
Maggie Zantman tertawa puas setelah kepergian Frey, dia merasa di atas angin karena rencananya berjalan mulus dan sebentar lagi Frey akan berada di pihaknya. Tawa Maggie terhenti saat Andrew datang menghadapnya, pria itu pasti memiliki informasi yang Maggie pinta.
"Bagaimana, apa mereka sudah mendaftarkan pernikahan mereka?" tanya Maggie penasaran.
"Saya sudah memeriksanya nyonya, mereka belum mendaftarkan pernikahan mereka. Sepertinya ucapan nona muda benar jika mereka hanya terikat sebuah kontrak," jawab Andrew.
"Baguslah. Rencanaku akan lebih mulus jika gadis itu sudah tidak terikat dengan pria manapun!"
"Apa anda yakin akan menjodohkan nona muda?"
Maggie menatap Andrew karena tak biasanya pria itu bertanya tentang urusannya. "Tentu saja, dengan begitu Zantman Group akan semakin besar dan kuat. Bergelimpang kemewahan, aku yakin Frey tidak akan menolaknya!"
.
.
Hari berganti, waktu terasa begitu cepat. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan..Frey berada di ruang keluarga dengan di temani Josh dan Katherine, gadis kecil itu menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Dia sangat gugup dengan hasilnya, meski Frey sangat yakin jika dia pasti lulus.
"Sudah keluar hasilnya," pekik Frey sambil menggigit ujung jarinya, Josh dan Katherine lalu mendekat dan turun menatap layar laptop milik Frey. Ketiga manusia itu menegang saat Frey membuka email dari pihak sekolah.
"Lulus, kau lulus Love," Josh berteriak kegirangan, pria itu bahkan sampai melompat-lompat seolah dia lah yang lulus sekolah.
Katherine memeluk menantunya untuk memberi selamat. "Selamat ya Frey," ucap Katherine dengan tulus.
"Terima kasih mom."
Frey tersenyum sambil mengamati Josh yang terlihat sangat bahagia. Pria itu lalu memeluk Frey dan membanjiri wajah Frey dengan ciuman tanpa memperdulikan keberadaan sang momy. Katherine hanya menggelengkan kepala, wanita paruh baya itu lalu pergi dan memberi waktu kedua anaknya untuk merayakan kelulusan Frey.
__ADS_1
"Aku sangat bangga padamu Love. Jadi kau siap ke Harvard?" tanya Josh dengan antusias, sementara Frey hanya mengangguk dengan wajah sedih. Bukan karena dia tak bahagia dengan kelulusannya, namun setelah ini waktunya bersama Josh tidak banyak lagi. Dia harus berpisah dengan Josh agar pria itu tak menderita, agar Maggie tak menghancurkan keluarga Janzsen makan Frey harus pergi.
"Love, hadiah apa yang kau inginkan?"
"Emm, aku ingin kita liburan berdua," pinta Frey dengan senyum, namun wajahnya terlihat sendu.
"As your wish baby girl," Josh kembali memeluk Freesia, dia akan memberikan apapun untuk Freesia sebelum istri kecilnya menempuh pendidikan di luar negeri. Sam mencoba menyisihkan rasa khawatirnya, dia tak peduli jika Frey tidak akan memberi tahunya tentang siapa Frey sebenarnya. Jika Frey tetap diam, maka Josh tidak akan pernah membahasnya. Dia akan pura-pura tidak tau agar hubungan mereka tak terasa canggung.
Keesokan harinya, Josh benar-benar mengajak Frey liburan ke bali. Namun karena Josh masih harus bertugas, mereka terpaksa berpisah di pesawat. Frey berada di first class sementara Josh berada di ruang Kokpit atau flight deck. Sungguh menyenangkan menaiki pesawat yang di terbangkan oleh suami sendiri, pikir Frey.
Frey menikmati penerbangan pertamanya meski dia tak bisa berdekatan dengan Josh. Gadis itu menatap ke luar jendela dan menatap awan untuk menghilangkah kesepiannya.
"Penumpang yang terhormat, saat ini pesawat kita berada di atas ketinggian 36.000 feet. Izinkanlah saya menyampaikan sebuah pesan untuk seseorang yang berada di dalam pesawat ini."
