
Dua hari kemudian, kondisi Josh semakin membaik, dia terus saja memaksa untuk bertemu istri dan anaknya. Karena tak memiliki alasan lagi akhirnya Katherine mengajak putranya ke ruang ICU untuk menemui Freesia.
Katherine mendorong kursi roda Josh dengan perasaan cemas, dia takut kondisi Josh kembali memburuk setelah melihat kondisi Frey yang masih tak sadarkan diri. Kedatangan Josh juga membuat Anne dan Maggie khawatir, mereka berdiri dan mengahmpiri Josh.
"Kenapa kau kemari, bukankah dokter belum mengizinkanmu turun dari tempat tidur?" tanya Maggie seraya melirik Katherine,namun wanita itu hanya meggeleng memberi tanda jika dia tak bisa menahan Josh lebih lama lagi.
"Dimana Frey oma?" Josh menatap Maggie dengan mata berkaca-kaca, entah mengapa dia merasa ada yang di sembunyikan oleh keluarganya mengenai kondisi sang istri. Josh lalu beralih pada Anne karena Maggie hanya diam. "Dimana istriku Ann?" tanya Josh penuh harap.
"Dia ada di dalam, aku akan mengantarmu!" Anne mendapat tatapan tak setuju dari Maggie dan Katherine, namun Anne merasa sudah saatnya Josh tau kebenarannya.
Anne lalu mengambil alih kursi roda Josh dan masuk ke dalam ruang ICU setelah mendapat izin dari dokter dan perawat yang berjaga di sana. Begitu pintu ruang ICU terbuka suara monitor memekakan telinga, rasanya sangat menyakitkan saat Josh melihat Frey terbaring lengkap dengan berbagai alat penunjang hidup yang menempel di tubuhnya.
"Ann, dia bukan Frey kan?" tanya Josh dengan suara bergetar. Anne mendorong kursi roda Josh lebih dekat, kini mereka berada di sisi tempat tidur Frey.
"Kata dokter tulang iga nya patah dan melukai hatinya, bayi kalian juga terpaksa di lahirkan karena Frey mengalami pendarahan hebat. Dan dia di nyatakan koma sejak kemarin," jelas Anne dengan air mata berlinang.
Josh terisak, pria mana yang tak sakit hatinya melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya. Jika boleh meminta, Josh berharap Tuhan menukar posisi mereka. Josh lalu meraih tangan Frey dan menggenggamnya, tangan itu tak hangat seperti biasanya. Josh mencium tangan Frey hingga air mata membasahi tangannya, dia tak bisa berkata-kata, hanya isak tangis yang menggambarkan apa yang sedang dia rasakan.
Cukup lama Josh menangis sambil mencium tangan istrinya, pria itu lalu menjauhkan kepala dan menghapus air matanya. "Aku mohon berjuanglah untuk kembali bersama kami Love, aku sangat membutuhkanmu. Putri kita juga sangat membutuhkanmu, aku mohon kembalilah. Aku akan melakukan apapun yang kau mau asal kau kembali padaku," ucap Josh, kedua bahunya bergetar karena dia tak bisa berhenti menangis.
Anne menepuk pundak Josh dengan perasaan nelangsa, dia tidak sanggup melihat kesedihan Josh. "Waktu besuknya sudah habis, kita harus keluar," ucap Anne dengan air mata bercucuran. Josh kembali mencium tangan Frey sebelum dia pergi. "Aku akan menemuimu lagi besok, aku harap kau segera membuka matamu Love!"
Meski berat, namun Josh akhirnya keluar dari ruangan itu. Di depan ruangan Katherine segera memeluk putranya. Tangis mereka kembali pecah, Josh menumpahkan semua kesedihkannya di pelukan sang ibu.
__ADS_1
"Momy yakin Frey akan baik-baik saja, dia pasti akan kembali bersama kita!" ucap Katherine tersedu-sedu.
"Mom, aku ingin melihat putriku," pinta Josh dan Katherine segera mengiyakan permintaan Josh, mereka lalu beralih ke kamar NICU tempat dimana bayi Frey berada. Sayangnya Katherine tidak di perbolehkan masuk, hanya Josh yang di izinkan menengok putrinya dan itupun dengan batas waktu tidak lebih dari sepuluh menit.
