
Anne benar-benar frustrasi menghadapi Jo yang belum juga sadarkan diri. Anne heran kenapa pria itu begitu lemah dan sampai pingsan hanya karena Anne mengajaknya menikah, bukankah sejak dulu hal itu yang selalu Jo inginkan.
Anne duduk di atas ranjang sambil menunggu Jo sadar. Dan kebetulan sekali Frey menghubunginya di saat dia sedang bosan. Anne segera mengangkat panggilan vidio dari keponakannya.
"Hello bibi," sapa Frey dengan senyum penuh kejahilan.
"Hello keponakan," jawab Anne tak bertenaga.
""Oh my god, bibi terlihat sangat lemas dan tidak memiliki tenaga, Jo pasti tidak membiarkan bibi istirahat ya," goda Frey dengan nakalnya.
Anne mendesaah karena tebakan Frey meleset jauh. "Tidak istirahat apanya. kami tidak melakukan apapun!' jawab Anne malas.
"Why? Bagaimana bisa? Apa bibi menolaknya lagi? Come on bi, bibi jauh-jauh terbang ke sana untuk apa kalau akhirnya bibi menolaknya lagi!" Frey menceramahi bibinya dengan panjang lebar.
"Bukan Frey!"
"Lalu?"
"Jo pingsan saat melihat bibi melepas baju," jawab Anne dengan pelan karena dia sangat malu.
"What? Pingsan? Jonathan pingsan?" sahut Josh yang ternyata ada di sebelah Frey, pria itu tak bisa menahan tawanya mendengar cerita Anne, sepertinya Josh mendapatkan senjata untuk menjahili Jo.
"Frey kenapa kau tak bilang ada Josh di sana!" protes Anne, sebelum Frey menjelaskannya Anne lebih dulu menutup panggilan vidio tersebut karena sangat malu.
Sementara di Jakarta, Frey sampi memukul lengan Josh karena pria itu tak henti-hentinya tertawa. Josh bahkan sampai menangis karena terlalu banyak tertawa.
"Berhenti Josh, kau sangat menyebalkan!" ujar Frey kesal.
"Maaf Love, aku tidak bisa berhenti tertawa. Astaga, Jo sangat polos. Apa dia tidak pernah melihat tubuh wanitaa sebelumnya? Bisa-bisanya dia pingsan di saat-saat terpenting!" jawab Josh seraya menghapus air di sudut matanya.
"Apa hubungannya sudah pernah melihat tubuh wanita polos dengan Jo pingsan?"
"Kalau sudah pernah melihatnya otomatis Jo tidak akan pingsan karena sudah terbiasa!"
"Oh, jadi begitu. Berarti sebelumnya kau sering melihat tubuh wanita lain sehingga malam pertama kita berjalan dengan lancar tanpa harus kau pingsan saat melihat tubuh bugiilll ku, begitu maksudmu!"
Josh menundukan kepalanya sambil menepuk mulutnya sendiri. Bisa-bisanya dia keceplosan dan menggali kuburannya sendiri. "Bukan begitu Love maksudku," ucap Josh membela diri.
"Lalu apa maksudmu?"
"Maksudku, Jo pasti kurang berpengalaman!"
"Jadi kau sudah sangat berpengalaman ya?" cecar Frey dengan wajah marah.
__ADS_1
"Sial, aku salah bicara lagi," batin Josh.
"Bukan juga sayang. Aku tidak munafik, sebelum menikah aku sering melihat film blue dan belajar dari sana. Jadi saat kita menikah aku sudah lihai!"
"Yakin hanya film blue, bukan karena kau sudah melakukannya bersama wanita lain?" tanya Frey tak percaya, semenjak hamil dia memang sering cemburu tak jelas pada suaminya.
"Sumpah demi apapun Love. Kau yang sudah merenggut keperjakaanku!"
"Awas saja sampai kau bohong. Ularmu tidak akan bisa bangun lagi!" ancam Frey sambil menunjuk ular yang masih meringkuk di sarangnya.
"Jangan begitu Love, kalau ularku tidak bangun bagaimana dengan mu? Kau pasti akan merindukan bisa ularku?"
"Aku bisa mencari ular yang lain ," jawab Frey tanpa rasa bersalah.
"Silahkan saja, aku akan mengelem lembahmu sampai rapat!!"
Secara tak sadar Frey memegangi lembahnya sendiri, tiba-tiba dia merinding dengan ancaman Josh.
"Nanti bayi kita keluar dari mana?" Frey bertanya dengan wajah sangat polos.
"Lewat perut!"
