
"Temani aku tidur!" pinta Frey, bukan ingin mencari kesempatan, tapi dia sungguh takut dengan petir, apalagi lampu padam membuatnya semakin ketakutan.
"Kau yakin?" sebenarnya Josh yang tak yakin, semenjak kejadian di hotel, bayangan tubuh polos Frey sering mengganggunya, Josh takut dia akan hilang kendali. Entah apa yang terjadi, saat bersama gadis kecil itu, Josh selalu ingin dekat dan menyentuhnya. Padahal saat bersama Jennifer dulu, Josh selalu bisa menahan untuk tidak menyentuh Jennifer.
"Hem, aku takut!"
"Baiklah," Josh kembali ke tempat tidur, pria itu lalu naik ke atas ranjang dan duduk sambil bersandar di headboard.
Duaarrr....
Petir kembali menyambar, di saat yang bersamaan Frey kembali memeluk Josh dengan sangat erat. "Jangan takut, ada aku di sini," ucap Josh menenangkan Freesia.
Freesia mengangkat kepalanya sehingga dia bisa melihat wajah Josh, seketika dia merasa tenang, wajah tampan itu selalu bisa membuatnya merasa aman. Josh sedikit menunduk, kini keduanya saling menatap dan menyelami netra masing-masing. Josh menelan ludahnya berkali-kali saat menatap bibir ranum milik Freesia, meski dalam kegelapam dia bisa melihat bibir itu dengan jelas. "Kau sangat cantik Frey," pujinya seraya membelai lembut wajah Freesia, perlahan Josh mulai mendekatkan wajahnya, pria itu lalu mencium bibir gadis kecilnya dengan lembut.
Pujian Josh seaakan membuat Freesia kehilangan akal, gadis itu membalas ciuman Josh, meski belum mahir dalam berciuman, namun Frey cukup pintar mengimbangi tautan lidah suami kontraknya. Keduanya lalu larut dalam ciuman yang semakin menuntut. Josh mendorong pelan tubuh Freesia hingga terbaring di atas ranjang, kini Josh berada di atas tubuh gadis kecilnya dan kembali mencium bibir mungil itu. Tangan kekarnya mulai nakal, meraba setiap inci tubuh Frey dan berakhir di dada. Perlahan, dia mulai memijat dua benda berukuran bola tenis, meski kecil namun mulai berisi.
"Ah...
******* kecil dari mulut Frey semakin membuat Josh bergairah, dia bahkan melupakan jika wanita yang sedang di sentuhnya hanyalah gadis kecil berusia 18 tahun, gadis kecil yang menjadi istri kontraknya yang dia yakini tidak akan pernah mencintainya. Tapi apa yang terjadi kini seolah bertolak belakang, entah sejak kapan perasaan itu muncul, Freesia selalu bisa membuat Josh nyaman, gadis itu bahkan bisa membuatnya tertawa lagi, dan kini bibir serta tubuh gadis kecil itu membuat Josh merasa candu.
Josh melepaskan ciumannya, pria itu manatap lembut wajah Frey yang berada di bawah kungkungannya. "Frey, aku menginginkanmu!" ucapnya dengan suara serak, tatapannya kini di selimuti kabut gairah.
Saat Josh akan kembali mencium bibir Freesia, gadis itu memalingkan wajahnya, ketakutan masih menghantui gadis kecil itu. "Cintai aku dulu, maka aku akan menyerahkan diriku seutuhnya!"
Hasrat yang menggebu-gebu perlahan mulai padam, pria itu mengecup kening gadis kecilnya, perasaan bersalah kembali menyusup di hatinya. "Maaf Frey, kau selalu membuatku ingin menyentuhmu." aku Josh, pria itu lalu merebahkan tubuhnya di samping Freesia. "Apa aku boleh memelukmu, aku janji hanya memeluknya saja."
Frey mengangguk, gadis itu memiringkan tubuhnya menghadap Josh, tangan mungilnya terulur memeluk pinggang suaminya. "Hanya peluk Josh, tidak lebih," tegasnya mengingatkan Josh.
"Ya, hanya peluk," Josh tersenyum, dia lalu menarik tubuh Frey ke dalam pelukannya.
"Josh," panggil Frey dengan suara samar karena wajahnya terhalang dada sang pria.
"Hem."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hem."
__ADS_1
"Dulu, saat kau tak sengaja menyerempetku, dari mana kau tau aku ada di toko bunga?" tanya Frey,sudah sejak lama dia sangat penasaran mengapa Josh bisa tau keberadaannya.