"Teruntukmu istri kecilku, terima kasih banyak karena kau telah mengajariku banyak hal, bersamamu aku belajar melupakan masa laluku, bersamamu aku kembali merangkai masa depan. Terima kasih untuk limpahan cinta untukku, aku mencintaimu dengan sebenar-benarnya cinta. Dulu aku melewatkan sebuah momen berharga, dan aku ingin menebusnya. Hari ini, di dalam pesawat ini, di atas ketinggian ini bersaksikan awan dan langit membentang, bersediakan kau menikahi pria dewasa ini, bersediakan kau menghabiskan waktu bersama pria membosankan ini. Freesia Lovina Janzsen, menualah bersamaku."
"Apa yang kau lakukan Josh?" tanya Frey dengan air mata berlinang, namun air mata bahagia tentunya.
Josh lalu berdiri, pria itu memberikan rangkaian bunga tersebut untuk istri kecilnya. Josh meraih tangan kanan Frey dan menggenggamnya dengan erat. "Dulu aku tidak sempat melamarmu, pernikahan kita sangat mendadak. Jadi aku ingin menebusnya, aku tidak ingin melewatkan satu hal pun saat bersamamu. Meski telat, aku tetap ingin melakukannya, melamarmu sebagaimana mestinya," Ujar Josh dengan senyum penuh kebahagiaan, pria itu lalu mengecup punggung tangan Frey.
Josh mengeluarkan sebuah cincin bertahtakan berlian dari sakunya, dia lalu melepaskan cincin yang melingkar di jari Frey dan menggantinya dengan cincin yang baru. "Maaf karena terlalu lama membuatmu memakai cincin ini. Kali ini, cincin ini benar-benar untukmu, milikmu."
Frey meletakan bunga pemberian Josh di kursinya, gadis itu lalu memeluk suaminya dengan erat. Dia tak peduli meski selama ini memakai cincin yang seharusnya di pakai oleh Jennifer, asal Josh yang menikahinya dia bahkan rela jika tak memakai cincin sekalipun. Frey sangat bahagia dan takut dalam waktu yang bersamaan. Namun Frey tak ingin merusak momen bahagianya, dia hanya perlu menghabiskan waktunya bersama Josh sebelum dia pergi.
"Terima kasih banyak Josh. Aku sangat mencintaiku," ucap Frey tulus, dia sangat mencintai Josh melebihi cinta pada dirinya sendiri.
"Aku juga sangat mencintaimu Love!"
__ADS_1
Frey tak bisa berkata-kata lagi, gadis itu semakin mempererat pelukannya,dia enggan melepaskan Josh. Rasanya begitu berat, mengingat beberapa hari ke depan dia tak akan bisa memeluknya lagi, dia akan merindukan aroma ketiak suaminya, dia akan merindukan dekapan hangat seorang Joshua.
"Frey, aku harus kembali ke kokpit," Josh melepaskan pelukannya, pria itu lalu mengecup bibir Frey sekilas. "Sampai jumpa di bandara."
.
.
Beberapa menit kemudian, pesawat mereka mendarat dengan selamat. Setelah menyelesaikan tugasnya, Josh segera menghampiri Frey yang sudah menunggunya di luar bandara. Dari kejauhan, Josh melihat Frey sedang berdiri, Josh berlari menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Nyonya Janzsen, apa kau sudah menunggu lama?" tanya Josh sambil berbisik di telinga istrinya.
Frey tersipu malu saat Josh memanggilnya dengan sebutan nyonya Janzsen, gadis itu memutar tubuhnya sehinga mereka saling berhadapan.
"Kau sangat lama tuan Janzsen, hampir saja aku di culik oleh pria tampan," ucap Frey menggoda suaminya.
"Aku akan membunuh siapapun yang mencurimu dari diriku," sahut Josh seraya mengusap lembut wajah istrinya.
"Haha, kau ini ada ada saja. Ayo cepat kita ke hotel, aku ingin istirahat!"
"Ayo. Aku juga sudah ingin."
"Ingin apa Josh?"
"Bercinta."
"Dasar mesyummm."
__ADS_1
BERSAMBUNG...