
Pagi ini matahari enggan menampakan sinarnya, kabut tebal serta rintik hujan menyambut pagi di pengahujung tahun. Freesia menarik nafasnya berkali-kali saat menatap keluar jendela, dia tak menyukai musim hujan, karena saat musim itu datang dia tak bisa pergike sekolah dengan sepedanya.
"Kenapa non?" tanya mbok Endang yang sejak tadi mengamati nona mudanya murung.
"Hujan mbok, aku malas ke sekolah," jawabnya seraya menoleh ke samping tepat di mana mbok Endang berada.
Mbok Endang hanya tersenyum, awalnya dia begitu terkejut saat tau nona mudanya masih sekolah, padahal yang mbok Endang tau jika nona mudanya sudah menikah. Namun mbok Endang mencoba menepis rasa penasarannya, melihat hubungan nona muda serta tuannya, mbok Endang mengira jika Josh dan Freesia menikah karena sebuah perjodohan.
"Nanti juga reda non, lebih baik non sarapan dulu," mbok Endang memberikan nampan berisi sandwich serta segelas susu hangat karena saat ini Freesia berada di ruang keluarga seraya menonton televisi.
"Makasih mbok," jawab Freesia dengan senyum.
"Mbok permisi ya non," pamitnya dan Freesia hanya mengangguk.
Freesia menaruh nampan itu di atas meja, dia lalu melipat kedua kakinya di atas sofa, bukannya sarapan Freesia justru fokus pada film kartun favoritnya, sebuah kartun yang mengisahkan kehidupan anak kecil bernama Masha dan seekor beruang sirkus.
Saking fokusnya menonton, Frey sampai tidak menyadari kedatangan Josh, pria itu duduk di sisi lain sofa dan menatap Freesia yang tengah tertawa.
"Frey, kau bisa telat ke sekolah," ucap Josh, tatapannya masih fokus pada wajah Freesia yang terlihat begitu cantik pagi ini.
Freesia menoleh, namun dia bersikap acuh, dia masih kesal saat Josh melarangnya makan seblak kemarin malam. "Tidak akan," jawabnya ketus, Frey lalu meraih sandwich dan memakannya, namun fokusnya masih pada layar besar yang berada di hadapannya.
Tin...tin..tin...
Freesia menaruh sandwich nya saat mendengar sebuah klakson di halaman rumah, gadis itu lalu beranjak dari duduknya dan meraih tas dan memakainya di punggung. "Aku berangkat," pamitnya tanpa menatap Josh sama sekali.
Saat Freesia berdiri, Josh merasa ada yang aneh dengan penampilan istri kecilnya. "Tunggu Frey," tahan Josh, saat Frey menghentikan langkahnya, Josh lalu berjalan mendekati gadis itu.
"Apa?" tanya Frey dengan wajah masam.
"Kau yakin mau ke sekolah?" Josh bertanya seraya menatap Fresia dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
"Tentu saja, mau kemana lagi kalau bukan sekolah!"
"Ganti rok mu itu!" Josh menunjuk rok abu-abu milik Freesia.
"Why?" pekik Freesia dengan alis mengkerut.
__ADS_1
"Itu terlalu pendek!" protes Josh.
Freesia menunduk, mengamati rok pendek yang berada di atas lututnya. "Semua siswi juga memakai rok pendek seperti ini Josh!"
"Tapi itu terlalu pendek, tidak pantas seorang murid memakai rok terlalu mini, belum lagi bajumu yang kekecilan itu!" kali ini Josh menunjuk baju putih Freesia yang memang terlihat kekecilan.
"Oh astaga, sejak kapan kau peduli dengan penampilanku. Sudahlah aku bisa telat!" Frey kembali melangkahkan kakinya keluar, dia yakin jika yang membunyikan klakson pasti Axel, karena kemarin pemuda itu bilang akan menjemputnya.
Josh mengikuti Freesia karena tak terima gadis itu mengacuhkannya begitu saja. "Frey tunggu, aku akan mengan..." kalimat Josh menggantung, pria itu tak melanjutkan kata-katanya saat melihat sepupunya berada di depan rumahnya.
"Morning Frey," sapa Axel dengan senyum terbaiknya.
"Hem. Ayo berangkat," ajak Freesia dengan wajah datar, gadis itu lalu masuk ke dalam mobil Lamborghini Veneno Roadster, mobil mewah yang hanya ada sembilan unit di seluruh dunia.
