamnya dengan senyum penuh arti.


Sementara itu Frey masih menatap kepergian Maggie, gadis itu merasa sedikit tak asing, sepertinya dia pernah melihat wanita tua itu tapi entah dimana, Frey tidak mengingatnya.


Setelah puas mengelilingi perusahaan, Frey kembali ke ruangan Josh karena takut Josh akan mencarinya. Frey mengintip di balik pintu, saat tak melihat siapapun, Frey langsung masuk ke dalam ruangan Josh dan duduk di sofa seraya membaca novel yang sengaja dia bawa.


Setengah jam kemudian, Frey menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Senyumnya yang merekap redup seketika saat yang datang bukan Josh melainkan Jovanka.


"Kenapa senyummu hilang Frey, kau kecewa karena aku yang datang," ucap Jovanka seraya berjalan ke arah Freesia, gadis itu lalu duduk di sebelah kakak iparnya.


"Aku pikir Josh yang datang, aku sudah bosan di sini," Frey menutup novelnyad dan memasukan kembali ke dalam tas. "Kenapa kau kesini, apa rapatnya sudah selesai?" tanya Frey kemudian.


"Belum, tapi aku bosan makannya aku kabur kemari," jawab Jovanka dengan tanpa rasa bersalah. "Frey, ke kafe yuk. Di lantai atas ada kafe yang menunya enak-enak?"


Frey berfikir sejenak, sepertinya tidak ada salahnya dia menunggu Josh sambil minum kopi dan makan cemilan. "Oke," Frey mengiyakan ajakan Jovanka, tapi sebelumnya dia akan mengirim pesan untuk Josh agar pria itu tidak mencarinya.


Kedua gadis itu lalu keluar dari ruangan Josh dan pergi ke kafe yang Jovanka maksud. Sejak pintu lift terbuka, Frey terkagum-kagum melihat tatanan kafe tersebut. Di dominasi jendela kaca, pengunjung dapat melihat pemandangan ibu kota dari atas ketinggian.


"Keren kan Frey?" kata Jovanka membanggakan diri karena memilih kafe yang sangat bagus.


"Kau benar Jov, sangat keren."


Jovanka menarik tangan Freesia menuju meja yang berada di pinggir jendela kaca, dari sana mereka benar-benar dapat melihat pemandangan ibu kota pada siang hari. Mereka lalu memesan beberapa menu untuk menemani mereka.


"Kalau malam pasti sangat keren Jov?" ucap Frey tanpa mengalihkan pandangannya, gadis itu menatap beberapa bangunan pencakar langit, halte angkutan umum dan jembatan layang.

__ADS_1


"Sangat romantis, apalagi kalau mengajak pacar. Oh aku jadi rindu pacarku."


Frey menoleh menatap Jovanka. "Pacar mana yang kau maksud Jov? Jovi, Nathan, Steve, Kriss, Morgan, Adam, Smitt, Hardin, atau Arian?" Frey masih ingat saat Jonathan mendikte satu persatu nama kekasih Jovanka.


"Oh waow, ingatanmu luar biasa Frey. Hem, sebenarnya aku menyayangi semuanya, tapi Jovi adalah pacar pertamaku jadi dia yang akan aku ajak kemari," Jovanka berujar seraya tersenyum, entah apa sedang gadis itu pikirkan sampai senyum-senyum sendiri.


"Kau serius memacari mereka semua?" Frey kira Jonathan hanya bercanda.


"Serius lah Frey," jawab Jovanka santai.


"Apa mereka tidak curiga denganmu?"


"Tentu saja tidak, mereka tau kalau aku tidak cukup hanya dengan satu pria yang mereka mengerti asal aku mau jadi kekasih mereka."


"Wah, kau sangat luar biasa," Frey mengacungkan kedua jari jempolnya di depan wajah Jovanka.


"Tentu saja. Em Frey, sebelum menikahi Josh, apa kau memiliki kekasih?" tanya Jovanka meski sempat ragu.


"Tidak. Josh adalah cinta pertamaku dan siapa sangka takdir menjodohkan kami," ungkap Frey apa adanya.


"Really? Aku pikir kau dan Axel pernah pacaran."


