
Pagi ini acara televisi ramai memberitakan tentang kabar bunuh diri mantan model top Jennifer Scott, wanita cantik itu di temukan gantung diri di apartemen lamanya. Polisi menemukan sepucuk surat berisi pengakuan jika dialah yang mendalangi kecelakaan yang menimpa Josh dan Frey, karena terus di hantui rasa bersalah akhirnya Jennifer memutuskan bunuh diri.
Maggie tersenyum samar ketika melihat berita itu, Frey yang menyadari ekspresi senang dari neneknya mulai menaruh curiga, jangan-jangan kematian Jennifer bukan karena bunuh diri.
"Kau memang pantas mati!" ucap Katherine, rasanya dendamnya terbayarkan sudah begitu mendengar kabar bunuh diri tersebut.
Sama halnya dengan Frey yang curiga, Josh juga mulai mencurigai Jimmy karena sejak tadi pria itu terlihat sangat tenang, namun jika itu memang perbuatan Jimmy bukankah artinya Josh tidak perlu mengotori tangannya lagi?
"Bukan oma yang melakukannya kan?" tanya Freesia tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh padanya. Frey memang sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap bersama dengan Josh.
"Dady yang melakukannya," aku Jimmy tanpa rasa bersalah sedikitpun, pria paruh baya itu mendekati ranjang dimana menantunya berada.
__ADS_1
"Kenapa barus dengan cara itu dad?" tanya Freesia, dia masih tak percaya Jummy memiliki sisi yang sangat kejam.
"Wanita seperti dia tidak akan pernah berubah kecuali mati. Aku tidak mau dia mengganggu kalian lagi!" tegas Jimmy.
Josh yang berada di samping Frey mengusap punggung istrinya, dia tidak ingin Frey terganggu dengan apa yang di lakukan Jimmy pada Jennifer. Di sisi lain Josh berasa tenang karena pada akhirnya Jennifer lenyap dari dunia ini.
Hari berganti hari, tak terasa dua minggu sudah sejak baby Abel lahir, kondisinya mulai stabil dan berat badannya juga mulai bertambah. Setiap pagi, siang dan sore Frey berkunjung ke rumah sakit untuk memberikan Asi pada baby Abel karena Frey sudah di izinkan pulang beberapa hari yang lalu, meski sedih karena harus terpisah dari putrinya namun Frey tidak boleh terlalu sedih agar kualitas Asinya tidak buruk.
"Lihatlah Josh, tangannya sangat mungil," lirih Frey dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, seperti dirimu, mungil," jawab Josh sambil berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Aku tidak mungil Josh, kau saja yang terlalu besar dan tinggi!" protes Frey.
"Love lihatlah, Abel tersenyum," Josh begitu girang melihat seutas senyum di bibir mungil sang putri, dia sudah sangat ingin menimang malaikat kecilnya.
"Dia pasti senang kita ada di sini," ucap Frey. "Sayang, momy dan dady selalu bersamamu nak, ayo berjuang bersama agar kita secepatnya bisa berkumpul!" tak terasa buliran air bening menetes di wajah Frey meski dia sudah berusaha menahannya.
Josh omerangkul pundak istrinya mencoba menenangkan Frey. Setelah jam besuk habis, Frey dan Josh kembali ke rumah mereka. Meski sudah bisa bepergian namun keduanya masih harus banyak istirahat mengingat cedera yang di alami pasangan suami istri itu cukup berat.
Frey merasa senang karena semenjak dia keluar dari rumah sakit hampir setiap hari Anne dan Maggie berkunjung dan memberi semangat untuk Frey. Begitupun Jovanka, meski dia sangat sibuk tapi dia selalu menyempatkan waktu untuk menemui Frey.
Frey sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat perduli kepadanya dan selalu menguatkannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...