"Bye Josh," pamit Axel dengan senyum mengejek, pemuda itu lalu masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil dengan harga fantastis itu dengan kecepatan sedang.
"Kenapa aku merasa begundal itu sedang menantangku!" Josh berujar seraya menatap kepergian kedua anak muda itu.
Di dalam mobil, Freesia hanya diam, dia sedang memikirkan cara agar terhindar dari amukan fans Axel yang pasti akan melabraknya lagi setelah melihat mereka berangkat bersama.
Freesia menoleh dan menatap pemuda yang duduk di sebelahnya. "Axe, loe beneran suka sama gue?" tanya-nya tiba-tiba.
"Yes," jawab Axel mantap.
"Loe mau bantu gue?"
"Tentu queen."
"Axe, sumpah demi apapun gue mau sekolah dengan tenang, gue nggak mau ciwi-ciwi penggemar loe gangguin gue mulu gara-gara kita berangkat sekolah bareng."
"Lalu?" tanya Axel seraya melirik Freesia sekilas.
"Bisa nggak, loe tetep rahasiain pernikahan gue, tapi gue nggak usah berangkat sekolah bareng loe," pinta Freesia dengan wajah serius.
"No Frey!" tolak Axel dengan cepat.
"Please Axe."
__ADS_1
"Gue bakal pastiin mereka nggak akan ganggu loe!"
Freesia membuang nafasnya dengan kasar, gadis itu lalu menatap ke luar jendela guna menghilangkan kekesalannya. Pagi benar-benar pagi yang buruk, Frey harus berhadapan dengan dua pria egois dan keras kepala.
Setibanya di sekolah, Axel menurunkan Freesia di lobby sekolah, Axel sengaja tak mengajak Freesia ke parkiran karena takut Frey akan kehujanan saat mereka ke kelas nanti. Kedatangan Frey tentu saja menarik perhatian ciwi-ciwi, Freesia bahkan harus berlari menuju kelasnya karena takut akan di serang oleh fans Axel.
Setibanya di kelas, Frey memutar bola matanya malas saat mendapati Frily dan ketiga temannya berada di kelasnya.
"Lihatnya, itik buruk rupa sudah datang," ujar Frily, lalu ketiga temannya tertawa seraya menatap Freesia.
"Ngapain loe di kelas gue?" tanya Freesia acuh, gadis itu lalu meletakan tasnya di kursi.
"Ck, ck, sepertinya selain miskin loe juga tol**ol ya," hina Frily. "Kemarin jelas-jelas udah gue peringatin, loe harus jauhin Axel, tapi loe malah nantang gue ya dan pagi ini loe berangkat sama dia lagi!"
"Oh, masalah itu. Gue cuma numpang!" jawab Frey sekedarnya.
"Ck, dasar miskin!"
"Ya ya, gue memang miskin untuk itu gue perlu tumpangan ke sekolah. Puas kan, sekarang loe pergi dari kelas gue!" usir Frey seraya menunjuk pintu, di saat yang bersamaan Cia dan Kayli masuk ke dalam kelas dan menghampiri Freesia dengan wajah khawatir.
"Eh keong racun, ngapain kalian di sini?" tanya Cia dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukan urusan loe cewek jadi-jadian," balas Frily.
"Apa maksud loe ngomong gue cewek jadi-jadian?" Cia mulai terpancing, gadis tomboy itu mendekati Frily dengan wajah menakutkan.
"Ya loe kan emang cewek jadi-jadian, lihat aja penampilan loe. Rambut bondol, baju urakan, iuh jijay liatnya!"
Cia tiba-tiba menarik dasi Frily hingga tubuh gadis itu terhuyung ke depan. "Dengerin baik-baik keong racun, kalau loe berani menghina gue dan juga Frey, gue nggak akan segan-segan buat jadiin wajah cantik loe mirip bekicot sawah!" ancam Cia dengan senyum yang terlihat menakutkan.
"Le-lepasin gue," Frily berusaha melepaskan tangan Cia yang mencengkeram dasinya.
"Pergi loe sekarang!" usir Cia setelah melepaskan cengkeramannya.
Frily dan ketiga temannya lalu keluar dari kelas, namun sebelum keluar Frily membisikan sesuatu di telinga Freesia. "Ini belum berakhir!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1