Josh sudah berada di samping inkubator, pria itu tersenyum pilu melihat bayi mugil itu tertidur sambil menghisap jari jempolnya. "Hay princes, maafkan dady baru bisa datang menemuimu. Dady sangat bahagia nak karena kau telah lahir ke dunia ini, jadi dady mohon berjuanglah bersama momy agar kita bisa berkumpul lagi. Dady mohon bertahanlah sayang!" ucap Josh dengan mata berair, sungguh dia tidak ingin menangis di hadapan putri kecilnya, dia ingin menjadi sosok ayah yang kuat bagi putrinya.
"Anda belum memberinya nama tuan," ucap perawat tersebut, karena sejak bayi itu lahir anggota keluarga menolak memberi nama karena mereka merasa Josh dan Frey yang berhak menamai bayi cantik itu.
"Abelia Brielle Janzsen," eja Josh penuh haru.
"Nama yang sangat indah tuan, apa saya boleh tau maknanya?"
"Abelia adalah nama bunga yang melambangkan kecantikan yang tiada tara, Brielle memiliki makna berbakti pada Tuhan. Aku berharap dia akan menjadi penerus Janzsen yang cantik rupa serta hatinya, aku berdoa dia tumbuh menjadi gadis yang rupawan dan berbakti akan perintah Tuhan!"
Setelah memberi nama pada putrinya, Josh kembali ke kamarnya karena dia sendiri belum boleh terlalu banyak bergerak. Di atas tempat tidur, Josh kembali menangis saat mengingat kondisi istri dan anaknya. Lalu sekilas dia teringat saat kecelakaan itu terjadi, dia akhirnya ingat kejadian tragis pada malam itu, dia sangat yakin jika truk itu sengaja menambrak mobilnya..
"Ada apa Josh, kau perlu sesuatu?" Katherine menghampiri putranya dengan cemas, dia khawatir Josh kenapa-napa.
"Soal kecelakaan, Josh yakin itu di sengaja mom. Apa kalian sudah menangkap pelakunya?" tanya Josh seraya menatap wajah sang ibu.
Katherine tampak gugup, namun dia juga tidak bisa membohongi Josh, tidak ada pilihan lain selain mengatakan yang sejujurnya. "Hm, mereka sudah menangkap supir truk itu!"
"Benarkah? Lalu apa katanya mom?"
__ADS_1
Katherine menghela nafas panjang, dia lalu mengusap tangan putranya dengan lembut. "Jennifer yang menyuruhnya. Andrew dan anak buah dady mu sedang mencari keberadaan wanita itu, dia menghilang tanpa jejak," ucap Katherine dengan berat hati, namun sudah seharusnya Josh mengetaui fakta yang sebenarnya.
"Jennifer scott!!" geram Josh dengan rahang mengatup dan kedua tangan mengepal. "Aku akan membunuhmu!"
Katherine mengusap lengan putranya, dia tau apa yang sedang Josh rasakan, namun dia tidak ingin putranya berbuat nekat dan mengotori tangannya untuk wanita sampah seperti Jennifer. "Jangan pikirkan itu dulu. Kau harus fokus pada kesembuhanmu, fokus pada Frey dan bayi kalian," ucapnya mencoba menenagkan Josh.
Josh mengatur nafasnya yang memburu, amarahnya membuncah hingga ke ubun-ubun. Namun mengingat anak dan istrinya, dia harus bisa menahan diri.
"Namanya Abelia mom, aku baru saja memberinya nama. Abelia Brielle Janzsen," ujar Josh dengan senyum sendu.
"Nama yang sangat cantik Josh. Ah, momy tidak percaya sudah menjadi seorang nenek sekarang, momy tidak sabar untung menimang Abel Josh!" Katherine begitu terharu, dia sampai tak bisa menahan air matanya, tangisnya kembali pecah. "Ah, maafkan momy Josh, momy hanya merasa sangat bahagia membayangkan menimang cucu momy!"
"It's okay mom. Momy pasti sangat sedih melihat kami seperti ini!"
Katherine lalu memeluk putranya, keduanya saling menguatkan satu sama lain. Katherine melepaskan pelukannya karena tiba-tiba pintu ruangan Josh terbuka dan Jovanka masuk dengan nafas tersenggal-senggal.
"Ada apa Jov?"
"Frey Mom, Frey..." ucap Jovanka dengan nafas memburu.
"Frey kenapa?"
"Dia, dia mengalami henti jantung!"
__ADS_1
"Apa?"
BERSAMBUNG...