Istri Kecil Kapten Josh

Istri Kecil Kapten Josh
Bunga Peony


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah, sama seperti wajah Freesia yang begitu bersinar pagi ini. Tak seperti biasanya, gadis berlesung pipi itu bangun lebih awal dan bahkan menyiapkan sarapan untuknya dan juga Anne. Freesia bersenandung lirih sambil menata piring berisi roti di atas meja makan minimalis milik mereka, tak lupa dia juga menyiapkan dua gelas susu.


"Oh waow, ada apa ini Freesia Lovina?" tanya Anne dari arah belakang, gadis itu lalu menoleh dan tersenyum manis hinga kedua cekungan di pipinya terlihat sempurna, sementara sang bibi menatap aneh keponakannya.


"Bukan apa-apa, aku hanya terlalu senang dan bersemangat pagi ini," jawab Freesia masih dengan senyum merekah di wajahnya.


Anne masih menatap Freesia,wanita itu merasa curiga dengan sikap keponakannya itu. "Apa kau menginginkan sesuatu Frey?" tanya Anne pada akhirnya.


"Oh ayolah bi, Frey hanya ingin bersikap baik. Frey sangat bahagia karena nilai Frey bagus!"


Ya, sejak kemarin Freesia begitu bersemangat karena mendapatkan nilai yang hampir sempurna, Freesia kembali mendapatkan peringkat satu dan artinya beasiswanya akan di perpanjang sampai dia lulus. Dengan begitu Freesia tak perlu mencemaskan perihal biaya yang tak sedikit itu.


Anne tersenyum simpul, dia merasa bersalah karena sempat mencurigai keponakannya. "Bibi bangga padamu Frey," ujar Anne setulus hati, meski kadang Freesia keras kepala dan kerap membuatnya kesal, namun tak bisa di pungkiri jika Freesia memang membuatnya bangga.


"Ayo cepat makan bi, setelah ini kita berangkat ke toko bunga bersama-sama!"


Dan begitulah Freesia,meski tau kemungkinannya kecil, namum gadis itu masih berharap bisa bertemu Josh di toko bunga. Selama dua minggu ke depan, Freesia bertekad menghabiskan waktu liburan sekolahnya untuk menunggu kedatangan Josh di Anne Florist.


.


.


.


Anne Florist begitu ramai hari ini, bahkan saking ramainya Freesia sampai melupakan niat awalnya membantu sang bibi di toko bunga. Freesia merentangkan kedua tangannya yang terasa lelah, gadis itu duduk di kursi yang berada di belakang kasir setelah pekerjaannya selesai.


Namun baru saja Freesia duduk, lonceng angin yang terpasang dipintu kembali berbunyi, tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan seorang pemuda berparas tampan dengan rambut pirang dan mata berwarna biru.


"Axel," pekik Freesia begitu melihat pemuda tampan itu semakin dekat. "Ngapain loe kesini?" tanya Freesia acuh.


"Beli bunga lah, ya kali gue mau beli makan," sahut Axel tak kalah ketus.


"Oh," Freesia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, gadis itu lalu tersenyum kikuk ke arah Axel. "Loe butuh bunga yang kaya gimana?"tanya Freesia, kali ini suaranya terdengar lebih ramah.


"Bunga yang cocok untuk pernikahan!"


"Loe mau nikah?" tanya Freesia dengan mata membola karena terkejut.


"Ngaco lo, enggak lah. Yang nikah saudara gue!"


"Oh."

__ADS_1


"Cepat carikan bunga yang bagus!"


"Iya bawel."


Freesia berpikir sejenak, gadis itu lalu tersenyum setelah teringat akan sebuah bunga yang cocok dengan pesanan Axel.


"Tunggu sebentar!" Freesia beranjak pergi, tak lama kemudian gadis itu kembali dengan membawa setangkai bunga berwarna merah muda. "Ini namanya bunga Peony, bunga catik yang melambangkan cinta dan kebahagiaan," terang Freesia dengan begit halus dan berhasil menyihir Axel, pemuda itu bahkan tak bisa membedakan antara Freesia dan bunga yang ada di tangan gadis itu, keduanya sama-sama cantik dan mempesona.


"Cantik," gumam Axel tanpa sadar dan tanpa dia sadari terdengar oleh Freesia.


"Yah, bunga Peony memang sangat cantik," sahut Freesia polos, dia tak tau jika yang di maksud Axel adalah dirinya bukan si bunga Peony.


Axel berusaha terlepas akan pesona Freesia, pemuda itu tak ingin orang lain tau tentang perasaannya yang sebenarnya. "Kalau gitu gue mau seratus tangkai dan di rangkai dengan cantik!"


"Se-seratus?" ulang freesia tak percaya, belum lagi kata seratus tangkai membuat Freesia mengingat Josh.


"Iya se-ra-tus!" ucap Axel penuh penekanan.


"Loe tungguin atau gue kirim kemana?"