Josh diam sesaat, memorinya kembali ke masa lalu saat dia tak sengaja mencelakai Freesia. "Karena aku mengenalimu, kau gadis di toko bunga itu," jawab Josh sambil tersenyum.
"Bagaimana kau bisa mengenaliku?"
"Entah. Hanya saja tatapan matamu sangat aku kenali. Saat pertama kali aku datang ke toko bungamu, kau tersenyum begitu lebar, lesung pipi serta gigi gingsulmu terekam jelas di kepalaku, jadi saat aku tak sengaja menyerempetmu, saat itu juga aku langsung mengenalimu, kau gadis pemilik lesung pipi itu."
"Wah, jadi secara tidak langsung kau mengagumiku ya," sahut Frey penuh percaya diri.
"Lebih tepatnya mengagumi dua lesung pipimu!"
"Tapi mereka kan ada di wajahku, artinya sama saja kau mengagumiku."
"Terserah kau saja lah. Sudah malam cepat tidur!"
Freesia tersenyum lebar, rasanya dia ingin terbang dan merani-nari di angkasa, dia tak percaya jika Josh mengenalinya sejak awal mereka bertemu.
"Frey," pangil Josh setelah keduanya lama saling diam.
"Ya."
Frey sedikit melonggarkan pelukannya, gadis kecil itu lalu mengangkat kepalanya. "Sejak pertama aku melihatmu," akunya tanpa rasa malu.
"Oh ya. Apa aku setampan itu?" jawab Josh begitu percaya diri.
"Sangat tampan. Mata birumu seolah menenggelamkanku, untuk pertama kalinya jantungku berdebar-debar saat melihat lawan jenis. Sejak hari itu aku yakin jika aku telah jatuh cinta."
"Wah, kata-katamu sangat dalam Frey," goda Josh sambil menahan tawanya.
"Aku serius Josh!"
"Ya aku tau kau serius. Terima kasih karena telah mencintaiku," ucap Josh tulus. "Sudah malam, ayo kita tidur," imbuhnya seraya mengecup kening Freesia.
Freesia kembali memeluk Josh, gadis itu menyembunyikan wajahnya di dada Josh, sepertinya malam ini dia akan tidur nyenyak.
.
__ADS_1
.
.
Frey mengerjapkan matanya saat sinar mentari masuk ke dalam kamarnya, gadis itu lalu meraba sisi lain tempat tidur namun tak menemukan yanh di carinya.
"Apa dia sudah bangun?" tanyanya pada diri sendiri.
Frey lalu bangun, setelah merapikan tempat tidur gadis itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat melepaskan bajunya, Frey merasa ada yang aneh di lehernya. Frey lalu bercermin dan menemukan sebuah kalung berliontin daun semanggi menggantung indah di lehernya
"Josh," gumamnya seraya memegang liontin tersebut, dia tak percaya Josh akan membelikan kalung yang sudah lama sangat dia sukai.
Freesia harus cepat-capat mandi dan mencari Josh untuk mengucapkan terima kasih kepada pria itu. Setelah tubuhnya segar, Frey berlari turun menuju dapur, namun dia tak menemukan Josh di sana. Frey lalu pergi ke ruang olahraga, namun dia juga tak menemukan Josh. Akhirnya Frey kembali naik ke lantai dua, gadis itu menerobos masuk ke dalam kamar Josh, namun pria itu tak juga ada di sana.
Ceklek...
Frey menoleh saat dia mendengar suara pintu terbuka, mata gadis itu membola sempurna saat melihat Josh keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya. Dada bidang serta rambut basah Josh membuat Frey enggan untuk menyiakan pemandangan tersebut.
"Ada apa Frey?" tanya Josh, pria itu sepertinya tidak malu saat Frey melihatnya dalam keadaan setengah telan*jang.
"Eh anu," Frey tiba-tiba gugup, namun dia segera teringat maksud kedatangannya. "Kalung ini."
"Ya itu hadiah untukmu," potong Josh dengan cepat.
"Tapi Josh."
"Terima itu dan pakailah! Tidak ada penolakan Frey!"
"Hem, terima kasih Josh."
"Sama-sama."
Frey hendak keluar, namun dia ingin memberikan sesuatu kepada Josh. Gadis itu berlari kecil ke arah Josh.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir Josh. "Sekali lagi terima kasih," ucap Frey, gadis itu lalu berlari keluar dari kamar Josh.
__ADS_1
"Kau sangat menggemaskan Love."
BERSAMBUNG...