"Jangan sampai. Aku ingin melahirkan secara normal!"
"Ya, maafkan aku sayangku!"
"Tidak semudah itu. Kau harus di hukum. Malam ini ular besarku akan melilitmu sampai kau lemas."
"Tidaaaaakkkkk!"
.
.
Sudah hampir tiga jam Jo bersembunyi di bawah selimutnya. Dia sangat malu mengingat kejadian sebelumnya. Bisa-bisanya dia pingsan lagi setelah Anne melamarnya. Sungguh pria yang sangat lemah.
Jo sangat ingin ke kamar mandi, namum dia menahannya karena sejak tadi Anne sama sekali tak bergeser dari tempat tidur.
"Aku tau kau sudah bangun Jo," ucap Anne datar, wanita itu sedang duduk sambil membaca novel online. "Dengar Jo, kalau sampai pada hitungan ketiga kau tak bangun maka aku akan pulang dan menikahi pria lain!" ancam Anne dengan serius.
"Tidak boleh!" dengan cepat Jo menyibak selimutnya, namun detik selanjutnya dia menarik selimutnya lagi sampai ke leher. "Jangan pergi," ucapnya seperti kucing kecil yang menggemaskan.
Anne menaruh ponselnya, dia lalu menghadap Jo sambil menatapnya. "Kalau begitu jangan sembunyi lagi. Kita harus bicara!"
__ADS_1
Jo berangsur mulai duduk meski dia belum memiliki keberanian untuk menatap Anne. "Aku sangat malu," jawabnya putus asa.
"Itu tidak penting Jo. Sekarang aku hanya butuh jawabanmu. Apa kuau bersedia menikahiku?"
Perlahan Jo mulai mengangkat kepalanya dan menatap Anne dengan serius. "Kau tidak sedang mempermainkanku kan An?" tanyanya takut, dia tak ingin di permainkan lagi oleh Anne, dia tidak mau jadi korban PHP lagi.
"Aku serius. Ibu menyuruhku untuk membawamu pulang dan melamarku secara resmi!" jawab Anne tanpa keraguan.
Jo meraih tangan Anne dan mengusapnya perlahan. "Aku tidak sedang bermimpi kan Ann? Kau sungguh memintaku untuk menikahimu kan Ann?"
Anne tersenyum, dia sangat gemas melihat wajah Jo yang sangat imut. "Aku serius Jo, kalau tidak untuk apa aku terbang sejauh ini demi menyusulmu," jawab Anne sambil mengusap punggung tangan Jo.
"Ann, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi," Jo berusaha menahan air matanya, namun buliran bening itu lolos begitu saja tanpa seizinnya. Dia sangat bahagia dan mengekspresikan kebahagiaannya lewat air mata. Sebelumnya dia sudah putus asa dan berhenti berharap pada Anne, dia memutuskan untuk menjalani hidupnya tanpa Anne, dia akan merelakan Anne dan bertekad untuk membujang seumur hidupnya.
Anne terharu karena untuk pertama kalinya seorang pria menangis untuknya, Anne lalu merengkuh tubuh Jo dan memeluknya dengan erat, sesekali Anne mengusap punggung Jo dengan lembut.
"Jangan menangis. Lebih baik kita bersiap dan pulang ke Indonesia. Maggie sedang sakit dan ingin melihat kita segera menikah, aku khawatir dia tak bisa melihat kita menikah," ucap Anne sedih, tiba-yiba dia teringat Maggie yang kondisinya semakin tidak stabil. Meski sudah pulang dari rumah sakit namun dokter tetap mamantau kesehatan Maggie, mereka bilang karena usia Maggie tidak bisa menjalani operasi jantungnya. Kini Maggie hanya mengandalkan obat-obatan yang mencegah jantungnya bermasalah lagi.
Jo melepaskan pelukannya, dia lalu mengusap air mata di wajah Anne. "Ayo kita pulang dan menikah!" ucapnya tegas tanpa keraguan sedikitpun.
"Terima kasih Jo!"
"Aku mencintaimu Ann!
"Aku juga mencintaimu Jo!"
Deg..
Jo membelalakan matanya, benarkah Anne baru saja mengatakan jika dia mencintai Jo?
"Aku tidak salah dengar kan Ann?"
Anne menggeleng dengan cepat. "Tidak Jo, aku mencintaimu!"
"Anne aku...
Buk...
Jo pingsan lagi...
"Jonathan!!!!!!!!
BERSAMBUNG..
__ADS_1
Beberapa part ini othor selesain konfliknya Anne dan Jo dulu ya gays...