
"Anne," pekik Frey tak percaya. Benarkan wanita itu Anne sang bibi yang di carinya sejak beberapa bulan terakhir. Karena ingin memastikan Frey beranjak dari duduknya dan menghampiri wanita yang mirip dengan Anne. Karena turut penasaran, Jonathan mengikuti Frey di belakangnya.
"Anne," panggil Frey setelah dia berdiri di depan wanita yang mirip bibinya. Wanita itu mendungak dan terkejut melihat keponakan kecilnya.
"Frey," Anne berdiri mensejajari gadis kecil itu. Tangan Anne terulur menyentuh wajah Frey. "Benarkah ini Frey kecilku?" tanyanya masih tak percaya.
"Iya bi, ini Frey keponakan bibi."
"Frey," Anne menangis dan memeluk Frey dengan erat. Dia sangat merindukan sang keponakannya.
Sementara itu Jonathan terpaku di tempatnya. Beribu pertanyaan memenuhi kepalanya saat ini.
"Hello girl, apa aku boleh tau situasi macam apa ini?" tanya Jonathan seraya menatap kedua wanita itu secara bergantian.
Anne melepaskan pelukannya. Wanita itu lalu beralih menatap Jonathan yang berdiri di samping Frey.
"Jo, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Anne.
"Bibi mengenal Jonathan?" Frey menimpali..
"Kau kenal dia Frey?" bukannya menjawab, Anne malah bertanya kepada keponakannya.
"Dia adiknya suamiku bi," jawab Frey sejujur jujurnya.
"Apa?" Anne tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, dia tak percaya bumi begitu sempit sehingga dia bertemu dengan pria yang notabene sebagai adik ipar keponakannya. Ah sangat rumit kan kedengarannya.
"Jo, kenalkan dia Anne. Bibiku."
"Bi- Bibi?" Jonathan tergagap, sungguh dia tak menyangka jika Anne adalah keluarga Frey.
"Ya dia bibiku. Oh astaga, wanita yang kau maksud bukan bibiku kan Jo?" Frey baru ingat jika tadi Jo menunjuk wanita yang di taksirnya dan saat Frey menoleh dia malah bertemu dengan Anne.
Jonathan tersenyum kikuk, pria itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Apa kau tidak akan menyetujuainya Frey?" tanya Jonathan dan membuat Frey paham jika wanita yang di sukai Jonathan adalah bibinya.
"Tenang Jo, aku akan membantumu. Aku setuju jika pria itu adalah dirimu," Frey sedikit berjinjit agar dia2 bisa berbisik di telinga Jonathan. Setelah mendapat restu dari calon keponakannya, Jonathan tersenyum penuh kemenangan.
Tapi tunggu sebentar. Jonathan kini harus memanggil Frey dengan sebutan apa. Kakak ipar atau keponakan?
Ah pikirkan nanti saja, yang penting sudah dapat restu dari Frey. Kini tinggal bagaimana caranya agar Jo bisa dekat dengan Anne.
"Jo, bisa beri waktu kami untuk bicara. Aku janji akan membantumu," ucap Frey, banyak hal yang ingin dia bicarakan berdua bersama sang bibi.
__ADS_1
"Tentu Frey. Aku juga harus kembali bekerja. Hubungi aku saat kau akan pulang. Supir akan mengantarmu," pesan Jonathan, sejak awal pria itu memperlakukan Frey dengan baik sehingga Frey langsung mengizinkan Jo mengejar cintanya Anne
"Oke Jo."
"Aku permisi. Semoga kita bertemu lagi Ann!" Jo megerlingkan satu matanya, pria itu lalu pergi meninggalkan kedua wanita itu.
Setelah Jonathan pergi, Anne dan Frey kembali duduk. Mereka duduk saling berhadapan dan kedua tangan mereka saling menggenggam.
"Bibi kemana saja, Frey mencari bibi seperti orang gila," ucap Frey dengan mata memerah.
"Maaf Frey, bibi pergi tanpa mengabarimu," jawab Anne dengan perasaan bersalah. Niat awalnya pergi agar Maggie tak menemukan Frey, namun kini tak ada alasan Anne untuk sembunyi lagi karena Maggie sudah mengetahui keberadaan Frey dan mungkin saja Maggie sudah menemui Frey.
"Bibi masih marah denganku? Maaf bi, maafin Frey karena menikah diam-diam?"Frey akhirnya menangis setelah berhasil mengatakan hal yang sangat ingin dia sampaikan kepada bibinya.
