
Freesia tak bisa menolak perintah Maggie saat Danish datang ke vila milik nenek nya dan mengajaknya makan siang di luar. Danish terlihat begitu bersemangat, pria itu bahkan mengemudikan mobilnya sendiri hari ini agar bisa berduaan dengan Freesia.
"Nona Freesia apa kau memiliki kekasih?" tanya Danish tanpa mengalihkan perhatiannya, tatapannya lurus ke depan mengamati padatnya jalan raya.
"Kenapa bertanya?" sahut Frey acuh tak acuh.
"Hanya bertanya saja. Karena aku memiliki kekasih, kau juga pasti memilikinya kan? Aku pernah melihatmu di berita bersama seorang pilot," ujar Danish, kali ini pria itu melirik Frey meski hanya sekilas.
"Lalu kenapa mengajakku keluar jika kau sudah memiliki kekasih?"
Danish menghela nafas berat, pria itu nampak sedih. "Aku ingin minta bantuanmu," ucapnya sedikit ragu.
"Bantuan?" ulang Frey penuh tanda tanya.
"Ya. Ayah ku tak merestui kami karena kekasihku bukan dari keluarga kaya. Ayah terus saja menjodohkan ku dengan anak rekan bisnisnya. Jika kau tidak keberatan aku ingin kita berpura-pura menerima perjodohan ini, setiap kita keluar aku akan menemui kekasihku dan kau bisa menemui kekasihmu, bagaimana?"
Frey diam sejenak, jadi ini alasan Danish terlihat genit di depan Adijaya, pria itu hanya ingin mengalihkan perhatian ayahnya agar tidak curiga jika Danish masih menjalin hubungan dengan gadis yang tidak di sukai oleh ayahnya.
"Bagaimana kalau kita ketahuan? Oma selalu menyuruh pengawal untuk mengikutiku kemanapun aku pergi," Frey khawatir jika rencananya gagal bersama Danish dan imbasnya dia akan semakin lama berpisah dengan Josh.
"Asal kau setuju aku akan menjamin rahasia kita aman!"
Frey menatap Danish sekilas, meski dari samping namun Frey dapat melihat garis kesedihan di wajah Danish. Sepertinya tidak ada salahnya untuk menerima tawaran Danish, itung-itung Frey sedang membantu Danish karena nasib percintaan mereka sama-sama tragis. "Baiklah kalau begitu."
"Terima kasih nona Freesia!"
"Frey, panggil saja begitu."
"Baik Frey!"
Setengah jam kemudian mereka tiba di sebuah restoran Jepang yang sangat terkenal di Jakarta, Danish sendiri sudah memesan ruang VIP dengan bilik tertutup agar dia leluasa berbicara dengan Freesia. Danish mengajak Frey masuk ke dalam ruangan tersebut sementara kedua pengawal Frey menunggu di depan ruangan tersebut.
Frey terkejut saat melihat seorang wanita cantik berada di ruangan itu, lalu Danish membisikan sesuatu di telinga Frey. "Dia kekasihku," ucapnya pelan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku keluar sebentar!
Frey lalu keluat dari ruangan itu dan menghampiri kedua pengawalnya.
"Kalian bisa pesan makan juga," ucap Frey seraya menyerahkan kartu berwarna hitam miliknya,.lebih tepatnya kartu pemberian Josh yang masih dia simpan. "Pakai ini dan makan semua yang kalian inginkan!"
"Tapi nona," pengawal tersebut terlihat ragu.
"Aku tidak akan kabur, lagi pula aku bersama Danish. Aku juga tidak akan memberi tau oma. Tenang saja, cepat makan Kalian pasti lapar kan?"
Salah satu pengawalnya lalu menerima kartu tersebut. "Baik nona, terima kasih banyak!"
"Hem," Frey lalu kembali ke ruangan yang sudah di pesan Danis, sebelumnya dia sengaja memberikan kartu milik Josh agar Maggie tidak curiga jika Frey menyuruh pengawalnya untuk pergi. Frey menghampiri Danish dan wanita yang duduk di sampingnya.
"Kau dari mana Frey?" tanya Danish penasaran.
"Mengusir pengawalku," jawab Frey sambil tersenyum.
"Ah ya Frey, kenalkan ini Nadia, dia kekasihku," kata Danish memperkenalkan kekasihnya.