"Kirim ke hotel NX, gue tunggu loe di ballrom hotel jam satu siang!" jawab Axel tanpa keragaun. Pemuda itu lalu merogoh dompetnya dan mengeluarkan black card pemberian orang tuanya. "Gue bayar sekalian!"


Freesia menerima kartu tak terbatas itu, sebelum melakukan transaksi elektronik,Freesia menatap kartu yang berada di tangannya dengan damba. "Suatu hari aku pasti akan memilikinya!" batinnya penuh harap.


"Bi, ada pesanan seratus tangkai bunga!"


"Taruh saja di situ, bibi akan merangkainya nanti!"


"Harus sekarang bi, kita harus mengantarnya ke hotel NX sebelum jam satu siang!"


"Ck, kau ini," Anne yang sedang merangkai pesanan lainnya pun terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan merangkai seratus bunga Peony yang di bawa oleh keponakannya. "Apa ini pesanan pilot itu lagi? Anne mengadahkan kepalanya, bertanya sekaligus menatap Freesia yang terlihat serius memperhatikannya merangkai bunga.


"Bukan, temen sekolah Frey yang pesan, katanya saudaranya mau menikah," jawab Frey apa adanya.


"Oh," Anne lalu kembali merangkai bunga itu secantik mungkin, tak lupa terselip sebuah doa di antara bunga-bunga cantik pesanan Axel. "Semoga kalian di bekahi pernikahan yang bahagia dan penuh cinta, sama halnya dengan Peony yang melambangkan rasa cinta dan kebahagiaan," ucap Anne setulus hati meski dia tak mengenal pengantin yang akan menikah hari.


"Kau lebih pantas menjadi pemuka agama dari pada tukang bunga bi," sindir Freesia sambil menahan tawanya.


"Frey kau tak perlu menjadi seorang pemuka agama agar bisa mendoakan kebahagiaan orang lain. Bibi melakukan itu karena bibi sangat bersyukur, bunga yang bibi rawat dengan sepenuh hati akan ada di hari bahagi mereka."


"Kau sangat bijak bi," puji Freesia setulus hati.

__ADS_1


"Sudah sana antarkan bunga ini!"


"Oke bi," Freesia meraih buket bunga Peony yang telah di rangkai secantik mungkin dan membawanya keluar dari ruangan khusus yang di pakai Anne untuk merangkai bunga, namun tiba-tiba gadis itu kembali ke ruangan tersebut karena teringat sesuatu. "Bi, nanti malam aku ingin makan steak, kau janji akan membelikannya saat nilaiku bagus kan?"


"Astaga, kenapa kau tak pernah lupa kalau soal makanan. Baiklah, baiklah, setelah kau pulang kita akan makan steak."


"Yey," Freesia bersorak gembira sebelum meninggalkan Anne Florist.


"Anak itu sangat menggemaskan," gumam Anne seraya tersenyum.


Pukul 12 lebih 15 menit, dengan di antar taxi online pesanannya, Freesia sudah berada di lobby hotel NX, sebuah hotel bintang lima dengan segala fasilitas lengkapnya. Freesia kebingungan karena baru kali ini menginjakkan kaki di tempat seperti itu, bahkan untuk sampai ke ballrom gadis itu sampai bertanya berkali-kali.


"Ya Tuhan, semoga kelak kau memberiku suami yang tampan dan kaya raya sehingga aku bisa menikah di hotel ini," ucap Freesia yang sudah berdiri di depan salah satu pintu ballroom.


"Amen," sahut sehuah suara dari arah belakang, gadis itu sontak menoleh dan terkejut melihat Axel dengan penampilan yang sangat jauh berbeda, Axel terlihat semakin tampan dalam balutan jas berwarna merah maroon, rambut pirangnya yang tertata rapi membuat pemuda itu semakin mempesona.


"Apa gue terlalu tampan?" tanya Axel begitu percaya diri.


"Eh," Freesia memalingkan pandangannya, sangat memalukan saat dia ketahuan sedang menatap Axel tanpa berkedip.


"Ini pesanan loe," Freesia menyodorkan bunga yang di bawanya, lalu segera di raih oleh Axel.


"Thanks Frey."


"Sama-sama, gue pulang dulu ya!"


"Hati-hati, sorry gue nggak bisa nganterin!"


"Gue bisa pulang sendiri!"


Axel menatap punggung Freesia yang semakin jauh, pemuda itu tersenyum penuh arti. "Aku akan mengatakan perasaanku setelah pernikahan ini selesai, tunggu aku Freesia Lovina."


.


.


Freesia segera pergi meninggalkan Axel setelah urusannya selesai, namun tiba-tiba dia merasa ingin buang air kecil, dengan langkah tergesa Freesia mencari keberadaan kamar mandi namun dia tak kunjung menemukannya.


Saat Freesia akan bertanya kepada seseorang, tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya dengan wajah putus asa.


"Nona Freesia, tolong bantu aku. Menikahklah denganku sekarang!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2