Anne mengusap air mata Frey dengan pelan. "Maafin bibi Frey. Bibi tau kau melakukan ini demi membayar semua hutang bibi kan? Seharusnya bibi tidak marah dan mendengar penjelasanmu waktu itu."
"Tidak bi, bibi tidak salah. Frey menikah karena Frey memang mencintai Josh. Bibi ingat kan saat Frey bilang Frey sedang jatuh cinta? Pria itu Josh bi, Frey sangay mencintainya," aku Frey karena tak ingin Anne menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa dia juga mencintaimu?" tanya Anne.
"Ya bi. Dia sangat mencintaiku dan memperlakukanku dengan baik. Dia juga mencukupi semua kebutuhan Frey," jawab Frey dengan jujur. Dia sengaja tidak menceritakan bagaimana awal pernikahan mereka sang begitu dingin.
"Syukurlah kalau begitu. Bibi lega mendengarnya Frey,"Anne bisa bernafas lega, itu artinya dia tidak perlu mencemaskan kondisi keponakannya. Kini yang harus dia cemaskan adalah Maggie, bagaimana caranya menghentikan wanita tua itu agar tidak mengganggu Frey dan keluarga suaminya.
Tapi apa alasannya? Kenapa Maggie sangat ingin menghancurkan keluarga Janzsen?
"Bi, dimana bibi tinggal selama ini?"
Deg...
Pertanyaan Freesia membuat Anne tak berkutik. Apa yang harus dia jawab. Apakah sudah saatnya memberi tahu Frey tentang kebenarannya. Tapi bagaimana kalau Frey marah kepadanya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi. tapi suatu hari nanti Frey pasti akan tau tentang siapa dia yang sebenarnya.
"Bibi jalan-jalan keliling Indonesia. ya, bibi jalan-jalan," jawab Anne bohong, dia masih belum memiliki keberanian untuk menceritakan tentang semuanya, tentang siapa Frey dan asal usul mereka yang sebenarnya.
"Oh. Apa sekarang bibi akan menetap?"
Anne bernafas lega karena Frey mempercayainya. "Maafkan bibi Frey, bibi belum siap untuk mengatakannya," batin Anne.
"Bi?" Frey kembali memanggil Anne karena wanita itu tidak menjawab pertanyaannya dan malah melamun.
"Eh kenapa Frey?"
__ADS_1
"Apa bibi akan menetap sekarang?"
"Em, sepertinya tidak Frey. Bibi lega karena ada yang menjagamu. Bibi akan melanjutkan perjalanan bibi ke tempat yang belum bibi datangi."
"Bagaimana kalau aku kangen bibi?" wajah Frey berubah sendu, sungguh dia merindukan tinggal bersama Anne lagi.
"Kau bisa menghubungi bibi dan bibi akan menemuimu."
"Bibi serius."
"Ya bibi sangat serius!"
Frey sangat senang, dia lalu memeluk tubuh Anne dengan erat.
Sementara itu dari kejauhan seorang pria tengah mengawasi kedua wanita itu. Pria berbaju serba hitam itu lalu menghubungi seseorang.
"Bos saya menemukan nona Anne, dia juga bersama nona muda di salah satu hotel milik Janzsen!"
.
.
Setelah bertemu dan melepas rindu bersama sang bibi, Frey kembali ke rumah dengan di antar supir suruhan Jonathan. Namun di tengah jalan, tiba-tiba ada mobil yang menghadang mobil mereka sehingga pak supir terpaksa menginjak rem secara mendadak. Untung saja Frey memakai sabuk pengaman sehingga tubuhnya tidak menabrak kursi depan.
"Ada apa pak?" tanya Frey dengan jantung berdebar-debar.
"Ada yang menghadang mobil kita nona," jawab pak supir panik.
"Siapa? Apa rampok?"
"Tidak tau nona."
Frey dan pak supir semakin tegang saat tiga orang berbadan besar keluar dari mobil yang menghadang mobil mereka. salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil dengan keras.
"Buka pintunya!" teriaknya dengan garang.
"Bagaimana ini non?"
"Jangan buka pintunya pak. Mereka pasti orang jahat!"
Terdengar suara aneh dan tiba-tiba pintu bagian belakang terbuka. Frey tidak sempat berteriak karena orang-orang itu lebih dulu membekap mulutnya dan seketika Frey kehilangan kesadaran. Salah satu dari orang itu memukul supir hingga pingsan dan mereka membawa Frey pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"No-nona Frey!"
BERSAMBUNG...