"Terima kasih Freesia, Danish sudah menceritakannya. Maaf karena melibatkanmu dalam hubungan kami."
"Tidak masalah Nadia, kalian mengingatkanku dengan kisah cintaku."
"Ya, aku juga sudah mendengar itu. Semoga suatu saat kalian bisa bersama lagi ya!"
"Terima kasih doanya."
Ketiga orang itu lalu menikmati waktu mereka..Frey tak merasa keberatan meski harus melihat kemesraan Danish dan Nadia. Hanya saja tiba-tiba Frey merindukan Josh, ah rasanya dia ingin di peluk oleh Josh.
"Danish boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Frey setelah mereka selesai makan.
"Katakan Frey!"
__ADS_1
"Em, apa kau bisa memberi tau informasi mengenai pengawalmu?" ucap Frey setengah ragu.
"Pengawal yang mana, pengawalku banyak Frey?"
"Yang kemarin ikut saat kita bertemu di restoran. Yang wajahnya tampan dan terlihat garang," jelas Frey.
"Ah Luke," pekik Danish setelah Frey mengatakan kata garang. Karena di antara pengawalnya memang hanya Luke yang memiliko wajah garang. "Kau menyukainya Frey?"
"Bukan aku," sangkal Frey dengan cepat. "Temanku tertarik dengan pengawalmu saat kita tidak sengaja bertemu," jelas Frey.
"Oh. Bilang temanmu untuk melupakan Luke. Dia pria yang berbahaya Frey. Dan lagi, sebulan lagi kontrak kerjanya sudah berakhir, mungkin dia akan segera pergi dari negera ini."
"Berbahaya?" tanya Frey dengan mata menyipit.
"Katanya dia prajurit bayaran," ucap Danish sambil berbisik.
Frey menutup mulutnya, mengingat wajah garang Luke saja sudah membuat Frey merinding, jika benar Luke adalah pria yang berbahaya lebih baik Frey tidak memberikan informasi lagi kepada Jovanka.
"Oh ya Frey, kau tidak ingin bertemu kekasihmu?" sela Nadia.
Frey menggeleng lemah. "Untuk sekarang tidak," jawab Frey dengan senyum sedih, bukan dia tidak mempercayai Danish, hanya saja Frey tidak ingin gegabah dan menghancurkan rencana yang sudah dia susun dengan rapi. Jika suatu saat rencananya bersama Danish ketahuan oleh Maggie, maka Frey bisa membela diri karena dia tidak bertemu dengan orang lain, biarlah Danish yang menanggungnya sendiri. Anggap saja Frey picik, namun Frey menganggapnya sebagai simbiosis mutualisme, Danish bisa bertemu kekasihnya dengan nyaman dan Frey bisa menumbalkan Danish jika rencana mereka ketahuan. Impas bukan?
Setelah bertemu kekasihnya, Danish mengantarkan Frey pulang ke villa. Maggie tersenyum lebar saat melihat kedekatan Frey dan Danish. Wanita tua itu juga mengajak Danish untuk mampir, untung saja Danish memiliki alasan untuk menolak.
"Bagaimana Frey, apa Danish baik?" tanya Maggie dengan antusias.
"Hem, lumayan. Dia juga enak di ajak ngobrol oma,' jawab Frey jujur, meski kesan pertamanya pada Danish jelek, namun hari ini Frey melihat sisi lain dari seorang Danish. Pria itu juga sepertinya tipe pria penyayang, mendengar cerita jika Danish dan Nadia sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, Frey dapat menyimpulkan jika Danish pria yang setia.
"Bagaimana kalau kalian bertunangan?"
Frey tersenyum getir, akhirnya Maggie membuka topengnya. Sejak awal Frey yakin jika Maggie merencanakan sesuatu dan hari ini Frey yakin Maggie ingin menikahkannya demi bisnis.
"Oma, kita baru kenal dua hari. Dan lagi sebentat lagi Frey masuk kuliah. biarkan kami mengenal lebih jauh baru setelah itu kita bahas masalah pertunangan!"
__ADS_1
"Hem. Baiklah. Oma akan membicarakan lagi setelah kalian lebih dekat," Maggie terpaksa menyetujuinya agar Frey tidak membangkangnya dan tetap berada di dalam kendalinya.
BERSAMBUNG...