"Kau bilang Josh cinta pertamamu?" tanya Jovanka dan Frey hanya mengangguk. "Kapan kalian pertama bertemu?"


Frey tersenyum malu, namun akhirnya dia menceritakan kepada Jovanka kapan pertama kali dia bertemu Josh. Sejak pertemuan pertama Frey langsung jatuh cinta dan memantrai Josh agar menjadi miliknya.


"Waow, so sweet. Ajari aku mantramu Frey, siapa tau nanti berguna saat aku bertemu belahan jiwaku," pinta Jovanka penuh semangat.


"Kau tidak pakai mantra saja pacarmu sudah satu lusin Jov.'


"Baru satu lusin belum satu kodi. Cepat ajari aku Frey!"


"Ya, ya baiklah. Tapi ini tidak gratis ya."


"Tentu saja. Aku akan melakukan apapun yang kau mau!"


"Oke. Aku akan menagihnya saat aku perlu. Sekarang lihat dan dengar ini baik-baik," Frey mengacungkan jari telunjuknya, perlahan gadis itu memutar jarinya membentuk lingkaran. "Bim salabim. Abra kadabra. Jadilah milikku," setelah mengucapkan mantra, Frey mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Jovanka. "Selesai," ucap Frey lalu kembali menarik tangannya.

__ADS_1


"Serius hanya itu?" Jovanka bertanya dengan polos. Entah dia polos atau bodoh, bisa-bisanya dia percaya dengan perkataan kakak iparnya.


"Iya hanya itu, hafalkan saja."


"Aku akan mencobanya," Jovanka menatap sekeliling, gadis itu lalu melihat seorang pria duduk seorang diri. Pria dengan wajah di penuhi jambang, namun di balik jambang itu tersembunyi wajah tampan yang hanya Jovanka yang menyadarinya. Jovanka lalu mulai memutar jari telunjuknya membentuk lingkaran. "Bim salabim. Abra kadabra. Jadilah milikku," ucapnya lalu mengarahkan telunjuknya ke arah pria tersebut. Tak di sangka, pria itu menoleh dan untuk sesaat kedua netra mereka saling beradu. Jovanka salah tingkah, gadis itu segera menarik tangan dan pandangannya, dia benar-benar gugup saat pria itu menatapnya begitu tajam.


"Jangan-jangan mantranya berhasil," batin Jovanka dengan wajah bersemu merah.


.


.


.


Setelah jual beli saham berhasil, kini Maggie Zantman memiliki 30 persen saham J&J Company. Dengan demikian, Maggie Zantman akan ikut andil dalam segala hal yang berkaitan dengan perusahaan. Sebelum pulang, Maggie manyalami Jimmy selaku CEO dari J&J Company.


"Semoga kerja sama ini lancar dan kita selalu akur," ucap Maggie senyum yang sulit di artikan.


"Tentu saja nyonya. Kami tidak akan mengecewakan anda," sahut Jimmy.


Maggie lalu beralih pada Jonathan, wanita tua itu juga menyalami pria bermata biru itu. "Senang bekerja sama dengan pengusaha muda seperti anda tuan Jonathan," ucap Maggie.


''Saya yang bersyukur karena berkesempatan belajar dengan pengusaha hebat seperti anda nyonya Maggie."


Kini Maggie berada di hadapan Josh, wanita tua itu menatap Josh dengan seksama. "Saya dengar tuan Josh sudah menikah?" tanya Maggie dan Josh hanya menggangguk. "Selamat atas pernikahan anda, saya akan mengirim hadiah pernikahan ke rumah anda."


"Terima kasih nyonya, tapi anda tidak perlu repot-repot."


"Tidak repot. Apa istri anda ikut kemari?"


"Ya nyonya. Dia ada di kantor saya."


Maggie mengangguk-anggukan kepalanya lalu kembali menatap Josh dengan intens. "Kedepannya kita akan sering bertemu!" ucapnya lalu keluar dari ruang rapat.


Josh merasa sedikit aneh dengan wanita tua itu, dia merasa Maggie memiliki niat tertentu saat membeli saham keluarganya. Dan apa maksud dari ucapannya tadi. Kenapa mereka harus sering bertemu?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Hari senin gays, jangan lupa vote ya...


Nanti othor up bab lagi deh heheh


__ADS_2